Bintang-bintang mulai bermunculan. Langit sudah mulai hitam. Sepi. Wussh...!!. Angin bertiup kencang pada malam itu. Linda hanya duduk termenung di ruang tamu. Tiba-tiba... tok..tok..tok.. terdengar suara orang mengetuk pintu.
huhh..siapa ya, malam-malam begini??
“iya tunggu sebentar!!”
Linda pun beranjak dari tempat ia duduk dan berjalan menuju pintu. Tetapi saat membuka pintu. Kosong. Tak ada satu pun orang di depannya. Linda terheran. Anneh..!! pikirnya. Linda melangkahkan kaki ke depan bermaksud ingin mencari orang usil yang mungkin sedang mengerjainya. Tapi hasilnya nihil. Memang tidak ada siapa pun di sana. Ah..mungkinkah aku sedang berhalusinasi??. Linda pun berbalik dan kembali masuk ke dalam rumahnya. Saat berdiri tepat di depan pintu. Shrrekk.... Linda merasa ia telah menginjak sesuatu. Dan ternyata benar. Sebuah amplop putih yang ia injak.
“Amplop siapa ini?? Apa amplop ini ditujukan kepadaku?? Atau mungkin salah alamat??” Tanya Linda dalam hati.
Untuk putriku Meylinda Putry Cecylia.
Showing posts with label kiriman Siswa. Show all posts
Showing posts with label kiriman Siswa. Show all posts
Tuesday, July 23, 2013
Tragedi Ramadhan Fair
Jika aku dapat meminta agar hidupku sempurna,
itu merupakan godaan menggiurkan-
namun aku akan terpaksa menolak,
karena dengan begitu aku tidak dapat lagi
menarik pelajaran dari kehidupan.
(Allyson Jones)
Seperti tahun kemarin, Ogi selalu kebagian ikutan heboh wara-wiri jadi panitia kegiatan Ramadhan di sekolahnya tahun ini. Segala macem disiapkan. Pokoknya sibuk. Tapi bukan berarti Ogi ditempatkan di bagian ADM lho, alias angkat, dorong, manggul. Hih, itu sih kebangetan aja ketua panitianya kalo anak seganteng Ogi kudu dipajang di bagian itu. Harusnya kan di bagian jagain sendal dan ngecengin beduk. Hi..hi..hi..
Oya, Ogi kebetulan jadi seksi acara. Termasuk bagian yang penting di kepanitiaan. Jadi kalo acaranya jeblok maka yang pertama kali ditunjuk hidung adalah seksi acara. Itu sebabnya Ogi ketar-ketir banget menghadapi ajang Ramadhan Fair di sekolahnya tahun ini. Selain ditempatkan di posyang rawan, Ogi malah jadi ketuanya. Coba, siapa yang nggak resah dan gelisah. Apalagi di situ bercokol Jamil. Anak yang penyakit sablengnya kumat kalo pas gabung sama Ogi. Waduh!
itu merupakan godaan menggiurkan-
namun aku akan terpaksa menolak,
karena dengan begitu aku tidak dapat lagi
menarik pelajaran dari kehidupan.
(Allyson Jones)
Seperti tahun kemarin, Ogi selalu kebagian ikutan heboh wara-wiri jadi panitia kegiatan Ramadhan di sekolahnya tahun ini. Segala macem disiapkan. Pokoknya sibuk. Tapi bukan berarti Ogi ditempatkan di bagian ADM lho, alias angkat, dorong, manggul. Hih, itu sih kebangetan aja ketua panitianya kalo anak seganteng Ogi kudu dipajang di bagian itu. Harusnya kan di bagian jagain sendal dan ngecengin beduk. Hi..hi..hi..
Oya, Ogi kebetulan jadi seksi acara. Termasuk bagian yang penting di kepanitiaan. Jadi kalo acaranya jeblok maka yang pertama kali ditunjuk hidung adalah seksi acara. Itu sebabnya Ogi ketar-ketir banget menghadapi ajang Ramadhan Fair di sekolahnya tahun ini. Selain ditempatkan di posyang rawan, Ogi malah jadi ketuanya. Coba, siapa yang nggak resah dan gelisah. Apalagi di situ bercokol Jamil. Anak yang penyakit sablengnya kumat kalo pas gabung sama Ogi. Waduh!
Asal Mula Puasa
Di bulan suci yang penuh berkah ini, adalah momen untuk menjalankan ibadah puasa bagi umat Islam. Ada kalanya puasa akan lebih bermakna bila kita mengetahui bagaimana asal mula puasa.
Diharapkan makna puasa bukan menjadi rutinitas yang dilakukan tiap tahun.
Kata saum makna aslinya berpantang dalam arti sebenar-benarnya (al-imsaku ‘anil-fi’li), mencakup pula berpantang makan, bicara, dan berjalan. Seekor kuda yang berpantang makan dan berjalan, disebut saim. Demikian pula angin pada waktu mereda, dan siang hari pada waktu mencapai tengah-tengahnya, juga disebut saum (R).
Kata saum dalam arti berpantang bicara, digunakan oleh Qur’an Suci dalam wahyu Makkiyah permulaan: “Katakanlah, aku bernazar puasa kepada Tuhan Yang Maha-pemurah, maka pada hari ini aku tak berbicara dengan siapa pun” (19:26). Menurut istilah syari’at Islam, kata saum atau siyam berarti puasa, atau berpantang makan dan minum dan hubungan seksual mulai waktu fajar hingga matahari terbenam.
Aturan puasa dalam agama Islam:.....
Islam di Amerika: Sebuah Keajaiban Bernama 9/11
“Idza ja-a nashrullahi wal fathu,
wara aytannas sayad khuluna fi dinillahi afwaja..”
(An-Nashr: 1-2)
(Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu akan melihat manusia masuk ke dalam agama Allah
dengan berbondong-bondong…”.
Sejumlah data yang dikomposisikan oleh Demented Vision (2007), dari sebuah observasi di Amerika Serikat tentang perkembangan jumlah pemeluk agama-agama dunia menarik untuk dicermati. Dari data observasi itu, terdapat angka-angka yang menunjukkan perbandingan pertumbuhan penganut Islam dan Kristen di dunia. Lembaga itu mencatat, pada tahun 1900, jumlah pemeluk Kristen adalah 26,9% dari total penduduk dunia, sementara pemeluk Islam hanya 12,4%. 80 tahun kemudian (1980), angka itu berubah. Penganut Kristen bertambah 3,1% menjadi 30%, dan Muslim bertambah 4,1% menjadi 16,5% dari seluruh penduduk bumi. Pada pergantian milenium kedua, yaitu 20 tahun kemudian (2000), jumlah itu berubah lagi tapi terjadi perbedaan yang menarik. Kristen menurun 0,1% menjadi 29,9% dan Muslim naik lagi menjadi 19,2%. Pada tahun 2025, angka itu diproyeksikan akan berubah menjadi: penduduk Kristen 25% (turun 4,9%) dan Muslim akan menjadi 30% (naik pesat 10,8%) mengejar jumlah penganut Kristen. Bila diambil rata-rata, Islam bertambah pemeluknya 2,9% pertahun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk bumi sendiri yang hanya 2,3% pertahun. 17 tahun lagi dari sekarang, bila pertumbuhan Islam itu konstan, dari angka kelahiran dan yang masuk Islam di berbagai negara, berarti prediksi itu benar, Islam akan menjadi agama nomor satu terbanyak pemeluknya di dunia, menggeser Kristen menjadi kedua. World Almanac and Book of Fact, #1 New York Times Bestseller, mencatat jumlah total umat Islam sedunia tahun 2004 adalah 1,2 milyar lebih (1.226.403.000), tahun 2007 sudah mencapai 1,5 milyar lebih (1.522.813.123 jiwa). Ini berarti, dalam 3 tahun, kaum Muslim mengalami penambahan jumlah sekitar 300 juta orang (sama dengan jumlah umat Islam yang ada di kawasan Asia Tenggara).
wara aytannas sayad khuluna fi dinillahi afwaja..”
(An-Nashr: 1-2)
(Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu akan melihat manusia masuk ke dalam agama Allah
dengan berbondong-bondong…”.
Sejumlah data yang dikomposisikan oleh Demented Vision (2007), dari sebuah observasi di Amerika Serikat tentang perkembangan jumlah pemeluk agama-agama dunia menarik untuk dicermati. Dari data observasi itu, terdapat angka-angka yang menunjukkan perbandingan pertumbuhan penganut Islam dan Kristen di dunia. Lembaga itu mencatat, pada tahun 1900, jumlah pemeluk Kristen adalah 26,9% dari total penduduk dunia, sementara pemeluk Islam hanya 12,4%. 80 tahun kemudian (1980), angka itu berubah. Penganut Kristen bertambah 3,1% menjadi 30%, dan Muslim bertambah 4,1% menjadi 16,5% dari seluruh penduduk bumi. Pada pergantian milenium kedua, yaitu 20 tahun kemudian (2000), jumlah itu berubah lagi tapi terjadi perbedaan yang menarik. Kristen menurun 0,1% menjadi 29,9% dan Muslim naik lagi menjadi 19,2%. Pada tahun 2025, angka itu diproyeksikan akan berubah menjadi: penduduk Kristen 25% (turun 4,9%) dan Muslim akan menjadi 30% (naik pesat 10,8%) mengejar jumlah penganut Kristen. Bila diambil rata-rata, Islam bertambah pemeluknya 2,9% pertahun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk bumi sendiri yang hanya 2,3% pertahun. 17 tahun lagi dari sekarang, bila pertumbuhan Islam itu konstan, dari angka kelahiran dan yang masuk Islam di berbagai negara, berarti prediksi itu benar, Islam akan menjadi agama nomor satu terbanyak pemeluknya di dunia, menggeser Kristen menjadi kedua. World Almanac and Book of Fact, #1 New York Times Bestseller, mencatat jumlah total umat Islam sedunia tahun 2004 adalah 1,2 milyar lebih (1.226.403.000), tahun 2007 sudah mencapai 1,5 milyar lebih (1.522.813.123 jiwa). Ini berarti, dalam 3 tahun, kaum Muslim mengalami penambahan jumlah sekitar 300 juta orang (sama dengan jumlah umat Islam yang ada di kawasan Asia Tenggara).
Saturday, July 20, 2013
Keajaiban Al-Qur'an: Sungai di dalam Laut
Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut
Mudah-mudahan fenomena alam ini makin menambah keimanan kita, dan menjdikan kita terus bersyukur kepada Allah yang telah memberi jalan kepada kita untuk belajar dan mengamalkan ayat-ayatNYA.

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari........
Sungai dalam Laut
Mudah-mudahan fenomena alam ini makin menambah keimanan kita, dan menjdikan kita terus bersyukur kepada Allah yang telah memberi jalan kepada kita untuk belajar dan mengamalkan ayat-ayatNYA.

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari........
Keutamaan Bulan Ramadhan
Marhaban ya ramadhan
Alhadulillah, Marilah kita paqiatkan segala puji atas anugrah yang sangat b,esar dari
tuhan atas nikmat Bulan Ramadhan yang kembali memberikan kita kesempatan untuk
menjumpai lagi, Sholawat dan salam kita haturkan pada junjungan kita nabi agung
muhammad SAW ynag telah membawa kita dari zamanjahiliah ke zaman penuh dengan
barkah ilmu dari beliau ini.
Marhaban YaRamadhan
Bulan Ramadhan kembali kita jumpai, marilah dari sana kita gali sedalam dalamnya
tentang $emua keutamaau yang ada di Bulan Ramadhan ini........
Alhadulillah, Marilah kita paqiatkan segala puji atas anugrah yang sangat b,esar dari
tuhan atas nikmat Bulan Ramadhan yang kembali memberikan kita kesempatan untuk
menjumpai lagi, Sholawat dan salam kita haturkan pada junjungan kita nabi agung
muhammad SAW ynag telah membawa kita dari zamanjahiliah ke zaman penuh dengan
barkah ilmu dari beliau ini.
Marhaban YaRamadhan
Bulan Ramadhan kembali kita jumpai, marilah dari sana kita gali sedalam dalamnya
tentang $emua keutamaau yang ada di Bulan Ramadhan ini........
Menjadi Manusia yang Pandai Bersyukur
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah. Pada kesempatanyang berbahagia ini,
saya mengingatkan utamanya kepada diri saya pribadi dan juga kepada kaum muslimin dan
muslimat pada umumnya, untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Alloh, dengan
sebenar-benamya takwa yaitu ikhlas menjalankan ape yang ielah diperintahkan-Nya dan
meninggalkan apa yang telah dilarang. Kemudian marilah kita senantiasa mengungkapkan
rasa syukur kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian
banyak ni'mat. Jauh lebih banyak nikmat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan
kesanggupan kita untuk bersyukur. Sebagaimana telah Allah, firmankan dalam .......
saya mengingatkan utamanya kepada diri saya pribadi dan juga kepada kaum muslimin dan
muslimat pada umumnya, untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Alloh, dengan
sebenar-benamya takwa yaitu ikhlas menjalankan ape yang ielah diperintahkan-Nya dan
meninggalkan apa yang telah dilarang. Kemudian marilah kita senantiasa mengungkapkan
rasa syukur kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian
banyak ni'mat. Jauh lebih banyak nikmat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan
kesanggupan kita untuk bersyukur. Sebagaimana telah Allah, firmankan dalam .......
Friday, July 19, 2013
Indahnya Kesabaran
Apabila manusia melihat keadaan Abdullah bin Hudzafah bin Qais radhiyallahu ‘anhu ketika Raja Romawi hendak menghalanginya dari agamanya, niscaya mereka kan melihat kedudukan yang mulia dan laki-laki yang agung.
Umar bin Khattab radhiayallahu ‘anhu memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” Raja Romawi berkata, “Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?” Abdullah bin Hudzafah menjawab, “Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sekejap mata pun.” Raja Romawi berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Ia menjawab,.......
Umar bin Khattab radhiayallahu ‘anhu memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” Raja Romawi berkata, “Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?” Abdullah bin Hudzafah menjawab, “Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sekejap mata pun.” Raja Romawi berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Ia menjawab,.......
KISAH TELADAN KEPADA ORANG TUA
Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan kekufuran. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita.
Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku benci. Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku mengadu.
“Wahai Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku. Hari ini, dia berkomentar tentang dirimu yang aku benci. Mohonlah kepada Allah supaya memberi hidayah ibu Abu Hurairah”. Rasulullah bersabda : “Ya, Allah. Tunjukilah ibu Abu Hurairah”. Aku keluar dengan hati riang karena do’a Nabi. Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu terbuka. Ibuku mendengar kakiku dan berkata : “Tetap di situ Abu Hurairah”. Aku mendengar kucuran air. Ibu-ku sedang mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya serta menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia berkata :.......
Pagar Sepiring Nasi
Kuliah Ahad Shubuh, di masjid kampung saya, topiknya berat: Pola Konsumsi Muslim, menukil pendapat Dr. Yusuf Qaradhawi. Tetapi, yang ingin saya sampaikan kali ini bukan materi berat itu, melainkan sebuah humor, yang jadi selingan ustadz pengisi siraman rohani pagi itu. Bukan karena lucu, melainkan justru karena sangat bermakna.
Dialog ini diambilnya dari lawakan Srimulat, entah kapan. Saya sendiri rasanya belum pernah mendengarnya. Ustadz itu kemudian bercerita -- dengan tokoh yang saya reka sendiri:
Asmuni bertanya pada teman-temannya, “Ada yang tahu nggak, apa yang paling aman bisa menjaga rumah kita dari gangguan orang?”
Sejenak kemudian, Tarsan yang tinggi besar menjawab, dengan gaya sangat meyakinkan, “Yang paling aman adalah buat pagar yang sangat tinggi, biar orang lain tidak bisa memasuki atau melompat ke dalam halaman rumah kita.”
Asmuni tertawa. “Ha ha ha! Syalahh!!”
Timbul menimpali jawab. “Pelihara aja anjing herder yang paling gedhe dan galak! Ya, kan Asminu? Eh, Asmuni?”
Asmuni tertawa lagi. “Ha ha ha! Sudah ngawur, salah pula!!”
Bisa ditebak, akhirnya tidak ada yang bisa memberi jawaban yang menurut Asmuni benar. Semua menyerah. “Apa dong jawabnya?” ........ tanya mereka.
Penciptaan Manusia Pertama Menurut Alquran
Pendahuluan
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah (2) : 2-3)
Ayat di atas jelas menerangkan pada kita bahwa Alquran tidak ada yang bisa diragukan lagi. Segala yang ada di dalam Alquran adalah sudah pasti benar. Kebenaran Alquran ini telah banyak terbukti oleh ilmu pengetahuan manapun. Bahkan banyak persoalan pada suatu ilmu pengetahuan yang baru terpecahkan dari Alquran. Tidak hanya ilmuwan muslim yang mengeksplor Alquran dan menjadikannya rujukan ilmu pengetahuan dan sains, tapi juga ilmuwan-ilmuwan barat yang mengembangkan teori, hukum, dan fenomena-fenomena alam yang tidak bisa dipecahkan. Alquran adalah mukjizat terbesar sepanjang masa, karena ........
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah (2) : 2-3)
Ayat di atas jelas menerangkan pada kita bahwa Alquran tidak ada yang bisa diragukan lagi. Segala yang ada di dalam Alquran adalah sudah pasti benar. Kebenaran Alquran ini telah banyak terbukti oleh ilmu pengetahuan manapun. Bahkan banyak persoalan pada suatu ilmu pengetahuan yang baru terpecahkan dari Alquran. Tidak hanya ilmuwan muslim yang mengeksplor Alquran dan menjadikannya rujukan ilmu pengetahuan dan sains, tapi juga ilmuwan-ilmuwan barat yang mengembangkan teori, hukum, dan fenomena-fenomena alam yang tidak bisa dipecahkan. Alquran adalah mukjizat terbesar sepanjang masa, karena ........
EMPAT PULUH DUA KELEBIHAN Berselawat kepada nabi Muhammad s.a.w.
Al-Sheikh Abdul Qadir Al-Jelani Al-Hasani menyatakan kelebihan berselawat ke atas nabi di dalam kitabnya Al-Safinah al-Qadiriyah. Beliau meriwayatkan drpd Ibnu Farhun berkata ” Berselawat kepada nabi Muhammad s.a.w. itu mempunyai empat puluh dua kelebihan. Perkara ini tertulis dalam kitabnya Hadaiq Al-Anwar”
1. melaksanakan perintah Allah s.w.t
2. bersamaan dengan selawat Allah s.w.t. kepada Rasulullah S.a.w.
3. mendapat ganjaran 10x selawat drpd Allah atas setiap kali selawat yang diucapkan ( selawat drpd Allah s.w.t. bererti rahmat
4. bersamaan dengan selawat para malaikat
5. dikurniakan oleh Allah s.w.t. 10x dari darjat atas setiap satu-satu selawat
6. dituliskan oleh malaikat 10x kebaikan atas setiap selawat
7. dihapuskan oleh Allah s.w.t. 10x kejahatan atas setiap selawat
8. segala doa akan diperkenankan oleh Allah s.w.t.
9. mendapat syafaat dprd Rasulullah s.a.w.
10. mendapat keampunan Allah s.w.t. dan akan ditutup segala keaiban
1. melaksanakan perintah Allah s.w.t
2. bersamaan dengan selawat Allah s.w.t. kepada Rasulullah S.a.w.
3. mendapat ganjaran 10x selawat drpd Allah atas setiap kali selawat yang diucapkan ( selawat drpd Allah s.w.t. bererti rahmat
4. bersamaan dengan selawat para malaikat
5. dikurniakan oleh Allah s.w.t. 10x dari darjat atas setiap satu-satu selawat
6. dituliskan oleh malaikat 10x kebaikan atas setiap selawat
7. dihapuskan oleh Allah s.w.t. 10x kejahatan atas setiap selawat
8. segala doa akan diperkenankan oleh Allah s.w.t.
9. mendapat syafaat dprd Rasulullah s.a.w.
10. mendapat keampunan Allah s.w.t. dan akan ditutup segala keaiban
Pengertian Lapisan Ozon, Bahan Perusak Ozon & Dampaknya Bagi Kesehatan
Pengertian Lapisan Ozon, Bahan Perusak Ozon & Dampaknya Bagi Kesehatan
Apakah itu Ozon? Ozon adalah gas yang secara alami terdapat di atmosfir, unsur kimia yang terkandung dalam partikel ozon adalah tiga buah oksigen (O3). Sedangkan keberadaan ozon sendiri di alam terdapat di dua wilayah atmosfer. Ozon di troposfer (sekitar 10 s/d 16 km dr permukaan bumi ) sayangnya kandungan pada lapisan ini hanya 10%. Sedangkan selebihnya berada di lapisan stratosfir (50km dr puncak troposfer) disini kandungan ozon mencapai 90%. Maka seringkali disebut lapisan ozon, karena memiliki kandungan 03 (ozon) yang paling banyak.
Apakah itu Ozon? Ozon adalah gas yang secara alami terdapat di atmosfir, unsur kimia yang terkandung dalam partikel ozon adalah tiga buah oksigen (O3). Sedangkan keberadaan ozon sendiri di alam terdapat di dua wilayah atmosfer. Ozon di troposfer (sekitar 10 s/d 16 km dr permukaan bumi ) sayangnya kandungan pada lapisan ini hanya 10%. Sedangkan selebihnya berada di lapisan stratosfir (50km dr puncak troposfer) disini kandungan ozon mencapai 90%. Maka seringkali disebut lapisan ozon, karena memiliki kandungan 03 (ozon) yang paling banyak.
Wednesday, July 17, 2013
CARA MENINGKATKAN IMAN PADA HARI AKHIR
Beriman kepada Hari Akhir artinya meyakini dengan teguh apa yang diberitakan oleh Allah dalam kitabNya dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya terkait dengan peristiwa yang terjadi sesudah mati, mulai fitnah kubur, azab dan nikmat kubur dan seterusnya sampai surga dan neraka.
Beriman kepada Hari Akhir adalah rukun iman yang kelima dari enam rukun iman. Di dalam al-Qur`an dan di dalam hadits beriman kepada Hari Akhir sering digandengkan dengan beriman kepada Allah karena orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak mungkin beriman kepada Allah, orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak akan beramal, orang beramal karena ada harapan kemuliaan di Hari Akhir dan ada ketakutan terhadap azab di Hari akhir, jika dia tidak beriman kepadanya maka dia seperti orang-orang yang disebutkan oleh Allah dan firmanNya,
Beriman kepada Hari Akhir adalah rukun iman yang kelima dari enam rukun iman. Di dalam al-Qur`an dan di dalam hadits beriman kepada Hari Akhir sering digandengkan dengan beriman kepada Allah karena orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak mungkin beriman kepada Allah, orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak akan beramal, orang beramal karena ada harapan kemuliaan di Hari Akhir dan ada ketakutan terhadap azab di Hari akhir, jika dia tidak beriman kepadanya maka dia seperti orang-orang yang disebutkan oleh Allah dan firmanNya,
Monday, July 15, 2013
JUAL BELI MENGHINDARI RIBA
Jual beli dalam bahasa Arab terdiri dari kata yang al bai’ yang artinya jual dan asy syira’a yang artinya beli. Menirut istilah hukum syara’ ,jual beli adalah penukaran harta atas dasar saling rela atau tukar menukar suatu benda antara dua pihak dengan kesepakatan (akad) tertentu atas dasar suka sama suka. Jual beli hukumnya adalah mubah. Artinya, hal tersebut diperbolehkan sepanjang suka sama suka. Berikut ini QS An Nisa / 4:29 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
Hal Apa Saja Harus Menuju Surga
عَنْ أَبِـيْ عَبْدِِ اللهِ جَابِِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اْلأ َنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْـمُكْتُوْبَاتِ ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ ، وَأَحْلَلْتُ الْـحَلاَلَ ، وَحَرَّمْتُ الْـحَرَامَ ، وَلَـمْ أَزِدْ عَلَـى ذَلِكَ شَيْئًا ، أَأَدْخُلُ الْـجَنَّةَ ؟ قَالَ : « نَعَمْ». قَالَ : وَاللهِ ، لاَ أَزِيْدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا [ رواه مسلم ]
Dari Abu ‘Abdillâh Jâbir bin ‘Abdillâh al-Anshâri Radhiyallahu anhuma bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Bagaimana pendapat Anda jika aku melakukan shalat fardhu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah sedikit pun akan hal itu, apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab,
Saturday, July 13, 2013
Kisah Ikhlas
Zaman dahulu kala, ada tiga orang Bani Israil. Orang yang pertama berkulit belang (sopak), yang kedua berkepala botak, dan yang ketiga buta. Allah ingin menguji ketiga orang tersebut. Maka Dia mengutus kepada mereka satu malaikat.
Malaikat mendatangi orang yang berpenyakit sopak (Si Belang) dan bertanya kepadanya, “Sesuatu apakah yang engkau minta?”
Si Belang menjawab, “Warna yang bagus dan kulit yang bagus serta hilangnya dari diri saya sesuatu yang membuat orang-orang jijik kepada saya.”
Lalu malaikat itu mengusapnya dan seketika itu hilanglah penyakitnya yang menjijikkan itu. Kini ia memiliki warna kulit yang bagus. Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Harta apa yang paling engkau sukai?”
Orang itu menjawab, “Onta.”
Akhirnya orang itu diberikan seekor onta yang bunting seraya didoakan oleh malaikat, “Semoga Allah memberi berkah untukmu dalam onta ini.”
Kemudian malaikat mendatangi si Botak dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling engkau sukai?”
Si Botak menjawab, “Rambut yang indah dan hilangnya dari diri saya penyakit yang karenanya aku dijauhi oleh manusia.”
Malaikat lalu mengusapnya, hingga hilanglah penyakitnya dan dia diberi rambut yang indah. Malaikat bertanya lagi, “Harta apa yang paling engkau sukai?”
Orang itu menjawab, “Sapi.”
Akhirnya si Botak diberikan seekor sapi yang bunting dan didoakan oleh malaikat, “Semoga Allah memberkahinya untukmu.”
Selanjutnya malaikat mendatangi si Buta dan bertanya kepadanya, “Apa yang paling engkau sukai?”
Si Buta menjawab, “Allah mengembalikan kepada saya mata saya agar saya bisa melihat manusia.”
Malaikat lalu mengusapnya hingga Allah mengembalikan pandangannya. Si Buta bisa melihat lagi. Setelah itu malaikat bertanya lagi kepadanya, “Harta apa yang paling engkau sukai?”
Orang itu menjawab, “Kambing.”
Akhirnya diberilah seekor kambing yang bunting kepadanya sambil malaikat mendoakannya.
Singkat cerita, dari hewan yang dimiliki ketiga orang itu beranak dan berkembang biak. Yang pertama memiliki satu lembah onta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.
Kemudian sang malaikat – dengan wujud berbeda dengan sebelumnya – mendatangi si Belang. Malaikat berkata kepadanya, “Seorang miskin telah terputus bagiku semua sebab dalam safarku, maka kini tidak ada bekal bagiku kecuali pertolongan Allah kemudian dengan pertolongan Anda. Saya memohon kepada Anda demi (Allah) Yang telah memberi Anda warna yang bagus, kulit yang bagus, dan harta, satu ekor onta saja yang bisa menghantarkan saya dalam safar saya ini.”
Orang yang tadinya belang itu menanggapi, “Hak-hak orang masih banyak.”
Lalu malaikat bertanya kepadanya, “Sepertinya saya mengenal Anda. Bukankah Anda dulu berkulit belang yang dijauhi oleh orang-orang dan juga fakir, kemudian Anda diberi oleh Allah?”
Orang itu menjawab, “Sesungguhnya harta ini saya warisi dari orang-orang tuaku.”
Maka malaikat berkata kepadanya, “Jika kamu dusta, maka Allah akan mengembalikanmu pada keadaan semula.”
Lalu, dengan rupa dan penampilan sebagai orang miskin, malaikat mendatangi mantan si Botak. Malaikat berkata kepada orang ini seperti yang dia katakan kepada si Belang sebelumnya. Ternyata tanggapan si Botak sama persis dengan si Belang. Maka malaikat pun menanggapinya, “Jika kamu berdusta, Allah pasti mengembalikanmu kepada keadaan semula.”
Lalu malaikat – dengan rupa dan penampilan berbeda dengan sebelumnya – mendatangi si Buta. Malaikat berkata kepadanya, “Seorang miskin dan Ibn Sabil yang telah kehabisan bekal dan usaha dalam perjalanan, maka hari ini tidak ada lagi bekal yang menghantarkan aku ke tujuan kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolongan Anda. Saya memohon kepada Anda, demi Allah yang mengembalikan pandangan Anda, satu ekor kambing saja supaya saya bisa meneruskan perjalanan saya.”
Maka si Buta menanggapinya, “Saya dulu buta lalu Allah mengembalikan pandangan saya. Maka ambillah apa yang kamu suka dan tinggalkanlah apa yang kamu suka. Demi Allah aku tidak keberatan kepada kamu dengan apa yang kamu ambil karena Allah.”
Lalu malaikat berkata kepadanya, “Jagalah harta kekayaanmu. Sebenarnya kamu (hanyalah) diuji. Dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada dua sahabatmu.”
***
Demikianlah kisah ini, Allah senantiasa menguji hamba-hamba-Nya, dan kita pun senantiasa diuji oleh-Nya. Dalam kisah tadi, ada dua hal yang menjadi bahan ujian, yaitu kesehatan, penampilan fisik, dan harta. Mudah-mudahan kita adalah yang orang yang lulus ujian sebagaimana si Buta. Jika kita ingin seperti si Buta, maka kita harus berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur dan senantiasa merasakan adanya pengawasan Allah (muraqabatullah).
Semoga Allah senantiasa ridha dan tidak murka kepada kita semua.. Aamiin.
Maraji’: Hadits Riwayat Bukhari – Muslim
Malaikat mendatangi orang yang berpenyakit sopak (Si Belang) dan bertanya kepadanya, “Sesuatu apakah yang engkau minta?”
Si Belang menjawab, “Warna yang bagus dan kulit yang bagus serta hilangnya dari diri saya sesuatu yang membuat orang-orang jijik kepada saya.”
Lalu malaikat itu mengusapnya dan seketika itu hilanglah penyakitnya yang menjijikkan itu. Kini ia memiliki warna kulit yang bagus. Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Harta apa yang paling engkau sukai?”
Orang itu menjawab, “Onta.”
Akhirnya orang itu diberikan seekor onta yang bunting seraya didoakan oleh malaikat, “Semoga Allah memberi berkah untukmu dalam onta ini.”
Kemudian malaikat mendatangi si Botak dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling engkau sukai?”
Si Botak menjawab, “Rambut yang indah dan hilangnya dari diri saya penyakit yang karenanya aku dijauhi oleh manusia.”
Malaikat lalu mengusapnya, hingga hilanglah penyakitnya dan dia diberi rambut yang indah. Malaikat bertanya lagi, “Harta apa yang paling engkau sukai?”
Orang itu menjawab, “Sapi.”
Akhirnya si Botak diberikan seekor sapi yang bunting dan didoakan oleh malaikat, “Semoga Allah memberkahinya untukmu.”
Selanjutnya malaikat mendatangi si Buta dan bertanya kepadanya, “Apa yang paling engkau sukai?”
Si Buta menjawab, “Allah mengembalikan kepada saya mata saya agar saya bisa melihat manusia.”
Malaikat lalu mengusapnya hingga Allah mengembalikan pandangannya. Si Buta bisa melihat lagi. Setelah itu malaikat bertanya lagi kepadanya, “Harta apa yang paling engkau sukai?”
Orang itu menjawab, “Kambing.”
Akhirnya diberilah seekor kambing yang bunting kepadanya sambil malaikat mendoakannya.
Singkat cerita, dari hewan yang dimiliki ketiga orang itu beranak dan berkembang biak. Yang pertama memiliki satu lembah onta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.
Kemudian sang malaikat – dengan wujud berbeda dengan sebelumnya – mendatangi si Belang. Malaikat berkata kepadanya, “Seorang miskin telah terputus bagiku semua sebab dalam safarku, maka kini tidak ada bekal bagiku kecuali pertolongan Allah kemudian dengan pertolongan Anda. Saya memohon kepada Anda demi (Allah) Yang telah memberi Anda warna yang bagus, kulit yang bagus, dan harta, satu ekor onta saja yang bisa menghantarkan saya dalam safar saya ini.”
Orang yang tadinya belang itu menanggapi, “Hak-hak orang masih banyak.”
Lalu malaikat bertanya kepadanya, “Sepertinya saya mengenal Anda. Bukankah Anda dulu berkulit belang yang dijauhi oleh orang-orang dan juga fakir, kemudian Anda diberi oleh Allah?”
Orang itu menjawab, “Sesungguhnya harta ini saya warisi dari orang-orang tuaku.”
Maka malaikat berkata kepadanya, “Jika kamu dusta, maka Allah akan mengembalikanmu pada keadaan semula.”
Lalu, dengan rupa dan penampilan sebagai orang miskin, malaikat mendatangi mantan si Botak. Malaikat berkata kepada orang ini seperti yang dia katakan kepada si Belang sebelumnya. Ternyata tanggapan si Botak sama persis dengan si Belang. Maka malaikat pun menanggapinya, “Jika kamu berdusta, Allah pasti mengembalikanmu kepada keadaan semula.”
Lalu malaikat – dengan rupa dan penampilan berbeda dengan sebelumnya – mendatangi si Buta. Malaikat berkata kepadanya, “Seorang miskin dan Ibn Sabil yang telah kehabisan bekal dan usaha dalam perjalanan, maka hari ini tidak ada lagi bekal yang menghantarkan aku ke tujuan kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolongan Anda. Saya memohon kepada Anda, demi Allah yang mengembalikan pandangan Anda, satu ekor kambing saja supaya saya bisa meneruskan perjalanan saya.”
Maka si Buta menanggapinya, “Saya dulu buta lalu Allah mengembalikan pandangan saya. Maka ambillah apa yang kamu suka dan tinggalkanlah apa yang kamu suka. Demi Allah aku tidak keberatan kepada kamu dengan apa yang kamu ambil karena Allah.”
Lalu malaikat berkata kepadanya, “Jagalah harta kekayaanmu. Sebenarnya kamu (hanyalah) diuji. Dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada dua sahabatmu.”
***
Demikianlah kisah ini, Allah senantiasa menguji hamba-hamba-Nya, dan kita pun senantiasa diuji oleh-Nya. Dalam kisah tadi, ada dua hal yang menjadi bahan ujian, yaitu kesehatan, penampilan fisik, dan harta. Mudah-mudahan kita adalah yang orang yang lulus ujian sebagaimana si Buta. Jika kita ingin seperti si Buta, maka kita harus berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur dan senantiasa merasakan adanya pengawasan Allah (muraqabatullah).
Semoga Allah senantiasa ridha dan tidak murka kepada kita semua.. Aamiin.
Maraji’: Hadits Riwayat Bukhari – Muslim
HASUD ( DENGKI )
Hasud ( dengki ) adalah sikap batin tidak senang terhadap kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berusaha untuk menghilangkannya dari orang tersebut. Imam Ghazali mengatakan bahwa hasud itu adalah cabang dari syukh ( الشخ) yaitu sikap batin yang bakhil berbuat baik. Kata hasud berasal dari bahasa Arab, yaitu “hasadun” yang berarti dengki, benci. Dengki merupakan suatu sikap atau perbuatan yang mencerminkan rasa marah, tidak suka karena iri. Dalam kamus Bahasa Indonesia kata “hasud” diartikan membangkitkan hati seseorang supaya marah (melawan, memberontak, dan sebagainya).Dengan demikian yang dimaksud dengan hasud pada hakikatnya sama dengan hasad, yakni suatu perbuatan tercela sebagai akibat adanya rasa iri hati dalam hati seseorang. Rasululloh s.a.w. bersabda :
ﺩَﺏﱠﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْﺩَﺍۤﺀُﭐْﻷُﻣَﻢِﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْﺑَﻐْﻀَﺎﺀُﻭَﺣَﺴَﺪٌﻫِﻲَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺪﱢﻳْﻦِﻻَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺸﱠﻌْﺮِ
( ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺣْﻤَﺪُﻭَﭐﻟﺘﱢﺮْﻣِﺬِﻱﱡ )
Artinya : “Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat terdahulu (yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur rambut”. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)
Lebih jauh para ulama mengemukakan pengertian hasud atau hasad sebagai berikut :
1.Menurut Al Jurjani Al Hanafi dalam kitabnya “Al Ta’rifaat”, hasad ialah menginginkan atau mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki (mahsud) supaya berpindah kepadanya (orang yang mendengki).
2.Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin”, hasad ialah membenci nikmat Allah S.W.T. yang ada pada diri orang lain, serta menyukai hilangnya nikmat tersebut.
3.Menurut Sayyid Qutub dalam tafsir “Al Manar”, hasad ialah kerja emosional yang berhubungan dengan keinginan agar nimat yang diberikan Allah S.W.T. kepada seseorang dari hamba-Nya hilang dari padanya. Baik cara yang dipergunakan oleh orang yang dengki itu dengan tindakan supaya nikmat itu lenyap dari padanya atas dasar iri hati, ataau cukup dengan keinginan saja. Yang jelas motif dari tindakan itu adalah kejahatan.
Hal inilah, seperti yang dijelaskan Al Qur’an sebagai berikut :
…ﺃَﻡْﻳَﺤْﺴُﺪُﻭْﻥَﭐﻟﻨﱠﺎﺱَﻋَﻠَﻰﻣَﺎۤﺍٰﺗٰﻬُﻢُﭐﷲُﻣِﻦْﻓَﻀْﻠِﻪِ
Artinya : “ Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya …. (Q.S. An Nisa : 54)
Jadi hasud/hasad menurut istilah: membenci nikmat Allah SWT yang dianugerahkan kepada orang lain, dengan keinginan agar nikmat yang didapat orang tersebut segera hilang atau terhapus.
Rasulullah saw menggambarkan betapa tercelanya kedengkian itu dengan sabdanya:
ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ ( ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺑُﻮْﺩَﺍﻭُﺩَﻋَﻦْﺃَﺑِﻲْﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَﺭﺽ
”Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR.Abu Daud dari Abu Hurairah).
Ketika seseorang mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki maka saat itu ia telah berlaku hasad, karena sesungguhnya kedengkian adalah membenci nikmat dan menginginkan lenyapnya nikmat itu dari orang yang mendapatkannya.
Pantaslah jika Rasulullah saw pernah menyebut seseorang sebagai penghuni surga akan lewat di depan sahabat-sahabatnya, yang ketika kejadian itu berulang tiga kali dalam tiga hari Rasulullah menyebutnya sebagai seorang dari penghuni surga, dan ketika ditelusuri oleh Abdullah bin Amer bin al-Ash dengan bermalam di rumah orang tersebut selama tiga malam, ia tidak pernah melihat amalan orang tersebut yang berlebihan, bahkan orang itu juga tidak bangun malam, kecuali jika berbalik dari tempat tidurnya ia menyebut Allah, ia tidak bangun kecuali untuk shalat subuh, dan tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan.
Bahkan hampir saja Abdullah meremehkan amalannya. Ketika Abdullah mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah telah bersabda begini dan begitu, kemudian ia bertanya : ”Apakah gerangan yang membuatmu mencapai tingkatan tersebut?”
Orang tersebut menjawab: ”Tidak ada apa-apa kecuali yang kamu lihat, hanya saja aku tidak punya rasa benci dan dengki kepada salah seorang pun dari kaum muslimin yang dikaruniai Allah kebaikan”.
Di sinilah Abdullah menemukan jawaban itu, ia berkata :”Itulah rupanya yang membuatmu mencapai tingkatan itu, dan itulah yang tidak mampu kami lakukan”.
Demikianlah nikmatnya jika kita dapat menghidarkan diri dari berlaku hasad pada orang lain yakni surga, yang sesungguhnya terlihat sangatlah sepele persoalannya meskipun sesungguhnya berat dalam pengamalannya.
Cukuplah menjadi renungan kita bersama bahwasanya penyebab pembunuhan pertama kali di muka bumi ini terjadi yaitu anak Adam membunuh saudaranya adalah disebabkan oleh kedengkiannya pada saudaranya atas nikmat yang dimilikinya lalu kita bertanya masihkah kita harus mendengki?
Rasulullah bersabda:
ولا تحاسدوا ولاتقاطعوا ولاتباغضوا ولاتدابروا وكونوا عبادالله إخوانا كما أمركم الله ( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ ومسلم )
Artinya : “Janganlah kamu sekalian saling mendengki, membenci, dan saling belakang-membelakangi; tetapi jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu”. ( H.R Bukhari dan Muslim )
Setiap muslim/muslimah wajib hukumnya menjauhi sifat hasud karena hasud termasuk sifat tercela dan merupakan perbuatan dosa. Simaklah QS. An Nisa’ [4]: 32
Artinya : ““Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin yang dinyatakan Imam Abu Laits Samarqandi, dijelaskan bahwa orang hasud itu telah menentang Allah SWT dalam beberapa hal, :
1.Membenci nikmat atau anugerah Allah SWT yang diberikan kepada orang lain.
2.Tidak rela menerima pembagian karunia Allah SWT atas dirinya.
3.Pelit terhadap pemberian Allah SWT, kalau bisa semua anugerah Allah dan kebajikan jatuh pada dirinya sendiri, tak perlu orang lain. Kalaupun orang lain memperolehnya diharapkan di bawah derajat dirinya.
4.Mengikuti pengaruh Ibnlis/syetan yang sebetulnya sangat merugikan dan menghinakan dirinya sendiri
Bahaya-bahaya sifat hasud antara lain:
•Merusak iman orang yang hasud.
الحسد ﻳُﻔْﺴِﺪُ الايمان كما يفسد الصبر العسل ( رواه ﭐﻟﺪﱠﻳْﻠَﻤِﻲﱡ )
Artinya : “Hasud itu dapat merusak iman sebagaimana jadam merusak madu” (H.R Ad Dailami)
•Menghanguskan segala macam kebaikan yang pernah dilakukan.
ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ
( رواه ابو داود )
Artinya : “Jauhilah darimu dari hasud karena sesungguhnya hasud itu memakan kebaikan-kebaikan seperti api memakan kayu bakar”. ( H.R Abu Dawud )
•Tersiksa batinnya untuk selama-lamanya, sebab di dunia ini tidak sepi dari orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah baik berupa ilmu, pangkat, atau harta benda sementara dia selalu diliputi rasa dengki terus menerus.
Ada 2 macam hasud yang dibolehkn, Rasulullah bersabda
لاحسد إلا فى اثنين: رجل أتاه الله مالا فسلطه على هلكته فى الحق ورجل أتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها
( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ )
Artinya : “Tidak boleh iri hati kecuali dalam 2 hal : 1. Seorang yang diberi oleh Allah SWT harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak ( kebenaran ) dan 2. Seorang yang diberi Allah SWT ilmu hikmah, maka ia pergunakan dan ia ajarkan”. ( H.R Bukhari )
•Mengarah pada perbuatan maksiat, dengan berlaku hasud otomatis seseorang pasti melakukan hal-hal lain seperti ghibah (mengumpat/menggosip orang), berdusta, mencela, bahkan mengadu domba.
•Jauh dari rahmat Allah SWT dan sesama manusia
•Menghancurkan persatuan dan kesatuan
•Menyakiti orang lain atau dapat mencelakakan orang lain
•Terkena hinaan dan kegelisahan apalagi ia menyadari bahwa orang lain telah memahami hasutannya, maka ia akan dipandang rendah dan pasti dijauhi.
•Kerisauan dan kegelisahan akibat kebencian tak terputus-putus
•Akan selalu menderita di atas kesenangan orang lain. Ia tidak pernah merasa bahagia selama ada orang lain yang melebihinya
•Dapat memutuskan hubungan silaturrahim dan persaudaraan
•Berpotensi akan menjadi provokator yang dapat menimbulkan bencana atau kerugian, baik untuk dirinya ataupun orang lain
•Menjerumuskan pelakunya masuk neraka.
Cara menghindari sifat hasud :
1.Selalu meningkatkan iman kepada Allah SWT
2.Berupaya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT
3.Mensyukuri nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadanya
4.Meningkatkan sifat Qana’ah (menerima dengan ridlo setiap anugerah Allah SWT)
5.Menyadari kedudukan harta dan jabatan dalam kehidupan manusia di dunia.
Kebiasaan-kebiasaan yang harus dilatih agar terhindar dari sifat hasud
1.Membiasakan diri menghormati pendapat orang lain agar terhindar dari konflik
2.Membiasakan diri melakukan perbuatan baik, karena Allah bersama orang yang berbuat baik (Q.S. 16 :128)
3.Membiasakan diri senang dan bersyukur serta memberikan selamat atas keberhasilan/kebahagiaan orang lain
4.Membiasakan diri memelihara hubungan baik/silaturrahim
5.Membiasakan diri mempelajari, memahami dan memperaktikkan ayat-ayat Allah
6.Kemitmen untuk selalu meningkatkan ke-Islaman terutama salat lima waktu
7.Membiasakan diri mensyukuri nikmat/pemberian Allah sekecil apapun
SUMBER : SYAUNARAHMAN. WORDPRESS.COM
ﺩَﺏﱠﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْﺩَﺍۤﺀُﭐْﻷُﻣَﻢِﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْﺑَﻐْﻀَﺎﺀُﻭَﺣَﺴَﺪٌﻫِﻲَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺪﱢﻳْﻦِﻻَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺸﱠﻌْﺮِ
( ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺣْﻤَﺪُﻭَﭐﻟﺘﱢﺮْﻣِﺬِﻱﱡ )
Artinya : “Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat terdahulu (yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur rambut”. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)
Lebih jauh para ulama mengemukakan pengertian hasud atau hasad sebagai berikut :
1.Menurut Al Jurjani Al Hanafi dalam kitabnya “Al Ta’rifaat”, hasad ialah menginginkan atau mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki (mahsud) supaya berpindah kepadanya (orang yang mendengki).
2.Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin”, hasad ialah membenci nikmat Allah S.W.T. yang ada pada diri orang lain, serta menyukai hilangnya nikmat tersebut.
3.Menurut Sayyid Qutub dalam tafsir “Al Manar”, hasad ialah kerja emosional yang berhubungan dengan keinginan agar nimat yang diberikan Allah S.W.T. kepada seseorang dari hamba-Nya hilang dari padanya. Baik cara yang dipergunakan oleh orang yang dengki itu dengan tindakan supaya nikmat itu lenyap dari padanya atas dasar iri hati, ataau cukup dengan keinginan saja. Yang jelas motif dari tindakan itu adalah kejahatan.
Hal inilah, seperti yang dijelaskan Al Qur’an sebagai berikut :
…ﺃَﻡْﻳَﺤْﺴُﺪُﻭْﻥَﭐﻟﻨﱠﺎﺱَﻋَﻠَﻰﻣَﺎۤﺍٰﺗٰﻬُﻢُﭐﷲُﻣِﻦْﻓَﻀْﻠِﻪِ
Artinya : “ Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya …. (Q.S. An Nisa : 54)
Jadi hasud/hasad menurut istilah: membenci nikmat Allah SWT yang dianugerahkan kepada orang lain, dengan keinginan agar nikmat yang didapat orang tersebut segera hilang atau terhapus.
Rasulullah saw menggambarkan betapa tercelanya kedengkian itu dengan sabdanya:
ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ ( ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺑُﻮْﺩَﺍﻭُﺩَﻋَﻦْﺃَﺑِﻲْﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَﺭﺽ
”Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR.Abu Daud dari Abu Hurairah).
Ketika seseorang mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki maka saat itu ia telah berlaku hasad, karena sesungguhnya kedengkian adalah membenci nikmat dan menginginkan lenyapnya nikmat itu dari orang yang mendapatkannya.
Pantaslah jika Rasulullah saw pernah menyebut seseorang sebagai penghuni surga akan lewat di depan sahabat-sahabatnya, yang ketika kejadian itu berulang tiga kali dalam tiga hari Rasulullah menyebutnya sebagai seorang dari penghuni surga, dan ketika ditelusuri oleh Abdullah bin Amer bin al-Ash dengan bermalam di rumah orang tersebut selama tiga malam, ia tidak pernah melihat amalan orang tersebut yang berlebihan, bahkan orang itu juga tidak bangun malam, kecuali jika berbalik dari tempat tidurnya ia menyebut Allah, ia tidak bangun kecuali untuk shalat subuh, dan tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan.
Bahkan hampir saja Abdullah meremehkan amalannya. Ketika Abdullah mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah telah bersabda begini dan begitu, kemudian ia bertanya : ”Apakah gerangan yang membuatmu mencapai tingkatan tersebut?”
Orang tersebut menjawab: ”Tidak ada apa-apa kecuali yang kamu lihat, hanya saja aku tidak punya rasa benci dan dengki kepada salah seorang pun dari kaum muslimin yang dikaruniai Allah kebaikan”.
Di sinilah Abdullah menemukan jawaban itu, ia berkata :”Itulah rupanya yang membuatmu mencapai tingkatan itu, dan itulah yang tidak mampu kami lakukan”.
Demikianlah nikmatnya jika kita dapat menghidarkan diri dari berlaku hasad pada orang lain yakni surga, yang sesungguhnya terlihat sangatlah sepele persoalannya meskipun sesungguhnya berat dalam pengamalannya.
Cukuplah menjadi renungan kita bersama bahwasanya penyebab pembunuhan pertama kali di muka bumi ini terjadi yaitu anak Adam membunuh saudaranya adalah disebabkan oleh kedengkiannya pada saudaranya atas nikmat yang dimilikinya lalu kita bertanya masihkah kita harus mendengki?
Rasulullah bersabda:
ولا تحاسدوا ولاتقاطعوا ولاتباغضوا ولاتدابروا وكونوا عبادالله إخوانا كما أمركم الله ( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ ومسلم )
Artinya : “Janganlah kamu sekalian saling mendengki, membenci, dan saling belakang-membelakangi; tetapi jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu”. ( H.R Bukhari dan Muslim )
Setiap muslim/muslimah wajib hukumnya menjauhi sifat hasud karena hasud termasuk sifat tercela dan merupakan perbuatan dosa. Simaklah QS. An Nisa’ [4]: 32
Artinya : ““Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin yang dinyatakan Imam Abu Laits Samarqandi, dijelaskan bahwa orang hasud itu telah menentang Allah SWT dalam beberapa hal, :
1.Membenci nikmat atau anugerah Allah SWT yang diberikan kepada orang lain.
2.Tidak rela menerima pembagian karunia Allah SWT atas dirinya.
3.Pelit terhadap pemberian Allah SWT, kalau bisa semua anugerah Allah dan kebajikan jatuh pada dirinya sendiri, tak perlu orang lain. Kalaupun orang lain memperolehnya diharapkan di bawah derajat dirinya.
4.Mengikuti pengaruh Ibnlis/syetan yang sebetulnya sangat merugikan dan menghinakan dirinya sendiri
Bahaya-bahaya sifat hasud antara lain:
•Merusak iman orang yang hasud.
الحسد ﻳُﻔْﺴِﺪُ الايمان كما يفسد الصبر العسل ( رواه ﭐﻟﺪﱠﻳْﻠَﻤِﻲﱡ )
Artinya : “Hasud itu dapat merusak iman sebagaimana jadam merusak madu” (H.R Ad Dailami)
•Menghanguskan segala macam kebaikan yang pernah dilakukan.
ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ
( رواه ابو داود )
Artinya : “Jauhilah darimu dari hasud karena sesungguhnya hasud itu memakan kebaikan-kebaikan seperti api memakan kayu bakar”. ( H.R Abu Dawud )
•Tersiksa batinnya untuk selama-lamanya, sebab di dunia ini tidak sepi dari orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah baik berupa ilmu, pangkat, atau harta benda sementara dia selalu diliputi rasa dengki terus menerus.
Ada 2 macam hasud yang dibolehkn, Rasulullah bersabda
لاحسد إلا فى اثنين: رجل أتاه الله مالا فسلطه على هلكته فى الحق ورجل أتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها
( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ )
Artinya : “Tidak boleh iri hati kecuali dalam 2 hal : 1. Seorang yang diberi oleh Allah SWT harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak ( kebenaran ) dan 2. Seorang yang diberi Allah SWT ilmu hikmah, maka ia pergunakan dan ia ajarkan”. ( H.R Bukhari )
•Mengarah pada perbuatan maksiat, dengan berlaku hasud otomatis seseorang pasti melakukan hal-hal lain seperti ghibah (mengumpat/menggosip orang), berdusta, mencela, bahkan mengadu domba.
•Jauh dari rahmat Allah SWT dan sesama manusia
•Menghancurkan persatuan dan kesatuan
•Menyakiti orang lain atau dapat mencelakakan orang lain
•Terkena hinaan dan kegelisahan apalagi ia menyadari bahwa orang lain telah memahami hasutannya, maka ia akan dipandang rendah dan pasti dijauhi.
•Kerisauan dan kegelisahan akibat kebencian tak terputus-putus
•Akan selalu menderita di atas kesenangan orang lain. Ia tidak pernah merasa bahagia selama ada orang lain yang melebihinya
•Dapat memutuskan hubungan silaturrahim dan persaudaraan
•Berpotensi akan menjadi provokator yang dapat menimbulkan bencana atau kerugian, baik untuk dirinya ataupun orang lain
•Menjerumuskan pelakunya masuk neraka.
Cara menghindari sifat hasud :
1.Selalu meningkatkan iman kepada Allah SWT
2.Berupaya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT
3.Mensyukuri nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadanya
4.Meningkatkan sifat Qana’ah (menerima dengan ridlo setiap anugerah Allah SWT)
5.Menyadari kedudukan harta dan jabatan dalam kehidupan manusia di dunia.
Kebiasaan-kebiasaan yang harus dilatih agar terhindar dari sifat hasud
1.Membiasakan diri menghormati pendapat orang lain agar terhindar dari konflik
2.Membiasakan diri melakukan perbuatan baik, karena Allah bersama orang yang berbuat baik (Q.S. 16 :128)
3.Membiasakan diri senang dan bersyukur serta memberikan selamat atas keberhasilan/kebahagiaan orang lain
4.Membiasakan diri memelihara hubungan baik/silaturrahim
5.Membiasakan diri mempelajari, memahami dan memperaktikkan ayat-ayat Allah
6.Kemitmen untuk selalu meningkatkan ke-Islaman terutama salat lima waktu
7.Membiasakan diri mensyukuri nikmat/pemberian Allah sekecil apapun
SUMBER : SYAUNARAHMAN. WORDPRESS.COM
DAMPAK RIYA’ DAN SUM’AH
Jika penyakit riya' dan sum'ah telah menggerogoti muslim, apalagi aktifis dakwah, maka dampak buruknya tidak hanya menimpa pribadi muslim dan aktifis dakwah itu, tetapi juga menimpa jama'ah. Berikut adalah beberapa dampak buruk riya' dan sum'ah itu:
1. Terhalang dari Hidayah dan Taufiq Allah
Hidayah Allah SWT adalah anugerah Allah yang dikaruniakan-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Ini hak prerogatif Allah. Ia tidak bisa dipaksa untuk menghampiri kita atau orang-orang tertentu. Kita bisa berdoa agar mendapat hidayah, namun terserah Allah apakah menurunkan hidayah-Nya atau tidak.
2. Batal Amalnya
3. Mendapat Azab di Akhirat
Amal-amal yang banyak, yang disangka membuat masuk surga, justru menyeret manusia ke neraka ketika amal-amal itu dibangun di atas riya' dan sum'ah. Seperti hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa di pengadilan akhirat nanti ada 3 orang yang diadili pertama kali; orang yang mati syahid, orang alim yang mengajarkan ilmunya, dan orang kaya yang dermawan. Ketiganya menyangka akan masuk surga. Ini tercermin dari jawabannya saat ditanya tentang apa yang dilakukan dengan nikmat-nikmat itu. Tapi rupanya, Allah menilai berbeda dari persangkaan ketiga orang itu sebab mereka melakukannya karena riya' dan sum'ah. Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret mereka ke neraka.
4. Aibnya akan terbuka baik di dunia maupun di akhirat
Orang yang riya' dan sum'ah ingin mendapatkan pujian, penghormatan, atau kedudukan dari orang lain. Namun seringkali Allah justru membuka aib orang seperti itu di dunia sehingga terbongkarlah kebusukannya.
5. Menderita Kesempitan dan Kegelisahan
Orang yang riya' atau sum'ah akan dilanda kegelisahan dalam hidupnya. Ia berada dalam dua kesempitan. Merasa sempit karena khawatir niatnya terbongkar, dan merasa sempit saat niatnya tidak tercapai. Berbeda dengan orang ikhlas yang sejak awal melakukan amal telah mendapatkan ketenangan karena Allah-lah yang melihat dan akan membalas amalnya meskipun tidak ada orang lain yang tahu.
6. Tercabutnya kewibawaan dan pengaruh
Kewibawaan seorang muslim bisa hadir karena Allah yang menanamkan pada dirinya. Maka saat seorang hamba ikhlas dalam menjalankan agama-Nya, ibadah, dan dakwah, Allah memberikan kewibawaan itu. Namun jika Allah menghinakan seseorang, maka dengan cara bagaimanapun kewibawaan itu dipoles, ia tetap saja luntur dan tak berbekas.
7. Tidak tekun dalam beramal
Karena berorientasi pandangan manusia dan materi, orang yang riya' dan sum'ah tidak akan bisa istiqamah dalam beramal. Saat manusia tidak lagi memperhatikannya, saat media tidak lagi meliputnya, saat keuntungan-keuntungan materi tidak didapatkannya, ia pun berhenti dari amal itu.
Sumber : Buku PAI
1. Terhalang dari Hidayah dan Taufiq Allah
Hidayah Allah SWT adalah anugerah Allah yang dikaruniakan-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Ini hak prerogatif Allah. Ia tidak bisa dipaksa untuk menghampiri kita atau orang-orang tertentu. Kita bisa berdoa agar mendapat hidayah, namun terserah Allah apakah menurunkan hidayah-Nya atau tidak.
2. Batal Amalnya
3. Mendapat Azab di Akhirat
Amal-amal yang banyak, yang disangka membuat masuk surga, justru menyeret manusia ke neraka ketika amal-amal itu dibangun di atas riya' dan sum'ah. Seperti hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa di pengadilan akhirat nanti ada 3 orang yang diadili pertama kali; orang yang mati syahid, orang alim yang mengajarkan ilmunya, dan orang kaya yang dermawan. Ketiganya menyangka akan masuk surga. Ini tercermin dari jawabannya saat ditanya tentang apa yang dilakukan dengan nikmat-nikmat itu. Tapi rupanya, Allah menilai berbeda dari persangkaan ketiga orang itu sebab mereka melakukannya karena riya' dan sum'ah. Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret mereka ke neraka.
4. Aibnya akan terbuka baik di dunia maupun di akhirat
Orang yang riya' dan sum'ah ingin mendapatkan pujian, penghormatan, atau kedudukan dari orang lain. Namun seringkali Allah justru membuka aib orang seperti itu di dunia sehingga terbongkarlah kebusukannya.
5. Menderita Kesempitan dan Kegelisahan
Orang yang riya' atau sum'ah akan dilanda kegelisahan dalam hidupnya. Ia berada dalam dua kesempitan. Merasa sempit karena khawatir niatnya terbongkar, dan merasa sempit saat niatnya tidak tercapai. Berbeda dengan orang ikhlas yang sejak awal melakukan amal telah mendapatkan ketenangan karena Allah-lah yang melihat dan akan membalas amalnya meskipun tidak ada orang lain yang tahu.
6. Tercabutnya kewibawaan dan pengaruh
Kewibawaan seorang muslim bisa hadir karena Allah yang menanamkan pada dirinya. Maka saat seorang hamba ikhlas dalam menjalankan agama-Nya, ibadah, dan dakwah, Allah memberikan kewibawaan itu. Namun jika Allah menghinakan seseorang, maka dengan cara bagaimanapun kewibawaan itu dipoles, ia tetap saja luntur dan tak berbekas.
7. Tidak tekun dalam beramal
Karena berorientasi pandangan manusia dan materi, orang yang riya' dan sum'ah tidak akan bisa istiqamah dalam beramal. Saat manusia tidak lagi memperhatikannya, saat media tidak lagi meliputnya, saat keuntungan-keuntungan materi tidak didapatkannya, ia pun berhenti dari amal itu.
Sumber : Buku PAI
AKIBAT MENDZALIMI ALLAH , MANUSIA DAN ALAM
"Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya melainkan Engkau. Maha suci diri-Mu, sesungguhnya aku tergolong dalam golongan orang yang menzalimi diri sendiri.”
Kenapa? Mengapa setelah Allah suruh kita memuji-Nya, diminta kita kutuk diri sendiri? “Aku zalim. Aku zalim…” seolah-olah itu kehendak Allah SWT.

Umumnya manusia merasakan dirinyalah orang paling baik dan betul dalam perjalanannya diatas muka bumi. Sebab itulah walaupun dia berlaku zalim, jarang sekali ia sedar diri dan jauh sekali untuk mengaku telah melakukan kezaliman keatas orang lain. Lebih-lebih lagilah sulit untuk kita temui orang yang sedar ia telah berlaku zalim keatas keatas dirinya sendiri, ditambah pula kerana manusia lebih suka menyalahkan orang lain dan lebih nampak kesalahan orang lain daripada dirinya sendiri.
Manusia dikatakan menzalimi dirinya sendiri apabila sikap dan tindakan yang dilakukannya dalam kesedaran, menempah kehinaan dalam hidup didunia dan azab sengsara diakhirat kelak. Dirinya terzalim kerana terpaksa menanggung akibat buruk akibat tindakan diri-sendiri, bukan dari campur tangan orang lain keatasnya. Jadi dia bukan dizalimi (oleh sesiapa) tetapi menzalimi diri sendiri.
Manusia tergolong dalam golongan mereka yang menzalim diri sendiri kerana melanggar syariat Allah, zahir mahupun batin. Dengan itu menyebabkan dirinya terjebak dengan dosa. Firman Allah:
“ Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka dia adalah dari oaring-orang yang zalim.” - Al Maidah: 15

Bila dirinya terjebak dengan dosa sama ada dosa kepada Allah mahupun dosa sesama makhluk, maka dirinya terzalim kerana telah menempah tiket kehinaan hidup didunia dan azab yang pedih diakhirat. Oleh kerana kejahilan kita dalam hal ini maka memungkinkan mudahnya hati kecil kita mengeluarkan kata-kata, “Tak patut Tuhan, suruh kata aku ni zalim!” Memang begitu sikap orang jahil, ia akan memusuhi apa yang diluar pengetahuaanya.
Sebenarnya tanpa kita sedari, setiap saat dan ketika kita berada sama ada dalam pahala atau dosa. Kedua-duanya sungguh mudah untuk kita perolehi. Sebab dosa ataupun pahala dilakukan anggota lahir dan anggota batin yang sama. Dengan keadilan dan kasih sayang Allah, kita telah dibekalkan dengan akal fikiran untuk meninbang dan memilih serta didatangkan para Nabi dan Rasul untuk memperjelaskan syariat Allah serta memberi peringatan (khabar gembira dan dukacita) kepada manusia yang memang bersifat lupa, leka dan lalai.
Diantara contoh kita menzalimi diri sendiri ialah kerana kufur dengan nikmat Allah yang begitu banyak kita kecapi. Disamping meletakkan diri kita terlibat dengan dosa, kita kita juga menyebabkan Allah tarik balik nikmat kurnia-Nya dan menempah kemurkaan Allah keatas diri kita. Firman Allah
“ jika sekiranya kamu bersyukur nescaya akan aku tambah nikmat untukmu. Dan jika kamu kufur (atas nama-Ku), ingatlah azab dari-Ku amat pedih.”
Sebagai contoh mari kita lihat nikmat yang terdekat pada diri kita iaitu mulut kita. Padanya sahaja setelah Allah sediakan berbagai-bagai nikmat. Ia dihiasi dengan barisan gigi yang indah lagi masing-masing dengan fungsi yang tersendiri. Ada yang bertugas untuk mengunyah, mengerat, mengoyak dan mengisar apa yang kita makan. Begitu juga dikurniakan untuk dapat kita kecapi berbagai nikmat rasa yang lazat dan dibekalkan cecair liur yang tidak pernah kering untuk bertindak sebagai pelincir dan pelembut makanan. Segala-galanya sempurna.
Bila Allah beri rezeki makanan, mulut, akan berperanan melembutkan makanan. Belum sempat kita bersyukur diatas makanan itu, sudah dapat nikmat lazat. Bila makanan lazat sudah tentu rasa puas, belum sempat bersyukur,kita sudah rasa pula nikmat kenyang. Belumpun sempat kita bersyukur atas nikmat kenyang, sudah diberi minuman untuk hilangkan rasa haus dahaga. Seterusnya belum sempat mensykuri nikmat dihilangkan haus telah didatangkan nikmat segar, bertenaga dan berbadan sihat.
Begitulah seterusnya. Kita asyik sahaja belum sempat-sempat bersyukur, tetapi Allas sentiasa meneruskan kurniaan-Nya. Pernahkah kita merasa terkejut dengan kedatangan nikmat Allah yang tidak putus-putus?
“ jikalau kamu hendak menghitung akan nikmat-nikmat Ku maka kamu tidak akan dapat menghitungnya.” – An Nahl: 18
mungkin hati kecil kita masih berat mengakui kelalaian kita dalam mensyukuri nikmat Allah. Cubalah kita membuka jendela rumah kita dan lihat sejauh saujana mata memandang bumi yang terbentang luas. Siapakah agaknya yang merosakkannya? Udaranya dicemarkan, hutan belantara habsi disodok, ditebang dan hiduoan liar dijahanamkan oleh manusia hanya semata-mata untuk diratakan dan didirikan bangunan yang indah lagi mencapai awan.
Sebenarnya Allah SWT jadikan tumbuh-tumbuhan untuk berfungsi membekalkan oksigen untuk kita sedut dan dan kita pula mengeluarkan mengeluarkan karbon dioksida (semasa pernafasan) yang bakal digunakannya tumbuh-tumbuhan untuk membina makanan (kanji) dan mengeluarkan kembali oksigen. Manfaatnya tetap kembali kepada manusia. Begitulah lemah makhluk kerana saling perlu memerlukan satu sama lain.
Jadi kalau kita hapuskan semua pokok-pokok yang menyediakan bekalan pernafasan kita maka memanglah kita zalim. Allah beri rahmat-Nya pada kita tapi kita rosakkan dan Persia-siakan. Oleh itu patut sangatlah dikatakan pada diri kita, “ engakau zalim, engkau zalim…”
Begitu juga, Allah jadikan gunung-ganang yang berfungsi sebagai pasak bumi. Tetapi datang manusia, diruntuhkan bukit-bukau dan disodok-ratakan. Apakaha yang akan terjadi jika pasak tiang sebuah rumah ditanggalkan? Tentulah rumah akan bergoyang dan mudah runtuh walaupun bukannya dilanda ribut kencang. Begitulah juga bumi apabila pasaknya diganggu dan dibuang. Maka akan terjadilah gempa bumi.
Bila bumi ‘bergoyang’ angin dan air pun akan terlibat sama. Paras laut akan berubah, banjir dan angin ribut datang melanda. Semuanya ini menjadi bala bagi semua manusia. Firman Allah:
“ Lahirlah kerosakan dilautan dan daratan, hasil tangan manusia itu sendiri.” - Ar Rom: 40
Segala-galanya ini tiada lain melainkan kerana kelalaian manusia menghormati peraturan Allah sama ada yang berlaku pada alam tabi’ie mahupun yang berlaku atas perbuatan hamba-Nya. Lalai daripada mensyukuri nikmat sebenarnya adalah dosa kerana tidak mengenangkan jasa bakti Allah kepada kita yang telah kita kecapi sewenang-wenangnya. Bila kita sentiasa dalam keadaan berdosa ertinya kita sedang menzalimi diri sendiri kerana dengannya bakal menjerumuskan kita dalam kecelakaan dunia dan akhirat.
Oleh itu mengaku diri sentiasa berdosa ataupun zalim adalah wajar dan elok sekali dilakukan. Kerana pengakuan demikian menunjukkan kita beradab dengan tuhan. Merendahkan diri dengan Allah dan rasa bersalah selalu. Mudah-mudahan nanti ianya akan membuahkan penyesalan dan sifat menginsafi diri yang membuka jalan untuk rujuk kembali kepada Allah SWT. Nescaya dengan itu Allah senang dengan kita, sebab rintihan hamba Allah yang bertaubat itu lebih disukai-Nya daripada gentelan tasbih para wali.
Bandingannya, kalau dalam kita berkawan, tiba-tiba kawan kita selalu berkata, “minta maaf ya, kalau saya ada silap….” Perkataan ini sudah cukup untuk menyejukkan hati kita. Sebab perasaan suka terhadap orang yang meminta maafitu memang fitrah kejadian manusia. Apalagi kalau orang itu memang membuat anaiya pada kita.
Kalaulah kita sebagai manusia terasa senang bila orang meminta maaf dengan penuh rendah hati kepada kita, tentulah Allah SWT lagi senang kalau hamba-hambaNya sentiasa meminta ampun dan mengaku kesalahan diri sendiri. Merintihlah, “ wahai tuhan, tiadalah yang layak ku sembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku ini telah menzalimi diriku. Aku selalu berdosa, wahai Tuhan. Ampunilah daku…”
Jadi Allah SWT jadikan tiap sesuatu itu ada mempunyai hikmah yang mesti kita ambil pengajaran dan syukuri. Semuanya Allah jadikan untuk keperluan manusia sebagai khlifa-nya di atas mukabumi.
Namun begitu, yang malangnya sangat sedikit manusia yang tahu bersyukur. Firman Allah:
“ Sedikit sekali antara hamba-hamba-ku yang bersyukur.” - sabar’: 13
dan disebabkan terlalu sediktnya manusia yang tergolong dalam golongan yang bersyukur maka berkemungkinan besar kita tergolong dalam kalangan hamba Allah yang tiada pandai bersyukur. Oleh itu mengaku sahajalah pada diri sendiri dengan berkata, “ Maha Suci Engkau Ya Allah, Sesungguhnya Aku Tergolong Dalam Golongan Hamba-hamba Mu Yang Zalim…”
Kenapa? Mengapa setelah Allah suruh kita memuji-Nya, diminta kita kutuk diri sendiri? “Aku zalim. Aku zalim…” seolah-olah itu kehendak Allah SWT.

Umumnya manusia merasakan dirinyalah orang paling baik dan betul dalam perjalanannya diatas muka bumi. Sebab itulah walaupun dia berlaku zalim, jarang sekali ia sedar diri dan jauh sekali untuk mengaku telah melakukan kezaliman keatas orang lain. Lebih-lebih lagilah sulit untuk kita temui orang yang sedar ia telah berlaku zalim keatas keatas dirinya sendiri, ditambah pula kerana manusia lebih suka menyalahkan orang lain dan lebih nampak kesalahan orang lain daripada dirinya sendiri.
Manusia dikatakan menzalimi dirinya sendiri apabila sikap dan tindakan yang dilakukannya dalam kesedaran, menempah kehinaan dalam hidup didunia dan azab sengsara diakhirat kelak. Dirinya terzalim kerana terpaksa menanggung akibat buruk akibat tindakan diri-sendiri, bukan dari campur tangan orang lain keatasnya. Jadi dia bukan dizalimi (oleh sesiapa) tetapi menzalimi diri sendiri.
Manusia tergolong dalam golongan mereka yang menzalim diri sendiri kerana melanggar syariat Allah, zahir mahupun batin. Dengan itu menyebabkan dirinya terjebak dengan dosa. Firman Allah:
“ Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka dia adalah dari oaring-orang yang zalim.” - Al Maidah: 15

Bila dirinya terjebak dengan dosa sama ada dosa kepada Allah mahupun dosa sesama makhluk, maka dirinya terzalim kerana telah menempah tiket kehinaan hidup didunia dan azab yang pedih diakhirat. Oleh kerana kejahilan kita dalam hal ini maka memungkinkan mudahnya hati kecil kita mengeluarkan kata-kata, “Tak patut Tuhan, suruh kata aku ni zalim!” Memang begitu sikap orang jahil, ia akan memusuhi apa yang diluar pengetahuaanya.
Sebenarnya tanpa kita sedari, setiap saat dan ketika kita berada sama ada dalam pahala atau dosa. Kedua-duanya sungguh mudah untuk kita perolehi. Sebab dosa ataupun pahala dilakukan anggota lahir dan anggota batin yang sama. Dengan keadilan dan kasih sayang Allah, kita telah dibekalkan dengan akal fikiran untuk meninbang dan memilih serta didatangkan para Nabi dan Rasul untuk memperjelaskan syariat Allah serta memberi peringatan (khabar gembira dan dukacita) kepada manusia yang memang bersifat lupa, leka dan lalai.
Diantara contoh kita menzalimi diri sendiri ialah kerana kufur dengan nikmat Allah yang begitu banyak kita kecapi. Disamping meletakkan diri kita terlibat dengan dosa, kita kita juga menyebabkan Allah tarik balik nikmat kurnia-Nya dan menempah kemurkaan Allah keatas diri kita. Firman Allah
“ jika sekiranya kamu bersyukur nescaya akan aku tambah nikmat untukmu. Dan jika kamu kufur (atas nama-Ku), ingatlah azab dari-Ku amat pedih.”
Sebagai contoh mari kita lihat nikmat yang terdekat pada diri kita iaitu mulut kita. Padanya sahaja setelah Allah sediakan berbagai-bagai nikmat. Ia dihiasi dengan barisan gigi yang indah lagi masing-masing dengan fungsi yang tersendiri. Ada yang bertugas untuk mengunyah, mengerat, mengoyak dan mengisar apa yang kita makan. Begitu juga dikurniakan untuk dapat kita kecapi berbagai nikmat rasa yang lazat dan dibekalkan cecair liur yang tidak pernah kering untuk bertindak sebagai pelincir dan pelembut makanan. Segala-galanya sempurna.
Bila Allah beri rezeki makanan, mulut, akan berperanan melembutkan makanan. Belum sempat kita bersyukur diatas makanan itu, sudah dapat nikmat lazat. Bila makanan lazat sudah tentu rasa puas, belum sempat bersyukur,kita sudah rasa pula nikmat kenyang. Belumpun sempat kita bersyukur atas nikmat kenyang, sudah diberi minuman untuk hilangkan rasa haus dahaga. Seterusnya belum sempat mensykuri nikmat dihilangkan haus telah didatangkan nikmat segar, bertenaga dan berbadan sihat.
Begitulah seterusnya. Kita asyik sahaja belum sempat-sempat bersyukur, tetapi Allas sentiasa meneruskan kurniaan-Nya. Pernahkah kita merasa terkejut dengan kedatangan nikmat Allah yang tidak putus-putus?
“ jikalau kamu hendak menghitung akan nikmat-nikmat Ku maka kamu tidak akan dapat menghitungnya.” – An Nahl: 18
mungkin hati kecil kita masih berat mengakui kelalaian kita dalam mensyukuri nikmat Allah. Cubalah kita membuka jendela rumah kita dan lihat sejauh saujana mata memandang bumi yang terbentang luas. Siapakah agaknya yang merosakkannya? Udaranya dicemarkan, hutan belantara habsi disodok, ditebang dan hiduoan liar dijahanamkan oleh manusia hanya semata-mata untuk diratakan dan didirikan bangunan yang indah lagi mencapai awan.
Sebenarnya Allah SWT jadikan tumbuh-tumbuhan untuk berfungsi membekalkan oksigen untuk kita sedut dan dan kita pula mengeluarkan mengeluarkan karbon dioksida (semasa pernafasan) yang bakal digunakannya tumbuh-tumbuhan untuk membina makanan (kanji) dan mengeluarkan kembali oksigen. Manfaatnya tetap kembali kepada manusia. Begitulah lemah makhluk kerana saling perlu memerlukan satu sama lain.
Jadi kalau kita hapuskan semua pokok-pokok yang menyediakan bekalan pernafasan kita maka memanglah kita zalim. Allah beri rahmat-Nya pada kita tapi kita rosakkan dan Persia-siakan. Oleh itu patut sangatlah dikatakan pada diri kita, “ engakau zalim, engkau zalim…”
Begitu juga, Allah jadikan gunung-ganang yang berfungsi sebagai pasak bumi. Tetapi datang manusia, diruntuhkan bukit-bukau dan disodok-ratakan. Apakaha yang akan terjadi jika pasak tiang sebuah rumah ditanggalkan? Tentulah rumah akan bergoyang dan mudah runtuh walaupun bukannya dilanda ribut kencang. Begitulah juga bumi apabila pasaknya diganggu dan dibuang. Maka akan terjadilah gempa bumi.
Bila bumi ‘bergoyang’ angin dan air pun akan terlibat sama. Paras laut akan berubah, banjir dan angin ribut datang melanda. Semuanya ini menjadi bala bagi semua manusia. Firman Allah:
“ Lahirlah kerosakan dilautan dan daratan, hasil tangan manusia itu sendiri.” - Ar Rom: 40
Segala-galanya ini tiada lain melainkan kerana kelalaian manusia menghormati peraturan Allah sama ada yang berlaku pada alam tabi’ie mahupun yang berlaku atas perbuatan hamba-Nya. Lalai daripada mensyukuri nikmat sebenarnya adalah dosa kerana tidak mengenangkan jasa bakti Allah kepada kita yang telah kita kecapi sewenang-wenangnya. Bila kita sentiasa dalam keadaan berdosa ertinya kita sedang menzalimi diri sendiri kerana dengannya bakal menjerumuskan kita dalam kecelakaan dunia dan akhirat.
Oleh itu mengaku diri sentiasa berdosa ataupun zalim adalah wajar dan elok sekali dilakukan. Kerana pengakuan demikian menunjukkan kita beradab dengan tuhan. Merendahkan diri dengan Allah dan rasa bersalah selalu. Mudah-mudahan nanti ianya akan membuahkan penyesalan dan sifat menginsafi diri yang membuka jalan untuk rujuk kembali kepada Allah SWT. Nescaya dengan itu Allah senang dengan kita, sebab rintihan hamba Allah yang bertaubat itu lebih disukai-Nya daripada gentelan tasbih para wali.
Bandingannya, kalau dalam kita berkawan, tiba-tiba kawan kita selalu berkata, “minta maaf ya, kalau saya ada silap….” Perkataan ini sudah cukup untuk menyejukkan hati kita. Sebab perasaan suka terhadap orang yang meminta maafitu memang fitrah kejadian manusia. Apalagi kalau orang itu memang membuat anaiya pada kita.
Kalaulah kita sebagai manusia terasa senang bila orang meminta maaf dengan penuh rendah hati kepada kita, tentulah Allah SWT lagi senang kalau hamba-hambaNya sentiasa meminta ampun dan mengaku kesalahan diri sendiri. Merintihlah, “ wahai tuhan, tiadalah yang layak ku sembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku ini telah menzalimi diriku. Aku selalu berdosa, wahai Tuhan. Ampunilah daku…”
Jadi Allah SWT jadikan tiap sesuatu itu ada mempunyai hikmah yang mesti kita ambil pengajaran dan syukuri. Semuanya Allah jadikan untuk keperluan manusia sebagai khlifa-nya di atas mukabumi.
Namun begitu, yang malangnya sangat sedikit manusia yang tahu bersyukur. Firman Allah:
“ Sedikit sekali antara hamba-hamba-ku yang bersyukur.” - sabar’: 13
dan disebabkan terlalu sediktnya manusia yang tergolong dalam golongan yang bersyukur maka berkemungkinan besar kita tergolong dalam kalangan hamba Allah yang tiada pandai bersyukur. Oleh itu mengaku sahajalah pada diri sendiri dengan berkata, “ Maha Suci Engkau Ya Allah, Sesungguhnya Aku Tergolong Dalam Golongan Hamba-hamba Mu Yang Zalim…”
Subscribe to:
Posts (Atom)