Saturday, December 31, 2011
Tuesday, December 6, 2011
KEUTAMAAN MEMBACA DAN MENGKAJI AL-QUR’AN
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah swt dan mendirikan sembahyang dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengaan diam-diam dan terangterangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah swt menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir 35:29-30)
“Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Riwayat Al-Bukhari)
“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Sesunggunya Allah swt mengangkat derajat beberapa golongan manusia dengan kalam ini dan merendahkan derajat golongan lainnya.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.” (Riwayat Muslim)
“Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua seperti orang: yaitu orang lelaki yang diberi Allah swt pengetahuan tentang Al-Qur’an dan diamalkannya sepanjang malam dan siang; dan orang lelaki yang dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia menafkahkannya sepanjang malam dan siang.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Barangsiapa membaca satu huruf Kitab Allah, maka dia mendapat pahala satu kebaikan sedangkan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.” (Riwayat At-Tirmidzi)
Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman:
“Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan kepadanya sebiak-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya. (Riwayat Tirmidzi)
“Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti rumah yang roboh.” (Riwayat Tirmidzi)
“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I)
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan ini.” (Riwayat Abu Dawud)
Abdul Humaidi Al-Hamani, berkata: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab: “Membaca Al-Qur’an. Karena Nabi saw bersabda. ‘Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Imam An-Nawawi
dkmfahutan.wordpress
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah swt dan mendirikan sembahyang dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengaan diam-diam dan terangterangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah swt menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir 35:29-30)
“Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Riwayat Al-Bukhari)
“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Sesunggunya Allah swt mengangkat derajat beberapa golongan manusia dengan kalam ini dan merendahkan derajat golongan lainnya.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.” (Riwayat Muslim)
“Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua seperti orang: yaitu orang lelaki yang diberi Allah swt pengetahuan tentang Al-Qur’an dan diamalkannya sepanjang malam dan siang; dan orang lelaki yang dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia menafkahkannya sepanjang malam dan siang.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Barangsiapa membaca satu huruf Kitab Allah, maka dia mendapat pahala satu kebaikan sedangkan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.” (Riwayat At-Tirmidzi)
Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman:
“Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan kepadanya sebiak-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya. (Riwayat Tirmidzi)
“Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti rumah yang roboh.” (Riwayat Tirmidzi)
“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I)
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan ini.” (Riwayat Abu Dawud)
Abdul Humaidi Al-Hamani, berkata: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab: “Membaca Al-Qur’an. Karena Nabi saw bersabda. ‘Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Imam An-Nawawi
dkmfahutan.wordpress
Monday, December 5, 2011
budidaya kroto / semut rangrang merupakan ladang emas
Siapa yang tak
kenal binatang yang satu ini? Hampir
semua orang pencinta burung ocehan atau
berkicau, atau penggemar hoby
burung.
Kroto adalah telur yang dihasilkan oleh
semut rangrang. Kroto merupakan salah
satu sumber protein hewani terbaik dan
bagus untuk pakan burung terutama
burung ocean atau berkicau. Dengan
semakin banyaknya pencinta burung ocean
maka semakin besar pula pemintaan
produk yang satu ini.
Kata emas pada judul di atas mungkin
sepadan dengan bentuk warna tubuh dari
hewan ini. Semut rangrang memang
tergolong semut api (fire ants) dengan
genus Oecophylla, famili Formicidae dan
ordo Hymenoptera. Tapi jangan salah,
semut ini ternyata memiliki kelebihan
tersendiri. Selain sebagai penghasil kroto,
bagi para petani semut rangrang cukup
berguna sebagai pembasmi dan pengendali
hama tanaman. Semut rangrang dapat
membunuh hama tanaman yang
menyebabkan tanaman para petani itu
tidak tumbuh dengan baik.
Peluang usaha
Selama ini pasokan pasar burung atau toko
yang menjual pakan burung hanya
menggantungkan dari pengumpul kroto
yang berasal dari tangkapan alam. Kita
tahu alam tidak setiap saat menyediakan
kroto apalagi saat musim penghujan. Hal
lain yang mendorong kegiatan budidaya
adalah usaha ini tidak banyak
membutuhkan modal dan juga tingkat
teknologi yang tinggi. Semua orang bisa
mengusahakan kegiatan budidaya ini baik
untuk tujuan komersial atau hanya untuk
mencukupi kebutuhan kita sendiri. Kami
yakin, kalau kegiatan ini dikelola dengan
manajemen yang baik tidak mustahil akan
menjadi peluang usaha yang cukup
menjanjikan.
Kehidupan semut rangrang memang
identik dengan kehidupan masyarakat
perdesaan. Bagi sebagian orang, kroto dari
semut rangrang merupakan sumber
penghasilan baru dan dianggap sebagai
salah satu cara bagi masyarakat miskin
untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Sebuah penghasilan yang bisa diperoleh
secara cuma-cuma dan tanpa mengganggu
waktu dan kegiatan bertani mereka.
Dengan cara yang praktis dan mudah saja
mereka bisa mendapatkan kroto semut
rangrang tersebut. Nah, bagaimana kalau
diusahakan secara professional?
Lokasi atau habitat
Mungkin agak sedikit aneh bin ajaib bahwa
jenis semut ini adalah semut yang
menyukai udara yang bersih dan sangat
anti dengan udara berpolusi. Makanya
kegiatan ini jarang dijumpai di daerah
perkotaan karena kita ketahui bersama
bagaimana keadaan udara di daerah
perkotaan. Habitat yang cocok untuk
membudidayakan semut ini antara lain
daerah perkebunan atau perhutani. Semut-
semut ini bisa menyerbu hampir semua
jenis pohon, tetapi lebih menyukai pohon
buah-buahan dan mempunyai ukuran daun
yang agak lebar seperti nangka, mahoni
atau mangga. Pohon lain yang banyak
disukai adalah randu, mente (jambu
monyet), jambu air, duwet atau juwet, dan
lainnya.
Alam Indoensia sebenarnya masih sangat
potensial untuk dimanfaatkan budidaya
semut rangrang. Daerah perdesaan dengan
beranekaragam tanamannya, areal
perkebunanan, kawasan perhutani adalah
lokasi yang sangat potensial untuk
budidaya semut rangrang. Tidak perlu
membeli perkebunan, cukup dengan
menyewa lahan tersebut. Tapi memang
ada satu kelemahan yaitu lambat laun
orang yang menyewakan lahan tersebut
akan mengetahui peluang bisnis ini dan
akan mengambil alih kegiatan ini. Jika
demikian yang ditakutkan maka memiliki
pohon sendiri adalah lebih baik untuk
usaha jangka panjang.
Manfaat membudidayakan semut rangrang
Banyak manfaat yang akan kita peroleh
apabila kita memelihara semut rangrang, di
antaranya :
1. Sebagai pengendali hama tanaman
tertentu, sehingga anda tidak perlu
membeli insektisida untuk membasmi kutu
daun.
2. Digunakan sebagian para pemancing dan
nelayan sebagai umpan ikan
3. Sebagai makanan tambahan untuk
meningkatkan ketrampilan burung
berkicau
4. Membantu penyerbukan jenis tanaman
tertentu
5. Dapat membantu menjaga kebun
Pemasaran
Menjual kroto tidaklah sesulit yang kita
bayangkan. Cukup datang ke kios penjual
pakan burung kami yakin kroto anda akan
terbeli. Karena sampai saat ini jumlah
permintaan produk yang satu ini masih
tinggi dan keberadaannya belum bisa
digantikan oleh produk lain. Di samping itu
juga para konsumen produk ini tergolong
kelas menengah ke atas sehingga
keberadaannya akan diburu berapapun
harga yang di tawarkan.
Menjual kroto yang larva nya masih hidup
lebih tinggi daripada kroto yang sudah
dikeringkan. Akan tetapi larva kroto hidup
hanya bisa disimpan hidup selama dua-tiga
hari, ada juga yang menjual kroto yang
dikeringkan oleh para pengumpul. Kroto
kering ini bisa disimpan selama enam
bulan, tetapi harga jualnya hanya setengah
harga larva hidup. Jalur pemasaran
biasanya para pengumpul kroto menjual
krotonya ke pedagang, kemudain dari
pedagang kroto ini akan dijual lagi ke
pengecer kecil. Nah kalau mau untung
besar maka jalur ini bisa kita perpendek
dengan menjual kroto kita langsung ke
pengecer. Keuntungannya adalah kroto
cepat terdistribusi dan harganyapun lebih
mahal.
Sumber : http://www.sentralternak.com
cara mengembang biakan kroto sekarang ini bisa kita kembangkan secara tradisional seperti kita memindahkan induk dari pohon yang satu kepohon yang lainnya.selain itu kita bisa mengembangkannya secara intensif seperti pengalaman waktu saya kecil.
cibuluh.blogspot
kenal binatang yang satu ini? Hampir
semua orang pencinta burung ocehan atau
berkicau, atau penggemar hoby
burung.
Kroto adalah telur yang dihasilkan oleh
semut rangrang. Kroto merupakan salah
satu sumber protein hewani terbaik dan
bagus untuk pakan burung terutama
burung ocean atau berkicau. Dengan
semakin banyaknya pencinta burung ocean
maka semakin besar pula pemintaan
produk yang satu ini.
Kata emas pada judul di atas mungkin
sepadan dengan bentuk warna tubuh dari
hewan ini. Semut rangrang memang
tergolong semut api (fire ants) dengan
genus Oecophylla, famili Formicidae dan
ordo Hymenoptera. Tapi jangan salah,
semut ini ternyata memiliki kelebihan
tersendiri. Selain sebagai penghasil kroto,
bagi para petani semut rangrang cukup
berguna sebagai pembasmi dan pengendali
hama tanaman. Semut rangrang dapat
membunuh hama tanaman yang
menyebabkan tanaman para petani itu
tidak tumbuh dengan baik.
Peluang usaha
Selama ini pasokan pasar burung atau toko
yang menjual pakan burung hanya
menggantungkan dari pengumpul kroto
yang berasal dari tangkapan alam. Kita
tahu alam tidak setiap saat menyediakan
kroto apalagi saat musim penghujan. Hal
lain yang mendorong kegiatan budidaya
adalah usaha ini tidak banyak
membutuhkan modal dan juga tingkat
teknologi yang tinggi. Semua orang bisa
mengusahakan kegiatan budidaya ini baik
untuk tujuan komersial atau hanya untuk
mencukupi kebutuhan kita sendiri. Kami
yakin, kalau kegiatan ini dikelola dengan
manajemen yang baik tidak mustahil akan
menjadi peluang usaha yang cukup
menjanjikan.
Kehidupan semut rangrang memang
identik dengan kehidupan masyarakat
perdesaan. Bagi sebagian orang, kroto dari
semut rangrang merupakan sumber
penghasilan baru dan dianggap sebagai
salah satu cara bagi masyarakat miskin
untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Sebuah penghasilan yang bisa diperoleh
secara cuma-cuma dan tanpa mengganggu
waktu dan kegiatan bertani mereka.
Dengan cara yang praktis dan mudah saja
mereka bisa mendapatkan kroto semut
rangrang tersebut. Nah, bagaimana kalau
diusahakan secara professional?
Lokasi atau habitat
Mungkin agak sedikit aneh bin ajaib bahwa
jenis semut ini adalah semut yang
menyukai udara yang bersih dan sangat
anti dengan udara berpolusi. Makanya
kegiatan ini jarang dijumpai di daerah
perkotaan karena kita ketahui bersama
bagaimana keadaan udara di daerah
perkotaan. Habitat yang cocok untuk
membudidayakan semut ini antara lain
daerah perkebunan atau perhutani. Semut-
semut ini bisa menyerbu hampir semua
jenis pohon, tetapi lebih menyukai pohon
buah-buahan dan mempunyai ukuran daun
yang agak lebar seperti nangka, mahoni
atau mangga. Pohon lain yang banyak
disukai adalah randu, mente (jambu
monyet), jambu air, duwet atau juwet, dan
lainnya.
Alam Indoensia sebenarnya masih sangat
potensial untuk dimanfaatkan budidaya
semut rangrang. Daerah perdesaan dengan
beranekaragam tanamannya, areal
perkebunanan, kawasan perhutani adalah
lokasi yang sangat potensial untuk
budidaya semut rangrang. Tidak perlu
membeli perkebunan, cukup dengan
menyewa lahan tersebut. Tapi memang
ada satu kelemahan yaitu lambat laun
orang yang menyewakan lahan tersebut
akan mengetahui peluang bisnis ini dan
akan mengambil alih kegiatan ini. Jika
demikian yang ditakutkan maka memiliki
pohon sendiri adalah lebih baik untuk
usaha jangka panjang.
Manfaat membudidayakan semut rangrang
Banyak manfaat yang akan kita peroleh
apabila kita memelihara semut rangrang, di
antaranya :
1. Sebagai pengendali hama tanaman
tertentu, sehingga anda tidak perlu
membeli insektisida untuk membasmi kutu
daun.
2. Digunakan sebagian para pemancing dan
nelayan sebagai umpan ikan
3. Sebagai makanan tambahan untuk
meningkatkan ketrampilan burung
berkicau
4. Membantu penyerbukan jenis tanaman
tertentu
5. Dapat membantu menjaga kebun
Pemasaran
Menjual kroto tidaklah sesulit yang kita
bayangkan. Cukup datang ke kios penjual
pakan burung kami yakin kroto anda akan
terbeli. Karena sampai saat ini jumlah
permintaan produk yang satu ini masih
tinggi dan keberadaannya belum bisa
digantikan oleh produk lain. Di samping itu
juga para konsumen produk ini tergolong
kelas menengah ke atas sehingga
keberadaannya akan diburu berapapun
harga yang di tawarkan.
Menjual kroto yang larva nya masih hidup
lebih tinggi daripada kroto yang sudah
dikeringkan. Akan tetapi larva kroto hidup
hanya bisa disimpan hidup selama dua-tiga
hari, ada juga yang menjual kroto yang
dikeringkan oleh para pengumpul. Kroto
kering ini bisa disimpan selama enam
bulan, tetapi harga jualnya hanya setengah
harga larva hidup. Jalur pemasaran
biasanya para pengumpul kroto menjual
krotonya ke pedagang, kemudain dari
pedagang kroto ini akan dijual lagi ke
pengecer kecil. Nah kalau mau untung
besar maka jalur ini bisa kita perpendek
dengan menjual kroto kita langsung ke
pengecer. Keuntungannya adalah kroto
cepat terdistribusi dan harganyapun lebih
mahal.
Sumber : http://www.sentralternak.com
cara mengembang biakan kroto sekarang ini bisa kita kembangkan secara tradisional seperti kita memindahkan induk dari pohon yang satu kepohon yang lainnya.selain itu kita bisa mengembangkannya secara intensif seperti pengalaman waktu saya kecil.
cibuluh.blogspot
Friday, September 9, 2011
Awal dari Cinta
Awal dari Cinta
Kafil Yamin
Wartawan free-lace
a
Bung Beni Panjaitan, maaf judul lagu Bung saya pake untuk artikel ini.
SESEORANG akan bersikap baik dan hormat secara tulus kepada sesuatu bila ia mencintai sesuatu itu. Tak ada perilaku dan sikap baik yang timbul dari rasa tidak suka.
Tentu, orang bisa bersikap baik dan hormat tanpa mencintai. Tapi yang demikian itu bukan perilaku sebenarnya. Engkau bisa memberi tanpa cinta, tapi engkau tak bisa mencintai tanpa memberi.
Pribadi-pribadi bersinar dalam sejarah Indonesia pun adalah para pecinta bangsanya. Cinta kepada bangsa lah yang mendorong mereka bersikap sebagai manusia sejati dan berperilaku mulia.
“Tuhan memberiku satu hidup,” kata Soekarno suatu waktu di hadapan staff kedutaan Indonesia di Washington. “Dan hidup yang satu itu, seratus persen, kupersembahkan untuk pembangunan negara dan bangsa.”
“Dan andaikata,” katanya lagi, “Tuhan memberiku dua hidup. Dua-duanya akan kupersembahkan untuk pembangunan negara dan bangsa Indonesia.”
Itulah ungkapan cinta si bung.
Karena itu, tanpa cinta, adalah jauh panggang dari api bila hendak membangun dan mengembangkan perilaku dan akhlak mulia terhadap alam dan lingkungan. Orang harus mencintai lingkungan alam dan masyarakatnya, baru dia bisa menumbuhkan perilaku baik dan hormat terhadapnya.
Jalan pikiran sederhana ini bisa dipakai mengukur: bila sebuah masyarakat atau bangsa bersikap dan berperilaku buruk terhadap alam sekelilingnya, bisa dipastikan mereka tidak mencintai lingkungan alam dan sosialnya itu. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari manusia, sebagai pribadi atau masyarakat, yang hampa cinta? Karena yang akan muncul adalah pikiran dan sikap negatif.
Karena itu, tanpa rasa cinta kepada alam sekeliling, kepada tanah air, kepada sesama bangsa, tak mungkin timbul perilaku baik. Bahkan akhlak Islam pun tak akan tumbuh, meski ajaran Islam difahami dan aspek ubudiyahnya diamalkan tiap hari. Bukankah banyak contoh perkara orang taat beragama tapi memelihara kebencian kepada sesama?
Tapi, bagaimanakah cinta bisa tumbuh? Jawabannya: dengan pengetahuan, ilmu dan pengalaman.
Semua manusia terlahir membawa ‘modal’ cinta. Modal ini tak lebih dari benih. Bila tidak disemai dan dipelihara, ia tak akan tumbuh dan merekah. Banyak dari kita tak punya waktu cukup untuk menyemai, menumbuhkan dan memelihara cinta, yakni dengan ilmu pengetahuan dan penghayatan terhadap tadi, akibatnya cintanya tidak berkembang, bahkan defisit.
Defisit? Ya. Cintanya tetap terbatas: pada lingkungan keluarga; pada kekasih; pada rumah dan mobil; pada uang.
Dan cinta yang defisit, kalau digunakan penuh, biasanya menyebabkan minus cinta pada hal-hal lain. Minus cinta adalah sikap negatif – kebencian atau ketakpedulian. Manusia dengan cinta yang defisit mencintai anak-istrinya, rumahnya, mobilnya, tapi tak peduli terhadap tetangga di sebelahnya; terhadap lingkungan sekelilingnya, sebab cintanya sudah habis hanya untuk keluarga dan kekayaannya.
Para koruptor adalah contoh manusia dengan cinta defisit. Cinta kepada kekayaan dan keluarga menyebabkan tak ada sisa cinta kepada sesama manusia di luar keluarga dan hartanya itu. Kaum politisi mentah adalah juga contoh manusia defisit cinta: cinta kepada partai menyebabkannya benci kepada pihak lain atau pesaing politik mereka.
Kehidupan agama, bila tidak dibarengi pemupukan cinta, bisa menjadi wakil cinta defisit itu. Orang mencintai organisasi dan madzhabnya begitu rupa dan menganggap faham lain sebagai hal yang perlu dimusnahkan dari muka bumi.
Tanpa pengembangan ilmu pengetahuan dalam beragama, agama malah akan jadi sekat-sekat bahkan benih konflik sosial, karena menarik cinta hanya kedalam. Bahkan Tuhan pun hanya miliknya. Padahal, Tuhan lah sumber cinta bagi segala makhluk.
Hanya ada dua kemungkinan bagi agama bila tidak dibarengi dengan pengembangan ilmu pengetahuan, yakni menjadi sumber perseteruan atau ditinggalkan sama sekali.
Ada faham keagamaan yang menganjurkan mengabaikan, menghina, bahkan membenci dunia. Tentu, yang disebut ‘lingkungan’ adalah alam dunia dan masyarakat sekeliling. Karena itu, faham seperti ini tak mungkin menumbuhkan akhlak yang mulia terhadap lingkungan. Tidak mungkin melahirkan ‘akhlak al-bi’ah’ atau ‘adab al-bi’ah’.
Terlepas dari faham seperti itu, yang disokong dengan hadits-hadits yang susah ditelusuri keabsahannya, al-Qur’an dengan tegas dan jelas mengamanatkan cinta kepada alam. Bahwa makhluk-makhluk lain, binatang melata dan serangga sekalipun, adalah ‘ummah seperti kamu’.
Pesan-pesan seperti ‘janganlah berbuat kerusakan di muka bumi’, ‘lihatlah bagaimana Allah menurunkan hujan dari langit, dan dengan itu menghidupkan bumi setelah matinya’ …seperti tertutupi oleh hadits-hadits, syair atau pepatah kaum pecundang yang tak bisa bersaing dan fastabiqul khairat, dan akhirnya memilih sikap negatif: merendahkan dan membenci dunia.
Cinta tumbuh dengan pengenalan dan pengetahuan. Orang yang pengenalan dan pengetahuannya luas cintanya juga luas. Orang yang tak punya pengetahuan dan pengenalan tentang sesuatu tidak akan mencintai sesuatu itu.
Organisasi-organisasi asing dan komunitas internasional lebih peduli kepada kelestarian alam Indonesia daripada orang Indonesia sendiri karena mereka punya pengetahuan lebih tentangnya. Mereka melakukan penelitian, dokumentasi, uji coba, lebih yang dilakukan orang Indonesia sendiri.
Ini pun bisa dijadikan ukuran bahwa kebanyakan orang Indonesia masih kekurangan pengetahuan tentang lingukan alamnya sendiri sehingga kepedulian dan cintanya tidak tumbuh.
Berapa persenkah dari satu penduduk kampung yang mengetahui nilai dan kegunaan sungai yang mengaliri kampungnya? Dan karena itu, berapa persenkah dari mereka yang mengetahui dampak perbuatan mereka membuang sampah kedalamnya? Berapa persenkah dari orang Indonesia yang mengetahui nilai dan kegunaan pohon-pohon di hulu sungai? Dan dampak dari membabat pohon-pohon di sana?
Tahukah mereka dampak jangka pendek dan panjang dari membuang sampah di jalan? Di kali? Di halaman mesjid?
Cinta pun tumbuh dengan pengalaman. Seseorang mengalami atau merasa menerima manfaat, kebaikan, kesenangan, dari sesuatu sehingga timbul cinta kepada sesuatu itu. Kebaikan, kesenangan, manfaat yang ditimbulkan seseorang kepada kita akan menimbulkan cinta dan hormat kita kepadanya — untuk kemudian menumbuhkan sikap dan perilaku.
Tapi orang hanya akan bersikap balik demikian bila perasaannya sehat. Bila ia merasakan manfaat dan kebaikan yang diterimanya. Kesehatan kallbunya yan menyebabkan ia secara naluriah bertimbal balik baik kepada yang memberinya kebaikan dan manfaat.
Sebab, cukup banyak manusia yang mengalami dan menerima kebaikan dari pihak atau orang lain, tapi tak ‘merasakan’ kebaikannya itu. Sehingga timbal balik yang baik tidak timbul darinya. Cinta dan hormat tidak tumbuh.
Keadaan seperti ini bisa disebabkan dua hal: pertama, kalbu orang yang bersangkutan mati. Tidak sensitif. Kedua: saking biasa dan seringnya kebaikan itu dia terima sehingga dia tak merasakan sebagai kebaikan. Kebanyakan manusia besikap yang kedua ini.
Tidak ada rasa syukur, tidak ada rasa tahu diri, memang bisa terjadi kepada orang yang berlimpah anugrah. Karena sikapnya itu, dia tak merasa berlimpah anugrah, malah merasa menderita, bermasalah, dan karena itu bersikap negatif.
Bangsa Indonesia dianugrahi kenikmatan alam yang begitu rupa: kesuburan tanah, kelimpahan air, hari yang selalu dihadiri sinar matahari, pemandangan yang elok, tapi sikap kebanyakan terhadap semua kenikmatan ini malah negatif: sungai dicemari, lahan-lahan subur dirusak, tempat-tempat dan sarana umum dikotori. Bangsa Indonesia, dengan melihatnya secara umum, adalah bangsa yang tidak bersyukur. Bangsa yang tidak tahu diri.
Ini belum menyebut limpahan kekayaan lain di bawah buminya: cadangan berbagai logam mulia, intan permata, minyak, gas, batubara. Di hutan, tak terhitung keankeragaman hayati hidup dan berkembang. Di laut, populasi ikan lebih dari cukup untuk memberi makan 240 juta orang Indonesia ikan segar saban hari sekalipun!
Lantas apa sikap kebanyakan orang Indonesia terhadap semua kelimpahan itu? Hutan dibabat dan dibagi-bagi ke perusahaan perkebunan atau perusahaan penebang. Cadangan logam mulia diberikan kepada penguras harta karun asing. Laut yang kaya kita biarkan dijarah ratusan kapal asing setiap hari.
Dalam hal pengetahuan , kita kurang. Dalam hal perasaan, kita tumpul. Apaboleh buat, cinta kita pun defisit.
Dan pada masyarakat yang hampa cinta, tak bisa diharapkan akan tumbuh perilaku dan akhlak mulia – terhadap apa pun.
Lantas apa fungsi pendidikan di Indonesia selama ini? Pendidikan di Indonesia belum mengajarkan pengetahuan yang benar tentang kekayaan negerinya. Tidak ada informasi dan bahasan mengenai cadangan emas dan tembaga di Papua, Sumbawa, atau Sulawesi Tenggara dalam buku pelajaran di masing-masing tempat itu. Tidak ada pelajaran tentang cadangan alumunium di Samosir, nikel di Sultra, batubara di Kalimatan, biji besi di Sumbar, di kurikulum sekolah masing-masing tempat itu.
Pendidikan Indonesia pun belum menanamkan perasaan menerima dari alam lingkungan akan berbagai kenikmatan. Dan karena itu belum juga bisa menanamkan rasa terima kasih padanya. Pendidikan kita tidak mengembangkan rasa syukur, tapi lebih banyak menghidupkan ambisi.
Bagaimana mungkin? Orang tak punya rasa terima kasih dan hormat kepada bumi yang tiap hari menghidupinya? Memberinya kegirangan dan kenyamanan?
Para murid dan siswa sangat rajin diajari semangat mengejar dan mencapai cita-cita, tapi nyaris tak pernah diajari semangat dan kerelaan untuk memberi.[]
Kunjungi Kafil Yamin:
http://kafilyamin.wordpress.com/
http://kafilyamin.blogspot.com/
http://gerakpena.com/?page_id=10
Kafil Yamin
Wartawan free-lace
a
Bung Beni Panjaitan, maaf judul lagu Bung saya pake untuk artikel ini.
SESEORANG akan bersikap baik dan hormat secara tulus kepada sesuatu bila ia mencintai sesuatu itu. Tak ada perilaku dan sikap baik yang timbul dari rasa tidak suka.
Tentu, orang bisa bersikap baik dan hormat tanpa mencintai. Tapi yang demikian itu bukan perilaku sebenarnya. Engkau bisa memberi tanpa cinta, tapi engkau tak bisa mencintai tanpa memberi.
Pribadi-pribadi bersinar dalam sejarah Indonesia pun adalah para pecinta bangsanya. Cinta kepada bangsa lah yang mendorong mereka bersikap sebagai manusia sejati dan berperilaku mulia.
“Tuhan memberiku satu hidup,” kata Soekarno suatu waktu di hadapan staff kedutaan Indonesia di Washington. “Dan hidup yang satu itu, seratus persen, kupersembahkan untuk pembangunan negara dan bangsa.”
“Dan andaikata,” katanya lagi, “Tuhan memberiku dua hidup. Dua-duanya akan kupersembahkan untuk pembangunan negara dan bangsa Indonesia.”
Itulah ungkapan cinta si bung.
Karena itu, tanpa cinta, adalah jauh panggang dari api bila hendak membangun dan mengembangkan perilaku dan akhlak mulia terhadap alam dan lingkungan. Orang harus mencintai lingkungan alam dan masyarakatnya, baru dia bisa menumbuhkan perilaku baik dan hormat terhadapnya.
Jalan pikiran sederhana ini bisa dipakai mengukur: bila sebuah masyarakat atau bangsa bersikap dan berperilaku buruk terhadap alam sekelilingnya, bisa dipastikan mereka tidak mencintai lingkungan alam dan sosialnya itu. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari manusia, sebagai pribadi atau masyarakat, yang hampa cinta? Karena yang akan muncul adalah pikiran dan sikap negatif.
Karena itu, tanpa rasa cinta kepada alam sekeliling, kepada tanah air, kepada sesama bangsa, tak mungkin timbul perilaku baik. Bahkan akhlak Islam pun tak akan tumbuh, meski ajaran Islam difahami dan aspek ubudiyahnya diamalkan tiap hari. Bukankah banyak contoh perkara orang taat beragama tapi memelihara kebencian kepada sesama?
Tapi, bagaimanakah cinta bisa tumbuh? Jawabannya: dengan pengetahuan, ilmu dan pengalaman.
Semua manusia terlahir membawa ‘modal’ cinta. Modal ini tak lebih dari benih. Bila tidak disemai dan dipelihara, ia tak akan tumbuh dan merekah. Banyak dari kita tak punya waktu cukup untuk menyemai, menumbuhkan dan memelihara cinta, yakni dengan ilmu pengetahuan dan penghayatan terhadap tadi, akibatnya cintanya tidak berkembang, bahkan defisit.
Defisit? Ya. Cintanya tetap terbatas: pada lingkungan keluarga; pada kekasih; pada rumah dan mobil; pada uang.
Dan cinta yang defisit, kalau digunakan penuh, biasanya menyebabkan minus cinta pada hal-hal lain. Minus cinta adalah sikap negatif – kebencian atau ketakpedulian. Manusia dengan cinta yang defisit mencintai anak-istrinya, rumahnya, mobilnya, tapi tak peduli terhadap tetangga di sebelahnya; terhadap lingkungan sekelilingnya, sebab cintanya sudah habis hanya untuk keluarga dan kekayaannya.
Para koruptor adalah contoh manusia dengan cinta defisit. Cinta kepada kekayaan dan keluarga menyebabkan tak ada sisa cinta kepada sesama manusia di luar keluarga dan hartanya itu. Kaum politisi mentah adalah juga contoh manusia defisit cinta: cinta kepada partai menyebabkannya benci kepada pihak lain atau pesaing politik mereka.
Kehidupan agama, bila tidak dibarengi pemupukan cinta, bisa menjadi wakil cinta defisit itu. Orang mencintai organisasi dan madzhabnya begitu rupa dan menganggap faham lain sebagai hal yang perlu dimusnahkan dari muka bumi.
Tanpa pengembangan ilmu pengetahuan dalam beragama, agama malah akan jadi sekat-sekat bahkan benih konflik sosial, karena menarik cinta hanya kedalam. Bahkan Tuhan pun hanya miliknya. Padahal, Tuhan lah sumber cinta bagi segala makhluk.
Hanya ada dua kemungkinan bagi agama bila tidak dibarengi dengan pengembangan ilmu pengetahuan, yakni menjadi sumber perseteruan atau ditinggalkan sama sekali.
Ada faham keagamaan yang menganjurkan mengabaikan, menghina, bahkan membenci dunia. Tentu, yang disebut ‘lingkungan’ adalah alam dunia dan masyarakat sekeliling. Karena itu, faham seperti ini tak mungkin menumbuhkan akhlak yang mulia terhadap lingkungan. Tidak mungkin melahirkan ‘akhlak al-bi’ah’ atau ‘adab al-bi’ah’.
Terlepas dari faham seperti itu, yang disokong dengan hadits-hadits yang susah ditelusuri keabsahannya, al-Qur’an dengan tegas dan jelas mengamanatkan cinta kepada alam. Bahwa makhluk-makhluk lain, binatang melata dan serangga sekalipun, adalah ‘ummah seperti kamu’.
Pesan-pesan seperti ‘janganlah berbuat kerusakan di muka bumi’, ‘lihatlah bagaimana Allah menurunkan hujan dari langit, dan dengan itu menghidupkan bumi setelah matinya’ …seperti tertutupi oleh hadits-hadits, syair atau pepatah kaum pecundang yang tak bisa bersaing dan fastabiqul khairat, dan akhirnya memilih sikap negatif: merendahkan dan membenci dunia.
Cinta tumbuh dengan pengenalan dan pengetahuan. Orang yang pengenalan dan pengetahuannya luas cintanya juga luas. Orang yang tak punya pengetahuan dan pengenalan tentang sesuatu tidak akan mencintai sesuatu itu.
Organisasi-organisasi asing dan komunitas internasional lebih peduli kepada kelestarian alam Indonesia daripada orang Indonesia sendiri karena mereka punya pengetahuan lebih tentangnya. Mereka melakukan penelitian, dokumentasi, uji coba, lebih yang dilakukan orang Indonesia sendiri.
Ini pun bisa dijadikan ukuran bahwa kebanyakan orang Indonesia masih kekurangan pengetahuan tentang lingukan alamnya sendiri sehingga kepedulian dan cintanya tidak tumbuh.
Berapa persenkah dari satu penduduk kampung yang mengetahui nilai dan kegunaan sungai yang mengaliri kampungnya? Dan karena itu, berapa persenkah dari mereka yang mengetahui dampak perbuatan mereka membuang sampah kedalamnya? Berapa persenkah dari orang Indonesia yang mengetahui nilai dan kegunaan pohon-pohon di hulu sungai? Dan dampak dari membabat pohon-pohon di sana?
Tahukah mereka dampak jangka pendek dan panjang dari membuang sampah di jalan? Di kali? Di halaman mesjid?
Cinta pun tumbuh dengan pengalaman. Seseorang mengalami atau merasa menerima manfaat, kebaikan, kesenangan, dari sesuatu sehingga timbul cinta kepada sesuatu itu. Kebaikan, kesenangan, manfaat yang ditimbulkan seseorang kepada kita akan menimbulkan cinta dan hormat kita kepadanya — untuk kemudian menumbuhkan sikap dan perilaku.
Tapi orang hanya akan bersikap balik demikian bila perasaannya sehat. Bila ia merasakan manfaat dan kebaikan yang diterimanya. Kesehatan kallbunya yan menyebabkan ia secara naluriah bertimbal balik baik kepada yang memberinya kebaikan dan manfaat.
Sebab, cukup banyak manusia yang mengalami dan menerima kebaikan dari pihak atau orang lain, tapi tak ‘merasakan’ kebaikannya itu. Sehingga timbal balik yang baik tidak timbul darinya. Cinta dan hormat tidak tumbuh.
Keadaan seperti ini bisa disebabkan dua hal: pertama, kalbu orang yang bersangkutan mati. Tidak sensitif. Kedua: saking biasa dan seringnya kebaikan itu dia terima sehingga dia tak merasakan sebagai kebaikan. Kebanyakan manusia besikap yang kedua ini.
Tidak ada rasa syukur, tidak ada rasa tahu diri, memang bisa terjadi kepada orang yang berlimpah anugrah. Karena sikapnya itu, dia tak merasa berlimpah anugrah, malah merasa menderita, bermasalah, dan karena itu bersikap negatif.
Bangsa Indonesia dianugrahi kenikmatan alam yang begitu rupa: kesuburan tanah, kelimpahan air, hari yang selalu dihadiri sinar matahari, pemandangan yang elok, tapi sikap kebanyakan terhadap semua kenikmatan ini malah negatif: sungai dicemari, lahan-lahan subur dirusak, tempat-tempat dan sarana umum dikotori. Bangsa Indonesia, dengan melihatnya secara umum, adalah bangsa yang tidak bersyukur. Bangsa yang tidak tahu diri.
Ini belum menyebut limpahan kekayaan lain di bawah buminya: cadangan berbagai logam mulia, intan permata, minyak, gas, batubara. Di hutan, tak terhitung keankeragaman hayati hidup dan berkembang. Di laut, populasi ikan lebih dari cukup untuk memberi makan 240 juta orang Indonesia ikan segar saban hari sekalipun!
Lantas apa sikap kebanyakan orang Indonesia terhadap semua kelimpahan itu? Hutan dibabat dan dibagi-bagi ke perusahaan perkebunan atau perusahaan penebang. Cadangan logam mulia diberikan kepada penguras harta karun asing. Laut yang kaya kita biarkan dijarah ratusan kapal asing setiap hari.
Dalam hal pengetahuan , kita kurang. Dalam hal perasaan, kita tumpul. Apaboleh buat, cinta kita pun defisit.
Dan pada masyarakat yang hampa cinta, tak bisa diharapkan akan tumbuh perilaku dan akhlak mulia – terhadap apa pun.
Lantas apa fungsi pendidikan di Indonesia selama ini? Pendidikan di Indonesia belum mengajarkan pengetahuan yang benar tentang kekayaan negerinya. Tidak ada informasi dan bahasan mengenai cadangan emas dan tembaga di Papua, Sumbawa, atau Sulawesi Tenggara dalam buku pelajaran di masing-masing tempat itu. Tidak ada pelajaran tentang cadangan alumunium di Samosir, nikel di Sultra, batubara di Kalimatan, biji besi di Sumbar, di kurikulum sekolah masing-masing tempat itu.
Pendidikan Indonesia pun belum menanamkan perasaan menerima dari alam lingkungan akan berbagai kenikmatan. Dan karena itu belum juga bisa menanamkan rasa terima kasih padanya. Pendidikan kita tidak mengembangkan rasa syukur, tapi lebih banyak menghidupkan ambisi.
Bagaimana mungkin? Orang tak punya rasa terima kasih dan hormat kepada bumi yang tiap hari menghidupinya? Memberinya kegirangan dan kenyamanan?
Para murid dan siswa sangat rajin diajari semangat mengejar dan mencapai cita-cita, tapi nyaris tak pernah diajari semangat dan kerelaan untuk memberi.[]
Kunjungi Kafil Yamin:
http://kafilyamin.wordpress.com/
http://kafilyamin.blogspot.com/
http://gerakpena.com/?page_id=10
Thursday, August 25, 2011
Tingkatan-tingkatan Motivasi Menikahi Perempuan
Ayat Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 3 yang berbunyi: “… fankihû mâ thâbalakum minannisâ-i matsnâ wa tsulasâ wa rubâ’a …” umumnya diartikan sebagai perintah untuk menikah yang dibolehkan lebih satu, yaitu dua, tiga atau empat seperti jelas terbaca dari bunyi teksnya. Dalam kesadaran taubikh, makna ayat itu lebih dalam dari itu. Ayat ini sebenarnya juga menjelaskan tentang tingkat-tingkat motivasi pernikahan. Seperti dijelaskan dalam uraian berikut ini, ada lima tingkat motivasi pernikahan sebagai tafsir taubikh dari bunyi ayat tersebut.
_________________________
1. Motivasi Tingkat Uhada
Pertama, motivasi pernikahan tingkat uhada. Di tingkat uhada (pertama) seorang lelaki menikahi perempuan karena motivasi seks dan biologis semata. Di tingkat motivasi ini, ia tak ada bedanya dengan binatang. Ini adalah dorongan yang paling rendah dalam menikah. Dorongan kebutuhan seks umumnya adalah yang paling banyak mendorong laki-laki menikah dan menikah lagi. Tujuan nikah bukan hanya untuk seks, yang lebih penting adalah untuk beribadah kepada Allah dan menjaga diri, membangun rumah tangga, menciptakan ketenangan jiwa, menjaga normalitas hidup, membuat keturunan dan menciptakan ketertiban masyarakat. Bila motivasi dan tujuan yang dominan dalam pernikahan hanya seks, kualitasnya paling rendah sama dengan binatang.
Orang seperti ini akan mengabaikan aspek-aspek lain yang sangat penting dalam pernikahan seperti unsur agama, amanat, pendidikan keluarga dll. Nabi sendiri dalam sebuah haditsnya menganjurkan agar menikahi perempuan lebih mempertimbangkan agamanya: “Tunkahul mar’atu li-arbain: limâliha, lihasâbiha, lijamâliha, walidîniha, fadhfur bidzâtiddini taribat yadâka” (Wanita dinikahi disebabkan empat hal: karena kekayaannya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena ketaatan agamanya. Nikahilah wanita karena ketaatan agamanya, niscaya kamu akan bahagia). Bila, motivasi menikah hanya seks, maka pertimbangan dalam memilih perempuan pasti dominan soal fisik dimana ukurannya hanya cantik dan seksi. Ini adalah pernikahan yang kualitasnya rendah dan akan jauh dari kebahagiaan.
2. Motivasi Tingkat Mutsana
Naik satu tingkat di atasnya adalah kualitas mutsana. Di tingkat kedua ini, seseorang menikahi perempuan karena motivasi ‘kelengkapan hidup.’ Seorang lelaki menikahi perempuan karena tradisi, kebiasaan, karena ingin punya istri, anak dan keluarga. Dia berfikir akan lengkap hidupnya dengan menikah karena akan memiliki istri dan anak. Normallah dia sebagai anggota masyarakat. Jadi, pertimbangan utamanya adalah kelengkapan hidup. Zaman sekarang yang bebas, banyak orang yang bisa memenuhi kebutuhan biologisnya tanpa menikah seperti berzina dengan pacarnya atau pasangan hidupnya yang tidak halal (seks bebas alias kumpul kebo). Dalam fikirannya untuk apa repot-repot menikah? Bagi orang seperti ini, nikah tidaklah sakral, hanya sekadar formalitas bahkan dianggapnya akan membatasi kebebasan hidupnya. Karena merasa sudah kenyang dan gampang memenuhi kebutuhan seks, akhirnya, pertimbangan nikah menjadi formalitas saja. Ia hanya butuh pelengkap hidup saja.
Motivasi “pelengkap hidup” banyak terjadi pada laki-laki atau perempuan yang lebih mementingkan pekerjaannya, karirnya atau posisinya daripada bercita-cita membangun keluarga yang bahagia. Waktunya habis dipakai untuk mengejar-ngejar karir dan uang. Banyak orang, dari keasyikannya bekerja, meniti karir dan mencari uang, kewajiban nikah pun terabaikan, tidak ada waktu memikirkan pasangan. Tanpa terasa, akhirnya usia sudah lewat dan setelah butuh ternyata mau nikah pun tidak gampang. Jodoh tak kunjung tiba. Akhirnya, bagi orang seperti ini, banyak yang menikah dengan motivasi sebagai ‘pelengkap’ saja. Ia siap nikah yang penting statusnya punya suami atau punya istri, karena malu sendirian terus. Banyak juga yang siap menjadi istri simpanan. Kalau sudah begini, niat nikahnya sudah tidak benar, rumah tangganya akan banyak masalah dan kebahagiaan hidup tidak akan didapatkan. Dengan motivasi sebagai ’pelengkap hidup,’ unsur-unsur lain yang lebih penting tidak akan terpikirkan atau tidak dipertimbangkan. Tidak akan membayangkan bagaimana memiliki keluarga bahagia, mendidik istri dan anak-anak yang baik dan benar, bagaimana keluarga akan dibangun dst.
3. Motivasi Tingkat Tsulatsa
Tingkat tsulatsa (ketiga) adalah tingkat motivasi dimana seseorang menikahi perempuan karena tujuan ‘kemuliaan hidup.’ Dia berfikir, hidup dengan menikah akan lebih mulia daripada hidup sendirian, melajang atau tidak menikah. Dibandingkan dengan membujang, hidupnya dibayangkan akan terpandang dan terhormat di masyarakat bila memiliki istri. Merasa akan lebih mulia di hadapan orang lain dan masyarakat dengan memiliki status sebagai suami dan kepala rumah tangga. Dengan menikah orientasi hidup menjadi jelas dan terarah. Disini menikah adalah sebuah pilihan rasional. Dia menimbang-nimbang bisa saja hidup sendirian, persoalan kebutuhan biologis mungkin bisa diatur, mungkin mudah mendapatkannya, tapi dia berfikir, menikah dan punya istri tetap lebih baik, lebih mulia sebagai manusia. Menikahlah ia atas pertimbangan pilihan rasional semata yang tak dihubungkannya dengan ibadah dan perintah agama.
4. Motivasi Tingkat Ruba’a
Tingkat ruba’a atau keempat, adalah motivasi menikah karena ketaatan pada agama. Bila di tingkat tsulatsa adalah pilihan rasional dan pertimbangan masyarakat, di tingkat ruba’a pertimbangannya adalah agama, titik. Ketakutan berdosa dan ketaatannya pada ajaran agama mendorongnya untuk ingin cepat menikah tanpa banyak pertimbangan, apalagi sudah ada calon untuk dinikahinya. Karena motivasinya adalah ketaatan agama dan ketakutannya berbuat dosa, maka demi keyakinannya itu, lingkungan dan pandangan masyarakat tidak terlalu dihiraukannya. Misalnya, seorang pemuda berumur 25 tahun jatuh cinta pada seorang perempuan. Tidak ada yang lain difikirannya kecuali ketakutan terjebak dalam dosa lalu ia melamar perempuan itu untuk dinikahinya padahal ia belum punya apa-apa. Ia ingin menikah tanpa memikirkan dan menghitung ini-itu, kerja atau tidak, bisa makan atau tidak. Yang penting selamat dari dosa, titik. Pemuda seperti ini, dalam sebuah hadits disebutkan sebagai golongan yang wajib mendapat pertolongan Allah: “Tsalátsatun haqqa ‘alalláhi ‘awnuhum: Al-Mujáhidu fí sabililláh, wal mukátibu alladzi yurídul adá-a, wannákihu alladzi yurídul ‘afáf” (Tiga golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah: pejuang di jalan Allah, mukatib (budak yang membeli dirinya dari tuannya) yang mau melunasi utangnya dan orang yang ingin menikah karena ingin menjauhkan diri dari hal yang haram).
Contoh lain, seorang bujangan dari keluarga berada atau ia sukses dan ekonominya maju tapi susah mendapatkan jodoh. Ia menikahi peremuan yang status sosialnya jauh dibawahnya karena pertimbangan agama yaitu keshalehan dan ketaatannya ibadahnya semata, padahal tidak cantik alias biasa-biasa saja. Komentar orang, semua mengatakan “sayang,” “tidak seimbang.” Tapi ia tidak perduli, tidak memikirkan pandangan dan komentar masyarakat, yang penting melaksanakan perintah agama bahwa ia harus segera menikah dan ia sudah menentukan calonnya yang taat agamanya. Atau misalnya, seorang perempuan jatuh cinta berat pada seorang lelaki yang sudah beristri. Ia merasa cocok, sekufu, punya orientasi yang sama, agamanya kuat, bisa membimbing dst. Kemudian, karena kuat saling mencintai dan berpisah tidak sanggup, daripada berdosa dan mendapat murka Allah, dia bersedia dinikahi sebagai istri muda agar tidak berzina. Tak perduli dengan keluarga, teman-teman dan masyarakatnya. Inilah motivasi agama. Ulama yang lurus secara umum berada pada level ini. Kiayi pesantren yang menikahi santrinya sebagai istri pertama atau kedua, banyak pertimbangannya karena agama untuk mengurus pesantrennya. Tidak berfikir yang lain-lain. Karena keshalehannya dan potensial untuk dijadikan istri kiayi, untuk membantunya memperjuangkan agama, mengembangkan pendidikan dan masyarakat, ia menikahinya tanpa pertimbangan yang lain-lain.
5. Motivasi Tingkat Khumasa
Terakhir, yang paling tinggi adalah motivasi menikah sebagai memperjuangkan kebenaran. Di tingkat ini, seseorang menikahi perempuan bukan hanya soal seks, kelengkapan hidup, kemuliaan hidup dan agama melainkan memperjuangkan kebenaran. Keharusannya menikah karena ingin memelihara diri yang dihayatinya sebagai ketaatan pada agama tapi mendapat kendala dan tantangan. Misalnya tidak mendapat persetujuan, padahal keduanya saling mencintai dan siap menikah. Kendala dari keluarga dan tantangan orang-orang ini dia rubah menjadi perjuangan. Karena niatnya mulia membela “kebenaran,” maka tidak ada yang ditakutkan di dunia ini kecuali Allah SWT. Karena membela kebenaran, keyakinannya menjadi bulat dan tidak ada keraguan sedikitpun walaupun resikonya besar, misalnya kehilangan pekerjaan, dijauhi keluarga atau kehilangan nyawa sekalipun. Menikah yang pertama atau poligami juga sama. Motivasinya khumasa bermaksud untuk menyelamatkan dirinya dari pelanggaran agama dan murka Allah SWT. Karena hal ini diyakininya benar dan dirasakannya sebagai kebenaran, maka menikah baginya adalah memperjuangkan kebenaran. Maka siapapun dihadapinya tanpa rasa takut. Apapun akibatnya tidak perduli dan siap menghadapinya. Inilah tingkat tertinggi dalam motivasi pernikahan. Bila berhasil apalagi kemudian mampu membuktikan kepada keluarga dan lingkungannya bahwa ia benar, pernikahan seperti ini akan mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan yang besar.[]
Sumber : Moeflich Hasbullah dan Endang Somalia
_________________________
1. Motivasi Tingkat Uhada
Pertama, motivasi pernikahan tingkat uhada. Di tingkat uhada (pertama) seorang lelaki menikahi perempuan karena motivasi seks dan biologis semata. Di tingkat motivasi ini, ia tak ada bedanya dengan binatang. Ini adalah dorongan yang paling rendah dalam menikah. Dorongan kebutuhan seks umumnya adalah yang paling banyak mendorong laki-laki menikah dan menikah lagi. Tujuan nikah bukan hanya untuk seks, yang lebih penting adalah untuk beribadah kepada Allah dan menjaga diri, membangun rumah tangga, menciptakan ketenangan jiwa, menjaga normalitas hidup, membuat keturunan dan menciptakan ketertiban masyarakat. Bila motivasi dan tujuan yang dominan dalam pernikahan hanya seks, kualitasnya paling rendah sama dengan binatang.
Orang seperti ini akan mengabaikan aspek-aspek lain yang sangat penting dalam pernikahan seperti unsur agama, amanat, pendidikan keluarga dll. Nabi sendiri dalam sebuah haditsnya menganjurkan agar menikahi perempuan lebih mempertimbangkan agamanya: “Tunkahul mar’atu li-arbain: limâliha, lihasâbiha, lijamâliha, walidîniha, fadhfur bidzâtiddini taribat yadâka” (Wanita dinikahi disebabkan empat hal: karena kekayaannya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena ketaatan agamanya. Nikahilah wanita karena ketaatan agamanya, niscaya kamu akan bahagia). Bila, motivasi menikah hanya seks, maka pertimbangan dalam memilih perempuan pasti dominan soal fisik dimana ukurannya hanya cantik dan seksi. Ini adalah pernikahan yang kualitasnya rendah dan akan jauh dari kebahagiaan.
2. Motivasi Tingkat Mutsana
Naik satu tingkat di atasnya adalah kualitas mutsana. Di tingkat kedua ini, seseorang menikahi perempuan karena motivasi ‘kelengkapan hidup.’ Seorang lelaki menikahi perempuan karena tradisi, kebiasaan, karena ingin punya istri, anak dan keluarga. Dia berfikir akan lengkap hidupnya dengan menikah karena akan memiliki istri dan anak. Normallah dia sebagai anggota masyarakat. Jadi, pertimbangan utamanya adalah kelengkapan hidup. Zaman sekarang yang bebas, banyak orang yang bisa memenuhi kebutuhan biologisnya tanpa menikah seperti berzina dengan pacarnya atau pasangan hidupnya yang tidak halal (seks bebas alias kumpul kebo). Dalam fikirannya untuk apa repot-repot menikah? Bagi orang seperti ini, nikah tidaklah sakral, hanya sekadar formalitas bahkan dianggapnya akan membatasi kebebasan hidupnya. Karena merasa sudah kenyang dan gampang memenuhi kebutuhan seks, akhirnya, pertimbangan nikah menjadi formalitas saja. Ia hanya butuh pelengkap hidup saja.
Motivasi “pelengkap hidup” banyak terjadi pada laki-laki atau perempuan yang lebih mementingkan pekerjaannya, karirnya atau posisinya daripada bercita-cita membangun keluarga yang bahagia. Waktunya habis dipakai untuk mengejar-ngejar karir dan uang. Banyak orang, dari keasyikannya bekerja, meniti karir dan mencari uang, kewajiban nikah pun terabaikan, tidak ada waktu memikirkan pasangan. Tanpa terasa, akhirnya usia sudah lewat dan setelah butuh ternyata mau nikah pun tidak gampang. Jodoh tak kunjung tiba. Akhirnya, bagi orang seperti ini, banyak yang menikah dengan motivasi sebagai ‘pelengkap’ saja. Ia siap nikah yang penting statusnya punya suami atau punya istri, karena malu sendirian terus. Banyak juga yang siap menjadi istri simpanan. Kalau sudah begini, niat nikahnya sudah tidak benar, rumah tangganya akan banyak masalah dan kebahagiaan hidup tidak akan didapatkan. Dengan motivasi sebagai ’pelengkap hidup,’ unsur-unsur lain yang lebih penting tidak akan terpikirkan atau tidak dipertimbangkan. Tidak akan membayangkan bagaimana memiliki keluarga bahagia, mendidik istri dan anak-anak yang baik dan benar, bagaimana keluarga akan dibangun dst.
3. Motivasi Tingkat Tsulatsa
Tingkat tsulatsa (ketiga) adalah tingkat motivasi dimana seseorang menikahi perempuan karena tujuan ‘kemuliaan hidup.’ Dia berfikir, hidup dengan menikah akan lebih mulia daripada hidup sendirian, melajang atau tidak menikah. Dibandingkan dengan membujang, hidupnya dibayangkan akan terpandang dan terhormat di masyarakat bila memiliki istri. Merasa akan lebih mulia di hadapan orang lain dan masyarakat dengan memiliki status sebagai suami dan kepala rumah tangga. Dengan menikah orientasi hidup menjadi jelas dan terarah. Disini menikah adalah sebuah pilihan rasional. Dia menimbang-nimbang bisa saja hidup sendirian, persoalan kebutuhan biologis mungkin bisa diatur, mungkin mudah mendapatkannya, tapi dia berfikir, menikah dan punya istri tetap lebih baik, lebih mulia sebagai manusia. Menikahlah ia atas pertimbangan pilihan rasional semata yang tak dihubungkannya dengan ibadah dan perintah agama.
4. Motivasi Tingkat Ruba’a
Tingkat ruba’a atau keempat, adalah motivasi menikah karena ketaatan pada agama. Bila di tingkat tsulatsa adalah pilihan rasional dan pertimbangan masyarakat, di tingkat ruba’a pertimbangannya adalah agama, titik. Ketakutan berdosa dan ketaatannya pada ajaran agama mendorongnya untuk ingin cepat menikah tanpa banyak pertimbangan, apalagi sudah ada calon untuk dinikahinya. Karena motivasinya adalah ketaatan agama dan ketakutannya berbuat dosa, maka demi keyakinannya itu, lingkungan dan pandangan masyarakat tidak terlalu dihiraukannya. Misalnya, seorang pemuda berumur 25 tahun jatuh cinta pada seorang perempuan. Tidak ada yang lain difikirannya kecuali ketakutan terjebak dalam dosa lalu ia melamar perempuan itu untuk dinikahinya padahal ia belum punya apa-apa. Ia ingin menikah tanpa memikirkan dan menghitung ini-itu, kerja atau tidak, bisa makan atau tidak. Yang penting selamat dari dosa, titik. Pemuda seperti ini, dalam sebuah hadits disebutkan sebagai golongan yang wajib mendapat pertolongan Allah: “Tsalátsatun haqqa ‘alalláhi ‘awnuhum: Al-Mujáhidu fí sabililláh, wal mukátibu alladzi yurídul adá-a, wannákihu alladzi yurídul ‘afáf” (Tiga golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah: pejuang di jalan Allah, mukatib (budak yang membeli dirinya dari tuannya) yang mau melunasi utangnya dan orang yang ingin menikah karena ingin menjauhkan diri dari hal yang haram).
Contoh lain, seorang bujangan dari keluarga berada atau ia sukses dan ekonominya maju tapi susah mendapatkan jodoh. Ia menikahi peremuan yang status sosialnya jauh dibawahnya karena pertimbangan agama yaitu keshalehan dan ketaatannya ibadahnya semata, padahal tidak cantik alias biasa-biasa saja. Komentar orang, semua mengatakan “sayang,” “tidak seimbang.” Tapi ia tidak perduli, tidak memikirkan pandangan dan komentar masyarakat, yang penting melaksanakan perintah agama bahwa ia harus segera menikah dan ia sudah menentukan calonnya yang taat agamanya. Atau misalnya, seorang perempuan jatuh cinta berat pada seorang lelaki yang sudah beristri. Ia merasa cocok, sekufu, punya orientasi yang sama, agamanya kuat, bisa membimbing dst. Kemudian, karena kuat saling mencintai dan berpisah tidak sanggup, daripada berdosa dan mendapat murka Allah, dia bersedia dinikahi sebagai istri muda agar tidak berzina. Tak perduli dengan keluarga, teman-teman dan masyarakatnya. Inilah motivasi agama. Ulama yang lurus secara umum berada pada level ini. Kiayi pesantren yang menikahi santrinya sebagai istri pertama atau kedua, banyak pertimbangannya karena agama untuk mengurus pesantrennya. Tidak berfikir yang lain-lain. Karena keshalehannya dan potensial untuk dijadikan istri kiayi, untuk membantunya memperjuangkan agama, mengembangkan pendidikan dan masyarakat, ia menikahinya tanpa pertimbangan yang lain-lain.
5. Motivasi Tingkat Khumasa
Terakhir, yang paling tinggi adalah motivasi menikah sebagai memperjuangkan kebenaran. Di tingkat ini, seseorang menikahi perempuan bukan hanya soal seks, kelengkapan hidup, kemuliaan hidup dan agama melainkan memperjuangkan kebenaran. Keharusannya menikah karena ingin memelihara diri yang dihayatinya sebagai ketaatan pada agama tapi mendapat kendala dan tantangan. Misalnya tidak mendapat persetujuan, padahal keduanya saling mencintai dan siap menikah. Kendala dari keluarga dan tantangan orang-orang ini dia rubah menjadi perjuangan. Karena niatnya mulia membela “kebenaran,” maka tidak ada yang ditakutkan di dunia ini kecuali Allah SWT. Karena membela kebenaran, keyakinannya menjadi bulat dan tidak ada keraguan sedikitpun walaupun resikonya besar, misalnya kehilangan pekerjaan, dijauhi keluarga atau kehilangan nyawa sekalipun. Menikah yang pertama atau poligami juga sama. Motivasinya khumasa bermaksud untuk menyelamatkan dirinya dari pelanggaran agama dan murka Allah SWT. Karena hal ini diyakininya benar dan dirasakannya sebagai kebenaran, maka menikah baginya adalah memperjuangkan kebenaran. Maka siapapun dihadapinya tanpa rasa takut. Apapun akibatnya tidak perduli dan siap menghadapinya. Inilah tingkat tertinggi dalam motivasi pernikahan. Bila berhasil apalagi kemudian mampu membuktikan kepada keluarga dan lingkungannya bahwa ia benar, pernikahan seperti ini akan mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan yang besar.[]
Sumber : Moeflich Hasbullah dan Endang Somalia
Subscribe to:
Posts (Atom)