Sunday, July 7, 2013

10 Wasiat Rasulullah SAW Kepada Fatimah Putrinya

10 Wasiat Rasulullah SAW Kepada Fatimah Putrinya | Rasulullah SAW memang sangat sayang kepada putri bungsunya ini, Fatimah. Sehingga dalam beberapa kesempatan, waktu beliau dihabiskan bersama Fatimah. Ketika sudah berumah tangga dengan Ali pun, Rasulullah masih sering mengunjunginya. Bahkan beliau sering memberi nasehat berkaitan dengan kehidupan rumah tangga.

Inilah beberapa diantara wasiat Rasulullah SAW buat Fatimah:

1. Ya Fatimah, wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya pasti Allah akan mengatur kebaikan baginya dari setiap biji tepung, melenyapkan keburukan dan meningkatkan derajat wanita itu.

2. Ya Fatimah, wanita yang berkeringat ketika menggiling tepung (memasak makanan) untuk suami dan anak-anaknya niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.
3. Ya Fatimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisir dan mencuci pakaiannya melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang telanjang.

4. Ya Fatimah, tiadalah wanita yang tidak memberikan bantuan kepada tetangganya, melainkan Allah akan menghalanginya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat kelak.

5. Ya Fatimah, yang lebih utama dari segala keutamaan adalah keridhaan suami terhadap istri. Andai suami tidak reda kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu, ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6. Ya Fatimah, ketika wanita mengandung maka malaikat memohonkan ampunan baginya dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta menghilangkan seribu keburukan. Ketika wanita merasa sakit untuk melahirkan Allah menetapklan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya maka bersihlah dosa-dosanya seperti saat dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Jika meninggal ketika melahirkan maka dia tidak membawa dosa sedikitpun. Baca juga artikel ini.
7. Ya Fatimah tidaklah wanita yang tersenyum di hadapam suaminya melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
8. Ya Fatimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur suaminya dengan rasa senang hati melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya dan Allah mengampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang.

9. Ya Fatimah tidaklah wanita yang melayani suaminya selama sehari semalam dengan senang hati dan ikhlas melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupaya pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah memberikan pahala kepadanya pahala seratus kali beribadah haii dan umrah.
10. Ya Fatimah, tidaklah wanita yang meminyakkan kepala suaminya dan menyikatkanya, meminyakkan jenggot serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah mempermudah sakaratul maut baginya serta kuburnya menjadi bagian taman-taman surga. Allah membebaskannya dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustakim dengan mudah.
Sumber: siti fatimah

Perhatikan ! , Wasiat Rasulullah SAW Untuk Kaum Muslimin di Akhir Zaman

Dari Ma’qil bin Yasar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Beribadahlah pada waktu terjadi al Haraj (pembunuhan) seperti hijrah ke saya.” (HR Muslim, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Dari Zubair bin Adly bahwa ia melaporkan kepada Anas setelah perdebatan, lalu Ia (Anas) berkata, “ Bersabarlah kalian !, Susungguhnya, tidak akan datang pada kalian suatu zaman kecuali yang lebih jelek daripadanya hingga kalian menjumpai Tuhan kalian. Ini saya dengar dari Nabi SAW.” (HR Bukhari dan Turmudzi)

Dari Tsauban ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Sesungguhnya yang paling aku takuti dari umatku adalah para pemimpin yang sesat. Jika meletakkan pedang pada umatku, ia tidak akan mengangkatnya sampai hari kiamat.” (HR Abu daud dan Ibnu Majah)
lanjut ...

Saturday, July 6, 2013

Napoleon Bonaparte seorang Islam?



Napoleon Bonaparte seorang Islam?
Berita ini disambut gembira umat Islam namun dinafikan oleh mereka yang tidak senang dengan perkara yang mengembirakan umat Islam. Tambahan pula Napoleon Bonaparte itu dimusuhi Inggeris. Tokoh yang menjadi musuh Inggeris dianggap orang jahat…
Seorang penulis bernama Davis Musa Pidcock menulis sebuah buku bertajuk Satanic Voices-Ancient and modern terbit pada tahun 1992 mengatakan Napoleon Bonaparte memeluk Islam pada 02 July 1798 atau 23 tahun sebelum meninggal dunia.
Surat kabar Perancis ‘Le Moniteur’, turut melaporkan berita Napoleon Bonaparte memeluk Islam pada tahun 1798. C.Cherfils Penulis buku ‘Napoleon And Islam’ (ISBN: 967-61-0898-7) turut mengakui kebenaran tersebut.
Majalah Genuine Islam yang diterbitkan di Singapura edisi Oktober 1936 pernah menyiarkan kata-kata Napoleon Bonaparte seperti berikut.
“Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.”
(“Agama-agama itu selalu dikaitkan dengan hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sukar dipahami. Jesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat di dalam agama kita (Kristien); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa.” )
Kata Napoleon Bonaparte lagi:
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”
(Dengan penuh keyakinan saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda di setiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam.)
Akhirnya beliau berkata :
“In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner.”
(Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping. )
Selanjutkan Nepoleon Bonapart mengatakan “Aku telah belajar dari buku ini, dan aku merasa bahwa apabila kaum muslimin mengamalkan aturan-aturan komprehensif buku ini, maka niscaya mereka tidak akan pernah terhinakan.”
Akibatnya Napoleon Bonaparte telah dimusuhi oleh Inggeris dan sekutunya yang membawa kejatuhan Jeneral Perancis yang paling digeruni itu.


Sumber:abdullatip.blogspot.com

Monday, July 1, 2013

SEGO TEMPONG MBOK LEBOH

Mbok Eduk saiki orép dèwèkan (rondo) sakat mari ditinggal mati kang lanang sabené béwén sing, tanggal 12 Mulud 1434 H kepungkur. Ditinggali anak loro’ lanang siji wadon siji, anak lanangé kelas X SMA arané Buwang, wadoné arané Leboh hang magih kelas IX SMP. Mbok Eduk dalu tengah wengi sak wisé sholat hajat ambi wiridan sak bisané mandengi anaké kang turu ring sebelahé yané sholat lail, dadiyo sedilut yané tau mondok, suwi-suwi hing keroso motoné mberebes milei, ènget kang lanang hang wis moléh nyang alam kelanggengan madep Gusti Allah kang nggawè orép, ring njero atiné ngomong: “Wang lan anakisun wadon Leboh... saikei Bapakiro wis hing ono’ wis molèh nyang Gusti kang nggawé orép, hiro kabyèh dadiyo wong kang sholéh lan pintaer supoyo biso njunjung derajaté emak lan bapairo’, ojo dadi wong kang duroko” ; Mbok Eduk terus ndongo :“ Duh Gusti Kang Moho Kuwoso kulo nyuwun dumateng panjenengan Gusti duduhno dalan hang leres kulo lan anak-anak kulo supoyo selamet wonten ndonyo lan akherat, sokanono rejeki hang kathah barokah Gustii Allah Allah Allah ya Rasulullah” : “Washollallahu ‘alaa sayyidina Muhammad wa’alaa aalihi washohbihi, ajma’iin walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, aamiin ya robbal ‘aalamiin “ gedigu iku hang dilakoni Mbok Eduk saben benginék.

Kang Monèk lakiné Mbok Eduk mulo sing ninggali bondo warisan akèh, polaé pegawèani dagang serabudan, dagang paen baén poko’é ngasilaken. Ono usum durèn, manggis, rambutan, poko’é usum wo-wohan paen baén iku hang didagang. Dagangané hang mesti saben dinanék hang sing tau ono asaté gedang. Ring Pasar Songgon kang Monék nggelar dagangané. Tapi serto Kang Monék wis hing ono’ Mbok Eduk hang nggentèni dodolan gedang utowo wo-woan usuman liyané. Gusti Allah kadung arep ngangkat derajaté menungso hing langsung nemu dalan hang énak. Contoné hang dialami Mbok Eduk, bondo lan dodolan wo-woan hang ditinggali lakiné suwi-suwi hing tambyah akèh naming malah sod embuh paran sebabék, dagangan wo-woan biasané ramé hang tukau, saikei hing ramék koyo bengènék. Ujiané Allah nyang Mbok Eduk sakat ditinggal mati hang lanang aboté temenanan. Sangking aboté ngadepi orép soro hang hing biso dinalar. Yo paran dodolan wo-woan hang didasaraken hing pati payau, malah akeh hang podo bosok pungkasanék .... jobrod wéh.
Mbok Eduk wong dasaré tau nyantrei ring pondokan, suwiné yané mondok ambi Pak Kiai tau diwulang masalah agomo bab Aqidah Qodlo Qodar, Ikhtiyar lan Tawakkal. Pak Kiai Dawuh: “Poro santriku kabeh wong orép iku kudu nerimo ing pandum Gusti” ; “wong orép kudu nyambut gawé utowo ngamal”. Mulané dadiyo kendei baén dodolan nerusaken dodolan tinggalane hang lanang terus dilakoni, sholat bengi yo ugo terus dilakoni saben bengi sangking kepinginé biso minteraken anakék, ojo sampek uripe soro koyo yanék. Dalu tengah wengi pas malem Jemuah sak uwise dzikir lan ndongo mageh nganggo rukuk yané ngimpi ditemoni Iyek Anangé hang wis ninggal donyo ngomongi yanék : “ Byéng putunisun siro ojo béngung lan ojo kuwatir”; “ Iman lan sembayangiro hang jejeg lan temenanan” ; “ enggih Nang “ Anangé terus ngomong maning: “ Ojo dodolan wo-woan hiro byèng “ . “ napuwo heh Nang “ eduk takon setengahé heran kok anangé ngomong gedigau. “dodolono liyane baén “ terus Yèk anangé pamit “wis byèng hun nak moléh”. “ nggih Nang “ Mbok Eduk kaget magih nganggo rukuk, jenggirat tangi mlaku nyang ceding wudlu maning terus sholat shubuh.
Masak kanggo sarapan anak-anaké wis dadi kebiasaané mbok Eduk. Jam setengah limo’ Buwang lan Leboh digugai .... sholat sholat wis shubuh. “ Nggih Mak” laré loro mau jenggirat tangi, adus, sholat shubuh terus siap-siap nganggo kelambi seragam sekolah, ambi ngenteni sarapané belajar pelajarane hang arep dipelajari ring sekolahan. Lik byeng kei sarapané wis mateng, sarapono wéh. “ Enggih Mak “ keloronan sarapan sak ananék hang penting wetengé ono isinék. Iwak teri lan sambel terasei sarapan sederhana saben dinanék. Buwang lan Leboh yo hing tahu sambat nyang ema’ék, dasar laré hang taat lan bekti nyang wong tuwèkèk. Jam stengah enem anak-anaké pamit “mak kulo melampah sekolah, pendongané mak” ; “ yo lék byeng ati-ati ring ndalan ojo lali ndongo njaluk selamet“ . “ enggih mak amiin ambi salaman nyang emakék” Serto anaké wis melaku mbok Eduk nyiplang sepidah montoré, nyang pasar ambi nggowo daganganék. Lapak dibokak “Bismillahir Rohmanir Rohiim.... (laris X3) saking kersané Allah” dongané mbok Eduk supoyo dodolané payu. Al hamdulillah dadiyo hithik ono payunék naming yo hing koyo raméné koyo magéh diadepi lakiné bengwèn.

Wis seminggu kepungkur impèn ditemoni Iyèk Anangék hing tau dipikir ambi mbok Eduk. Naming seto mari tahajud, wiridan, yané keturon maning ngimpi ditekani Anangé. Lan isiné impèn hing bido ambi impene hang sabenék. Buru mbok Eduk mikir-mikir pa’en indané yooh artine impènhun ikai ??? Buwang diceluk Lék Wang miniyo tah solong. “ Nggih ènten nopo mak ?” . “ngkésuk Sabtu pelajarané ono hang ulangan tah? ... kadung hing ono’ hiro arep hun jak nang umyahé Pak Yai guruné emak, nggaweka’en surat ijin titipno kancaniro’ enkesuk” . “nggih mak kulo poron” mboten enten ulangan dinten niki mak.
Sabtu esuk adiké wadon wis mari sarapan terus pamitan “ pendongané mak kulo melampah sekolah” . “ yo melakuwo hang ati-atei ojo selaperan myakné selamet lakuniro ring dalan “. Leboh “ enggih mak As salaamu’alaikum Wr. Wb “ . “ Ayo wéh lék melakau myakné hing kawanen gadugé ring konok “ ; “ojo surat-suraté, jakèt lan helmiro myakné selamet “ . Buwang melebu kamar salén celono levi’s jakètan kolét tinggalané tinggalané Bap’ék. Serto Buang metu teko kamaré keroso semendal atiné mbok Eduk weruh anaké wis lancing tanggung hang sagahé hing mbuwang Bap’ék, hing keroso eluhé nètès mberebes milai. “Monggo mpun mak melampah “ . “ yo ayo wéh ... Bismillahi tawakkalnaa ‘alallah laahala walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyul ‘adhiim ... (selamet x3) sangking kersané Allah, laa ilaaha illallah Muhammadur Rosuulullah. Amiin x3 ya robbal ‘aalamiin.

Gadug ring umaé Pak Yai jam setengah songoan gedigau, mbok Eduk uluk salam. “Wa’alaikum salaam” ééé ènten dayoh “ monggo-monggo mbok Aby tasik dluha sampèan rantos kerin, kulo teng wingking kerin. Let sedilut putri Pak Yai ngetoka’en wédang kopi telung cingkir di sosol Pak Yai medal “ Yééé riko Duk ? wis lawas yoh? Hing tau merenék “ . “ nggih Yai .. sak umurané anak kulo nikai’’ ; “ Wis duwanak piro’ ? kok Bapa’é hing dijak ? “ . kerungu pak Yai nyebut Bapa’é hing dijak Eduk meneng motoné ngembung éluh maning nberèbès ring pipinék. Ndeleng Eduk ngéluh motonék Pak Yai meneng ngeningaken roso pikir lan dzikir ambi setengah kagèt : “ Astaghfirullah ... sepuranen hun Duk hang akèh, hunhing weruh”;” Yo talah Duk menungso orép kudu nerimo pandumé Allah, Iman Sabar lan Tawakkal. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun”; “ nggih Yai kulo ihlas “ Eduk terus ngaturaken kelepatan lan : “Sowan kulo ngerikai sepindah silaturrahmi, kaléh nyuwun nasehat , tigho nyuwun pendongo saking Yai” Menenga’en pikir lan dzikir ... “sampèk lalai ayo diombikselak adaem” . “ nggih Yai “ Buwang lan ema’ék terus ngombik bareng pak Yai ... “Al ham dulillah” bareng.

“Wong orép ring ndonyo iku Duk kudu nerimo pandum Gusti Allah, paen hang hiro alami hing hiro dèwèk”. “Kulo kudu kepundai Yai ?” Mbok eduk nyelani dawuhé Yai. “ yo gedigi Duk iki pumpung anakiro ono’ gdigi lék “ Hiro anak lanang hang tuwèk yo kudu bekti nyang mmairo’ ojo nggagal dadi laré’ sebab wong bekti nyang wong tuwèk apik pongkasane’, sebaliké wong hang duroko ambi wong tuwèk kedongsang-dongsang uripék. Hiro sekolah hang patheng myakné biso njunjung derajaté emmak lan bapiro’ hang wis moleh ring alam kelanggengan”. “Enggih Yai” meh byarengan Buang lan ema’ék nyauri Pak Yai. Lan kanggo hiro Duk paen hang hiro impèkaen “ omongé sembyahiro iku lakononok “. Mbok Eduk setengaé rodo kagèt njero atiné ngomong “ kok Pak Yai weruh hun ngimpai padahal hung hing cerito” . Pak Yai nerusaken wejangané nyang Mbok Eduk: “uliiro ngelakoni sholat, tahajud, dzikir lan ndongo saben bengei iku Duk ojo sampék pedhot, malah-malah tambaono dzikir Surat Al Ihlas, lan Surat Al Qodr terus ndongo paen baén in Sya Allah dikabuli lan dijogo gudo rencanané hang duwé sejo hang èlèk nyang hiro’ ”. “Enggih Yai kulo ngertos” èdèng Mbok Eduk nyauri. Serto wis rodo suwi lan akèh-akèh Pak Yai ngwani wejangan, Mbok Eduk terus pamitan moléh. “ Yo wis Duk hang atai-atai ring dalan mugo-mugo dodolaniro lancar”. “Amiin”

Malem Ahad Mbok Eduk sak anakék bareng-bareng ndeleng tipei ambi cekikikan. Hang dideleng OVJ yo pantes baén gemuyuné sampèk cekikikan. Serto wis mari buru podo meneng kabyeh. Byangeté meneng kabyeh Mbok Eduk ngomong nyang anak-anakék: “Wang ... Boh In Sya Allah dino Rebo’ embyèn hun hing dodol wo-woan maning” setengah rodo kagyèt anak-anakék “ Napuwo Mak ? ènten nopo’ ? terus ajeng medamel nopo’ ?” . emak terus nyaut : “ Dodolan sego’ ba’én”;” sego tempong “ ; “ yééh ... kulo ndarani ajeng medamel teng luar negerei ojo Mak ndiko tasik enèm kulo wedos Maak “. “ hiing hun hing kepingin nyang luar, dadiyo picis akèh naming hiro kelèlèran hun emoong” . “ yo enggih pun Maak .. diarani nopo Mak warungék ? “ Leboh takon nyang emaék . “ Kelendei kadung hun arani : “ SEGO TEMPONG MBOK LEBOH “ . Buwang ambi gemuyu cekikikan “saé niku Mak” Leboh protès “ kok aranhun hang diengguk kok hing arané kang Buwang baén?” . Mbok Eduk ngerti hang dikarepaken Leboh “ hiro ésén byèmg?” . “ Yo uwis kadung gedigu peseno tulisan utowo bèner tah lék aranék .. warung “ SEGO TEMPONG MBOK LEBOH “ Sakat dino Rebo’ iku mbok Edok mbokak warung Sego Tempong Mbok Leboh sampék saikei ramé langgananék hing tau sepei, sampék kesuwor nyang endi-endei.

Banyuwangi 13 Rejeb 1434 H / 22 Mei 2013
adulc assonggoni

LOKONÉ WONG ORÉP

Udane wis rodo terang, sak mariné sembayang Isya’ kiro-kiro jam woluan hun déwékan mertamu “ Asslaamu’alaikum “ ; “Wa’alaikum salaam” Kang Bodos njawab salam isun. Ring kono ugo ono anake lanang penggarepé muridisun bengén magih sekolah ring SMA..... Adem rasane atai serto dilajoka’en, hun melebu ring kamar tamau, pikiran hang asalè nggerongsang rasané koyo wis nemu padang. Serto let rodo suwé anak penggarepé ngetoka’en widang kopai telung gelas. eLet sedilut maning ono suwarane spidah montor ngarepé umyah mandeg. “Assalaamu’alaikum”, salah sijiné muridé teko merono ; “ Wa ‘alaikum salaam” bareng hang ono ring njero ruangan tamu kompak podo njawab. Dilajoka’en tamu iku mau temokno yo salah siji muridé. “Monggo’ mlebaet .... kebeneran wedang kopiné pas tigo’ nikaei , monggo roh diénum kopinék mumpung tasik anget... kendelan mawon nikai mboten ènten kancanék” omongé Kang Bodos ngasoraken awaké . Hun lan Muridé emèh barengan ngomong : “mboten nopo-nopo’ Kang nikei empun cekap... Kulo saget ketemu sampéan ngèten nikai adeem rasané atei”.
Umyah hang adoh teko raméné kutho Banyuwangi. Adoh teko hang arané keméwahan lan gebyaré donyo, umah hang cilik saiki wis dikeramik bido ambi rongtahun kepungkur; Ukurané kiro-kiro enem lawan songo’. Ono kamar turau akehé loro’, kamar keluarga yo dienggo nonton tipai lan dienggo kamar mangan keluarga pisan; Kamar ngarep hang dienggo nerimo tamau. Umyah hang cilik hang lumayan apik. Tapi masio gedigau hang aran muridé teko merono gentenan baén jarè Kang Bodos. Hang teko merono macem-macem murid hang ditakokaken lan bido-bido keperluanék.
“Monggo’ roh diénum dadiyo mekotan, anu pak gendisé tasék teng ngandap” Kang Bodos mbalèni maning supoyo kopiné podo diombék. Hun ambi muréd iku mau bareng ngiling kopi ring lèpèkan terus let sedilut kopi hun ombék. “ Al hamdulillah “ kopi anget melebu gorokan tambyah padang pikiran lan moto’ adem rasané atèi.
Sak uwisé takon “ dugi nggriyo mawon tah?; mboten jawah tah teng ngriko’; kesehatané keluarga kepundai ; penggawean lan liyo liyanék; terus Kang Bodos mbukak omongé gedigei : “Wong orép néng alam ndonyo’ nikau tan keno kinoyo ngopo”. Kang Bodos mulai cerito’ nyang muridé. Anané Kang Bodos ngomong gedigau, polaé yané ikau asalé bengwèn sak durungé manggon ring kono’ yané lakoné uripé iku soro’. Soroné yané yo mulo kudu gedigau jarénék. Terus Kang Bodos nyeritakaen Lakone Uripé hang wis dilakonai.
Kang Bodos : “ Kulo nikai sengwen tasik anyar-anyaran kaléh tiang istri kulo soro’”
Murid takon : “Soro kepundei Kang”
Kang Bodos : “ Nggéh soro temenanan niko’ , saking soroné urip kulo’ dulur kulo dèwèk nikau mboten ènten hang ajeng teng kulo’, ojo maning nyokani tedanan teng kulo’ jaré basanané; “ tenong-ténongo érég kemureb, ngomong-ngomongo’ ngelirik hing arep”.
Muridé takon kambi rodo’ héran : “ Indané sampék kados mekoten Kang ?”
Kang Bodos : “ Masa-alaah ndiko nikau, kari mboten percados teng kulo’ ”; “ Sampéan tangledaken mpun teng rabin kulo’ “
Muridé : “ Moso mekoten Kang .... yo kari kebyangeten temenan dèrèk ndiko nikau padahal kan niku dèrèk ndiko dèwèk; mandanéyo kadung tiyang lintau yooh Kang? Aju kepundai”;”Sebab kepundiyo mawon hang aran dulur; èlè’o tanpo rupo ibaraté. Hang aran dulur yo tetep dulur, ojo sampék kulo sampéan medotaken seduluran. Jaré hang biso ngomong megotaken suduluran biso ngurangi rijekei.... mekoten tah Kang? “.
Kang Bodos nerusaken ceritanék : “ Yo leres nikau “ ; “ ..... Naming sedoyo niku wau asalé sumber kesalahan dugi kulo dèwèk nikai”.
Murid : “ Leh ndiko nikau .... salah ndiko dèwèk kepundi héh ceritanèk kulo kok dadi tambyah penasaran, padahal sampéan sak nikai saget kulo arani tiyang hang adem ayem mboten enten masalah hang mboten saget sampéan adepai. Sedoyo murid sampéyan dugi Indonesia pucuk wetan sampèk pucuk kulon. Dèrèng hang dugi luar negerei mung kari telpon masalah bèrès mekoten yoroh ? ”
Kang Bodos: “ Mekèten .... “ . kang Bodos ambi rokokan nerusaken ceritanék : “ Sak jané Bapak Emak kulo niku ninggali warisan teng kulo lan dérék kulo niku cukup; Umpomo dienggo urip sak beneré mawon, kulo lan rabin kulo’ nikau cukup, malah-malah saget lebih” ; “ tapi kulo saat nikau kurang nyukuri nopo hang dadi paringané Pengéran”(Gusti Allah).
Murid : “ Mboten nyukuri kepundei séh Kang ” ?
Kang Bodos : “ tasik anak kulo’ buru laér kulo’ niku demen maén “ ; yo kertau , geluthuk, èrèk-èrèk .... buntutan sampék entèk-entèkan warisané dugi Bapak lan Emak kulo’ malah sawahé embok kulo yo katut kulo sadék, yoro empun wéh ? hèh hèh hèh ” Kang Bodos ambi gemuyau; “ Mulai nikau lah kulo sadar éling dawuhé Gusti hang akaryo jagat “ sak temenè Gusti Allah iku hing bakal ngerubyah nasibe menungso kadung menungso iku mau hing gelem ngerubyah déwék” ; ” kadung gedigai terus kelendai tah anak lan rabinisun “ ; “ kulo mulai medamel sak benerék, ésuk sampék bedug kadang sampék sorèn nggolèt pangan turut pesésér ngukuri segoro’ (mancing) kadang angsal kadang mbotaen, nggih dugi angsal kulo mancing nikau hang kulo enggè nedo’ saben dino’ kaléh anak lan rabin kulo’ mekoten terus sampék anak kulo hang nomer tigo laér ” ; “ Embenginék kulo’ pados ilmu nggé sanguné tuwèk, kulo megurau teng Bapak Mertuwan kulo dèwèk, teng poro Kiai, teng sesepuh pundi mawon kulo cecep ilmunék. Naming kulo belajar teng alam yo sering kulo lampahi, alas lan guwo’ pundi mawon sampék teng alas Purwo yoro empun ? nggih kulo lampahi “
Murid : “ Sampéan meguru teng Kiai lan teng alam kepundi nikau Kang ?”
Kang Bodos disambi rokokan maléh nerusaken ceritanék ambi gemuyau meledèk katon untunék hang magéh wotoh dadiyo umuré wis lebéh sewidak loro tahun : “ mekètan yah tiyang gesang ring alam ndonyo nikau ibaraté mung mampir ngombék “ ; “ orép teng ndonyo nikau mboten dangau, mung sedilut mboten ènten umuré sampék sewu tahun, padahal orip hang sak beneré nikau nggih orip sak sampuné pejah nggih tah ? “ ; “ dados hang kulo suwun sagetho orip hang sampurno wonten ndonya lan akhérat menké “ ; “ nggih nikupun hang kulo padosei nopo ten pak Kiai nopo teng alam “
Murid : “ yo enggéh Kang “
Kang Bodos : “ Kulo nikei asliné yo kepéngén sogéh nikau, sinten séh tiyangé hang mboten kepéngén sogéh ? sedoyo tiyang akèh-akèhé yo kpéngén sogéh yoro enggéh ? , naming kulo nyalah dalan kulo’, yo nopo’ umyah sawah warisan mpun èntaen sangking kepinginé tambyah sogéh dienggo maén ( diudokka’en ) “ ; “ warisan mboten tambyah akèh malah tambyah entèk-entèkan héh héh héh” Kang Bodos ambi gemuyu maning.
Murid : “ Slaminé sampéan megurau teng pak Kiai, teng alam lan maksudé ungelé sampéan ... Wong orip ring ndonyo tan keno kinoyo ngopo nikau kepundai ? “
Kang Bodos : “ Mekètaen ... sogéh pangkat derajaté, sehat larané, rjekiné, orép lan matiné menungso nikau hang nggadah pakem mung Gusti Allah; Kulo lan sampéan nikei mung saget ngelampahi nopo kang dadi perintah lan nebihi larangané Gusti Allah” ; “ methenthengo kang kepundei mawon mpun sampéan medamel, sampéan nggolet tombo, nggolet pangkat derajat, tetep kulo sampean kudu tunduk patuh nopo kang dados pakem utowo takdire Gusti Allah” ; “ wajibé kulo sampéan ikhtiyar syaréat lan tawakkal”
Murid : “ sniki sampéan mpun saget istilahé niku murid sampéan hang nggadahi masalah saget maringi pencerahan pepadangé atei niku kepundai Kang ? “
Kang Bodos : “ Kulo nggadah Guru Kiai linuwéh hang maringi snépo teng kulo’ ... “Mbyah kadung sampéan melebu Swargo ojo kiyambekan Mbah, hing enak dèwèkan melebau suwargo nikau, dadiyo kulo yo Sampéan ejak mbyah melebu Suwargo’. Wénaak byareng-byareng melebu Suwargo nikau Mbyah “ Kang Bodos niroks’en omongané Gurunék ; “ Molai niku pun kulo nikei purun mbokak babagan ilmu tuwèk ngantos sak niki-bikai “
Murid : “ masalah nopo mawon “
Kang Bodos : “ Nggih macem-macem masalah contoné masalah ilmu tuwèk yoniku Iman Islam lan Ihlas hang sak beneré “ ; “( pengobatan, pengasihan, kepangkatan, lan kathah maceme masalah ) “ ; “ kirangan nggih sintaen hang nduduai padahal geriyan kulo nyelempit ngetaen nikei yah, tapi ènten mawon hang dugei ngerikei “ ; “ Sedoyo nikau Gusti Allah hang nggadah pakem lan ngersa’aken “ ; “ kulo nikei mung terimo ngelampai lan kulo mboten ènten pamrih nopo-nopok “ ; “ umpomo kulo poron tahun embèn Hajian tahun 1434 kulo dijak hajei, padahal mpun dibetakka’en artho sak tumpuk mbuktekka’en kiyambeké sukses warungé, niku tiyang Papua ngriko’ “ ; “ mung liwat HP kulo saranaken ngarepan warung supados ditanduri tebau cemeng... Alhamdulillah diparingi garus warungék “ : “ naming kulo mboten purun... Tiyang haji niku kan lamun kuwoso’ ngoten tah ? “ . Kiro-kiro pirang dino kepungkur ono penelpon teko Jakarta nuwun solusi, rabine niku meteng nopo penyakit ? kang Bodos namung nyuwun supados maos Surat An Nas ping sepoloh angger mari sembayang limang waktau, lan dikongkon ngombék banyu kelopo hang wis kéréng. Let pirang dino oléh kabyar teko Jakarta jaré ceritane penyakité hang nempel ring rahimé wis ilang waras mari sanking kersané Allah Swt. Malah-malah wong Jakarta nikau ambi keluargané arep dugei ngerikei mung kanggo silaturrahmi lan kesuwun saking syukure maring Allah Swt jaré Kang Bodos.
Murid : “ nggih mpun dangau Kang, mpun méh jam kaleh welas sak dèrèngé wangsul kulo nggih sampean paringi sangau ( ilmu )
Kang Bodos : “ Nggih nikai sampéan tolis ...” Kelimah nikau dilakoni dalu tengah wengai sak sampune sholat tahajud . terus dzikir lan kelimah hang sampean tolis niku wau diwoco terus meneng kaléh ngilangaken roso kepinginan kedonyan, tan keno kesusu ngumbar howo nafsu. Insya Allah Gusti hang moho Agung maringi pituduh hang biso dienggo ngelakoni orip hang sak beneré lan weruh dalané moléh madep Gusti Allah Swt.
Murid : “ Nggih mpun Kang sepuntené lan pendongané mawon “ ; “ Wassalaamu ‘ alaikum warohmatullohi wabarokaatuh “
Kang Bodos : “Wa’alaikum salaam Warohmatullahi Wabarokaatuh “
Serto murid iku mau moléh, hun magéh ring kono keloronan ambi Kang Bodos hang magéh nerusaken ceritoné. Uliyé ngangsu kaweruh merono-merono’ ; sakat uliyé urép soro keloroloro, endi Kiai hang linuwéh diparanei, endi alas lan guwo hang jaré angker yané paranei, dilungguwei ( kholwat ) ; Sangking kepinginé nduwé kaweruh hang luhur, sangking kepinginé weruh sejatiné orép hang sak benerék. Lan sangking kepinginé selamet ring ndonyo lan akherat. “Umpomo angsal rejekei yo rejeki hang berkah dienggo sangu ibadah, ojo sampék rejeki katah tapi mboten berkah. Artiné rejekei niku wau ojo sampék dados alangané kulo sampéan madep teng ngersané Gusti Allah Hang Moho Agung” gedigu ceritané ( Lakoné Wong Orép ) hang magéh dilakoni Kang Bodos.
Hing keroso wés jam hiji bengei, hun gesah ambi Kang Bodos, rasané koyo mung sedilut, paran kang hun rasakka’en orép kang hun lakonei koyo-koyo magéh adoh. Durung gadug kang aran orép sak beneré orép, magéh nggerongsang hing karuwan. Sedurungé pamitan hun njaluk nyang Kang Bodos supoyo mulang muruki isun supoyo weruh Lakoné Wong Orép kang sak beneré. Wurukané Kang Bodos antarané ring ngisor ikei:
1. “ Bejo bejané wong kang lali luwéh bejo wong kang éléng lan waspodho ( RM Ronggowarsito ) artosé kulo sampéan niku kudu ati-ati orép teng ndonyo, sebab kathah sanget alangan lan ma’siat kang saget ngalangi atiné kulo sampéan marek dumateng ngersané Gusti Allah kang Moho Kuwoso”
2. “ Sak empuné sampéan sholat tahajud dalu tengah wengei mantun maoco syahadat istighfar sholawat lan liyoliyané sampéan maos nikei ...... ( sepurané kang kathah mboten tolés teng cerito nikei kanggé ngindari khilafiah ) “ terus sampéan meneng pun lan kudu ihlas ngedohono howo napsau. Insya Allah kirangaen ngkapan ? Sampéan badé angsal hidayah saking Gusti Allah. Lakoné Orép sampéan niku mengké diduduwaken”
Wulangané Kang Bodos buru marei kiro-kiro jam setengah loro bengei hun terus pamitan “wassalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh” Kang Bodos nyalami isun ambi jawab salam “wa’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh” ; “ ngatos-athos pak lan kesuwun rawuh sampéan ” . nggih podho-podho Kang Bodos kulo nggih kesuwun.
Banyuwangi Ditolés : 7 Rejeb 1434 H / 17 Mei 2013 M
adul charli assonggoni

Saturday, June 1, 2013

Kerusakan Otak Akibat Pornografi Mirip Mobil Ringsek Akibat Benturan Keras



Kerusakan otak akibat pengaruh pornografi di mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI), hasilnya sama dengan kerusakan pada mobil saat tabrakan keras. Demikian penjelasan r Elly Risman, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah hati Jakarta.
Menurut Elly Risman, Pree Frontal Cortex (PFC) akan rusak ketika anak melihat pornografi. Padahal PFC adalah pusat nilai, moral, tempat di mana merencanakan masa depan, tempat mengatur manajemen diri. Bagian otak alis kanan atas inilah yang menentukan jadi apa seorang anak nantinya. Karena itulah PFC juga disebut direktur yang mengarahkan kita.
“Nah pada saat anak kecil dan melihat pornografi si direkturnya belum bisa melarangnya karena belum matang, maka orangtuanya lah yang harus menjadi direktur bagi si anak, tapi mengapa sekarang orangtua malah memberikan anak gadget, HP, dan akses internet secara bebas?”ucap Elly Risman dalam acara seminar parenting bertema “Tantangan Mendidik Anak di Era Digital” yang diselenggarakan SD Integal Luqman Al Hakim Surabaya belum lama ini.
“Setelah melihat pornografi, maka gambar visual pornografi itu akan dikirim ke otak bagian belakang, disebut juga respondent. Karena respondent ini belum berfungsi maka anak akan kaget,” ujar Elly.
Jika respondent tersenggol maka dia akan mengeluarkan hormon yang namanya dopamin. Dopamin itu akan mengeluarkan zat yang akan membuat anak merasa senang, nikmat,bahagia, dan membuat anak kecanduan, ungkapkanya.
Karena itu, menurutnya candu pornografi itu membuat orang menjadi dissensitifisasi. Gambar porno yang sudah dilihat tidak akan dilihat ulang karena sudah tidak berpengaruh lagi, yang ingin dilihat lagi adalah gambar porno yang lebih dari gambar sebelumnya, karena rasa senstifnya hilang.
Oleh karena itu para pencandu pornografi akan selalu meningkat candunya seperti menaiki tangga, ia ingin lebih, lebih dan lebih lagi.
“Ketika anak melihat satu kali pornografi maka dia ingin dua, tiga, empat kali lagi,” ujar Elly Risman. Ketika gambar pornografi sering melewati PFC, maka bagian yang menyimpan moral dan nilai, membuat perencanaan hidup ini, akan menciut, mengecil dan
akibatnya dorongan seks akan tidak terkendali , karena mata tidak bisa ditahan, otak menjadi rusak dan ketagihan seks.
“Proses melihat pornografi dengan bersetubuh sama, jadi anak yang melihat pornografi mereka bersetubuh dengan gambar –gambar,” ujar Ibu yang pernah mengikuti pelatihan parenting di USA ini.
Menurutnya selain hormon dopamin yang berproduksi hormon norepinephrine juga akan keluar. Hormon norepinephrine berfungsi sebagai pembeku memori kenangan yang detail.
Seperti seorang istri dengan bagian-bagian-bagian tertentu suaminya, begitu pun sebaliknya. Hormon norepinephrine biasanya keluar setelah bersetubuh. Selain norepinephrine, otak juga akan mengeluarkan hormon oksitoksin. Ini adalah adalah hormon mawadah wa rahmah. Hormon yang mengikat antara suami dan istri.
Tapi jika anak yang bersetubuh dengan gambar maka hormon ini akan mengikat anak tersebut dengan gambar porno yang telah dilihatnya. Makan anak dan orang dewasa yang sudah candu pornografi maka susah menyapihnya.
”Nah setelah mencapai klimaks, maka akan keluar hormon serotonin, hormon ini yang membuat relax dari ujung rambut sampai ujung kaki,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap pada orangtua menjaga anak-anak agar otak mereka tidak rusak sebelum kesiapan peran seksual yang telah diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala untuk mereka telah siap dan halal.
Menurutnya, begitulah jahatnya bisnis pornografi menjadikan anak sebagai sasaran tembak empuk, karena mereka ingin anak itu rusak dan menjadi pelanggan pornografi seumur hidup.
Aktivitas Pacaran
Selain pornografi yang mengaktifkan hormon seksual, termasuk di dalamnya adalah aktivitas pacaran. Karena itu, ia sangat menyayangkan film-film remaja saat ini begitu vulgar mengajak anak untuk berpacaran dan berhubungan seks secara bebas. Karena itu, kewaspadaan orangtua terhadap serangan pornografi sangat di harapkan.
”Jangan hanya mengaharap kepada sekolah yang mengajari nilai-nilai agama pada anak, namun orangtua harus berperan aktif membangun moral agama pada diri anaknya sendiri, ” ucapnya.
Kembalikan peran Ibu dan Ayah pada tempatnya. Dan para orangtua harus lebih dulu hadir dalam kehidupan anaknya, bukan mereka yang punya kepentingan bisnis pornografi yang hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Sebab anak-anak yang jiwanya selalu merasa sendiri, booring, stress, dan lelah akan sangat gampang dimasuki oleh industri pornografi.*/Samsul Bahri. (muslimina.blogspot.com)dalam Moef's blog

Keajaiban Menyembelih dengan Syariat Islam


Melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dua staf ahli peternakan dari Hannover University , sebuah universitas terkemuka di Jerman. Yaitu: Prof.Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Keduanya memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?
Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.
Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.
Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis.
Patut pula diketahui, syariat Islam tidak merekomendasikan metoda atau teknik pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat justru mengajarkan atau bahkan mengharuskan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih.
Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang sangat ditunggu-tunggu!
Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh beberapa hal sbb.:
Penyembelihan Menurut Syariat Islam
Hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:
Pertama: pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.
Kedua: pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.
Ketiga: setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!).
Keempat: karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.
Penyembelihan Cara Barat
Pertama: segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (roboh). Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan (tampaknya) tanpa (mengalami) rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).
Kedua: segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).
Ketiga: grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik dari dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.
Keempat: karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.
Bukan Ekspresi Rasa Sakit!
Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah lazim menjadi keyakinan kita bersama, bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka, pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Terlebih lagi yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!
Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim justru membuktikan yang sebaliknya. Yakni bahwa pisau tajam yang mengiris leher (sebagai syariat Islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Hal ini tentu tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu.
Nah, jelas bukan, bahwa secara ilmiah ternyata penyembelihan secara syariat Islam ternyata lebih ‘berperikehewanan’. Apalagi ditambah dengan anjuran untuk menajamkan pisau untuk mengurangi rasa sakit hewan sembelihan :
“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya.” (H.R. Muslim). (http://muslimina.blogspot.com)dalam Moef'blog