Di antara dosa-dosa yang harus kita jauhi ialah:
Syirik kepada Allah
Syirik merupakan dosa besar yang paling membahayakan. Dosa ini menyebabkan pelakunya kekal di neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Orang-orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, sungguh Allah mengharamkan kepadanya surga, dari tempatnya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang zhalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)
Di antara yang termasuk perbuatan syirik, misalnya memakai benang, kalung dengan tujuan untuk menolak bahaya, seperti memakai jimat karena takut sihir dan lainnya. Atau jimat dalam bentuk benda lainnya, dengan keyakinan bahwa memakai benda-benda ini menjadi sebab terhindar dari bahaya. Padahal, yang memiliki kekuatan untuk menghindarkan seseorang dari segala mara bahaya hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tiada kekuatan kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Juga ada syirik yang tersembunyi, yang terletak pada niat, kehendak, riya’ (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar). Misalnya, seseorang membaguskan shalatnya atau bersedekah supaya dipuji manusia. Inilah yang ditakutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan terjadi pada diri kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Riya’.”.
Oleh karena itu, waspadalah terhadap segala jenis syirik, karena ia akan menyebabkan amalan kita gugur.
Tiga Hal yang Membinasakan
Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tiga hal yang menyelamatkan. Yaitu takut kepada Allah, baik pada waktu sepi maupun ramai, adil di kala sedang ridha maupun marah, dan bersikap tengah-tengah baik dalam keadaan fakir maupun kaya. Dan ada tiga hal yang membinasakan Yaitu hawa nafsu yang diikuti, bakhil yang dituruti, dan seseorang berbangga diri.” (Hadis hasan riwayat Ath Thayalisi, Jami’ush Shaghir 1:583 no. 3039).
Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga hal yang membinasakan. Di antaranya ialah hawa nafsu. Apabila hawa nafsu telah menguasai hati, maka akan melahirkan kelalaian dan memalingkan dari perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan,
“Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaan melampaui batasan.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Adapun bakhil, adalah rakus terhadap dunia, yang akan membawa seseorang untuk berbuat apa saja memuaskan diri sendiri, tidak merasa cukup dengan nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Takutlah akan kebakhilan, karena ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian dan bisa membawa kepada pembunuhan dan menjatuhkan harga diri.” (HR. Muslim)
Dari Ibnu Ka’ab bin Malik Al Anshari dari bapaknya, berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah dua serigala lapar yang dikirim kepada satu kambing itu lebih merusak dibandingkan kerusakan pada agama akibat kerakusan seseorang kepada harta dan kemuliaan.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi).
Adapun berbangga kepada diri sendiri, akan menjerumuskan seseorang kepada kesombongan, sehingga ia merendahkan orang lain. Ini semua akan menyebabkan kehancuran dan kehinaan.
Tujuh Hal yang Membinasakan
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan. (Yaitu) syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan membunuhnya kecuali dengan haknya, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang dan menuduh zina kepada perempuan baik-baik yang beriman.” (HR. An-Nasa’i)
Sekalipun manusia menjauhi perbuatan membunuh jiwa (yang diharamkan untuk dibunuh), tetapi banyak juga yang terjerumus kepada riba, karena bentuk dan cabangnya banyak, yang mengharuskan kita berhati-hati dan bertanya kepada ahlul ilmi sebelum melakukan muamalah. Di dalam hadis disebutkan,
Dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorangpun yang lebih banyak makan riba, kecuali akhir urusannya adalah sedikit.” (HR. Ibnu Majah)
Terang-terangan Berbuat Maksiat
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Semua umatku dimaafkan (kesalahannya pen.), kecuali orang-orang yang terang-terangan (dalam berbuat maksiat). Yaitu seseorang yang bermaksiat di malam hari kemudian Allah tutupi kesalahannya di pagi hari (orang lain tidak ada yang tahu pen.). Akan tetapi ia mengatakan, “Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan ini.” Allah telah tutupi kesalahan itu di malam hari, akan tetapi di pagi hari ia bongkar kesalahan yang Allah telah tutupi.” (HR. Muslim)
Banyak manusia berperangai yang membinasakan ini. mereka tidak mengetahui, bahwa dosa yang disebabkan terang-terangan berbuat maksiat lebih besar daripada karena semata-mata dosa. Karena pada sikap terang-terangan ini, terdapat sikap memperturutkan hawa nafsu dalam beragama, melakukan penentangan, dan tidak merasa takut kepada Allah.
Ayyuhal muslimun a’azzaniyallahu wa iyyakum
Di antara dosa-dosa yang harus kita jauhi jua ialah:
Menyakiti Orang Muslim
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tahuah kamu oran gyang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami ialah yang tidak memiliki dirham dan tidak pula kesenangan. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Orang yang bangkrut ialah, orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa shalat, puasa dan zakat, tetapi ia mencaci ini, menuduh ini, makan harta ini, menumpahkan darah ini dan memukul ini, sehingga kebaikan yang ia lakukan diberikan kepada oran gyang dizhalimi. Kemudian, apabila kebaikannya habis padahal belum cukup, (maka) diambilkan kejelekan mereka yang dizhalimi, lalu diberikan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa meremehkan perbuatan yang menyakiti orang lain dapat membinasakan pelakunya pada hari kiamat. Sekiranya seorang muslim memikirkan hal yang berbahaya ini, niscaya ia akan mencegah diri dari menzhalimi dan menyakiti manusia, sehingga ia akan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia.
Meremehkan Dosa-dosa Kecil
Apabila seseorang meremehkan dosa-dosa kecil tidak menghitungnya sebagai hal berbahaya, dan tidak timbul keinginannya untuk bertaubat dan lepas darinya, niscaya dosa-dosanya yang dianggap kecil ini akan terkumpul kian menggunung. Sikap meremehkan ini dapat menyebabkan kehancuran bagi pelakunya. Dalam sebuah hadis disebutkan,
“Jauhilah oleh kalian sikap meremehkan dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil akan terkumpul pada seseorang hingga ia membinasakannya…” (HR. Ahmad dengan yang semisalnya).
Melampaui Batas dalam Beragama
Sebagaimana halnya meremehkan maksiat sehingga menyebabkan kebinasaan, maka berlebih-lebihan dalam beragama juga menyebabkan kebinasaan. Ketahuilah amal yang paling baik ialah yang dilakukan secara kontinyu walaupun sedikit.
“Waspadalah dari sifat berlebih-lebihan, karena umat-umat terdahulu telah binasa karena sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. Ahmad)
Dengki
Dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah bersabda, “Waspadalah terhadap sifat dengki, karena ia akan memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar atau rumput.” (HR. Abu Dawud)
Dengki merupakan perangai buruk yang dapat menghapus kebaikan. Tidak menutup kemungkinan, sifat dengki ini hinggap pada seseorang. Seorang muslim yang cerdik, ia akan berjuang keras mengubur sifat dengki dalam dirinya. Ibnu Taimiyyah menyatakan, tidak ada satu jasad pun yang terlepas dan sifat dengki, akan tetapi Allah yang Maha Bijaksana menutupinya dan menutupi kekejian yang dilakukan. Arti menutupi yaitu menolak dari dirinya dan meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’la dari kejahatannya, dan bermuamalah dengan saudaranya secara baik tanpa kezhaliman dan dengki.
Monday, July 8, 2013
Sabar Itu Selalu Baik
Ada yang mengatakan bahwa sabar itu tidak selamanya baik. Mudah-mudahan yang dia maksud adalah “sabar” dalam definisi lain. Sabar yang tidak baik, bukanlah yang diambil dari kata shabar dari Al Quran dan hadits. Sebab, jika yang dimaksud itu sama dengan shabar seperti yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya, maka itu salah besar. Jika sebuah sikap atau perilaku yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, maka itu pasti benar dan pasti baik.
Sabar Itu Perintah Allah
Silahkan buka Al Quran dan Hadits, banyak ayat dan hadits yang menyuruh kita untuk bersabar. Jadi tidak mungkin sabar itu tidak baik. Jadi, selalu baik dan ini ajaran dari Allah.
Allah Beserta Orang-orang Yang Sabar
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:153)
Pastinya Allah senang bersama hamba-hamba-Nya yang melakukan kebenaran dan kebaikan. Jadi tidak mungkin jika “ada yang tidak baik”. Jika Anda mengatakan tidak selamanya baik, apakah jika Allah menyertai kita itu tidak baik?
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah suka dan memerintahkan kita untuk bersabar. Tentu saja tidak semuanya bisa ditampilkan disini karena saking banyaknya. Silahkan buka Al Quran dan Anda akan menemukannya dengan mudah. Bahkan, jika mau membuka kitab-kitab hadits, Anda akan menemukan lebih banyak lagi.
Allah Memberikan Balasan Kepada Orang Yang Sabar
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An Nahl:96)
Orang Yang Sabar Memiliki Kekuatan Lebih Besar
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. Al Anfaal:65)
Para Nabi Adalah Mereka Yang Bersabar
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. (QS Al Anbiyaa’:85)
Jelas sudah, kutipan-kutipan ayat diatas sudah menjelaskan kepada kita, bahwa sabar itu baik dan selalu baik. Ini merupakan bantahan bagi yang mengatakan tidak selalu baik atau ada batasnya. Saya penting mengatakan ini untuk mencegah kesalahan pengertian sehingga seolah ada ajaran Al Quran yang tidak membawa kebaikan. Saya hanya ingin menegaskan bahwa ajaran Al Quran itu benar dan selalu membawa kebaikan.
Dimulai Dengan Pemahaman Yang Benar
Salah satu penyebab mengapa orang mengatakan sesuatu yang salah tentang sabar itu karena pemahaman yang salah. Pemahaman yang salah akibat kurang seriusnya dalam belajar. Tidak belajar pada sumbernya yang jelas dan valid, hanya mengikuti berbagai perkataan atau omongan sekilas yang bisa saja datang dari sekedar opini atau prasangka.
Dikiranya hanya diam. Dikiranya menyerah. Dikiranya hanya menunggu tanpa upaya. Memang, dalam kondisi tertentu, bisa dalam artian diam. Namun bukan sembarang diam, sebab tidak selamanya diam itu adalah kesabaran. Orang yang diam demi mempertahankan kebenaran, itulah yang disebut dengan kesabaran. Diam membiarkan kemunkaran itu bukan kesabaran. Menunda-nunda pekerjaan, bukanlah yang disebut kesabaran.
Bahkan saat seseorang marah, kemudian mengangkat pedang untuk menegakkan kebenaran, maka itu tidak akan menghilangkan sikap sabar pada diri orang tersebut. Siapa orang yang paling sabar? Tentu Rasulullah saw, tetapi beliau tetap berperang. Bahkan seringkali, dalam Al Quran, kata perjuangan, perang, dan jihad disandingkan dengan kata kesabaran.
Mulailah memahami apa definisinya dari sumber yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Silakan Anda baca artikel lain yang menjelaskan tentang sabar dan definisinya, klik Perjuangan dan Kesabaran.
Jadi tetaplah sabar.
sumber : motivasi-Islami
Sabar Itu Perintah Allah
Silahkan buka Al Quran dan Hadits, banyak ayat dan hadits yang menyuruh kita untuk bersabar. Jadi tidak mungkin sabar itu tidak baik. Jadi, selalu baik dan ini ajaran dari Allah.
Allah Beserta Orang-orang Yang Sabar
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:153)
Pastinya Allah senang bersama hamba-hamba-Nya yang melakukan kebenaran dan kebaikan. Jadi tidak mungkin jika “ada yang tidak baik”. Jika Anda mengatakan tidak selamanya baik, apakah jika Allah menyertai kita itu tidak baik?
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah suka dan memerintahkan kita untuk bersabar. Tentu saja tidak semuanya bisa ditampilkan disini karena saking banyaknya. Silahkan buka Al Quran dan Anda akan menemukannya dengan mudah. Bahkan, jika mau membuka kitab-kitab hadits, Anda akan menemukan lebih banyak lagi.
Allah Memberikan Balasan Kepada Orang Yang Sabar
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An Nahl:96)
Orang Yang Sabar Memiliki Kekuatan Lebih Besar
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. Al Anfaal:65)
Para Nabi Adalah Mereka Yang Bersabar
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. (QS Al Anbiyaa’:85)
Jelas sudah, kutipan-kutipan ayat diatas sudah menjelaskan kepada kita, bahwa sabar itu baik dan selalu baik. Ini merupakan bantahan bagi yang mengatakan tidak selalu baik atau ada batasnya. Saya penting mengatakan ini untuk mencegah kesalahan pengertian sehingga seolah ada ajaran Al Quran yang tidak membawa kebaikan. Saya hanya ingin menegaskan bahwa ajaran Al Quran itu benar dan selalu membawa kebaikan.
Dimulai Dengan Pemahaman Yang Benar
Salah satu penyebab mengapa orang mengatakan sesuatu yang salah tentang sabar itu karena pemahaman yang salah. Pemahaman yang salah akibat kurang seriusnya dalam belajar. Tidak belajar pada sumbernya yang jelas dan valid, hanya mengikuti berbagai perkataan atau omongan sekilas yang bisa saja datang dari sekedar opini atau prasangka.
Dikiranya hanya diam. Dikiranya menyerah. Dikiranya hanya menunggu tanpa upaya. Memang, dalam kondisi tertentu, bisa dalam artian diam. Namun bukan sembarang diam, sebab tidak selamanya diam itu adalah kesabaran. Orang yang diam demi mempertahankan kebenaran, itulah yang disebut dengan kesabaran. Diam membiarkan kemunkaran itu bukan kesabaran. Menunda-nunda pekerjaan, bukanlah yang disebut kesabaran.
Bahkan saat seseorang marah, kemudian mengangkat pedang untuk menegakkan kebenaran, maka itu tidak akan menghilangkan sikap sabar pada diri orang tersebut. Siapa orang yang paling sabar? Tentu Rasulullah saw, tetapi beliau tetap berperang. Bahkan seringkali, dalam Al Quran, kata perjuangan, perang, dan jihad disandingkan dengan kata kesabaran.
Mulailah memahami apa definisinya dari sumber yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Silakan Anda baca artikel lain yang menjelaskan tentang sabar dan definisinya, klik Perjuangan dan Kesabaran.
Jadi tetaplah sabar.
sumber : motivasi-Islami
Sunday, July 7, 2013
10 Wasiat Rasulullah SAW Kepada Fatimah Putrinya
10 Wasiat Rasulullah SAW Kepada Fatimah Putrinya | Rasulullah SAW memang sangat sayang kepada putri bungsunya ini, Fatimah. Sehingga dalam beberapa kesempatan, waktu beliau dihabiskan bersama Fatimah. Ketika sudah berumah tangga dengan Ali pun, Rasulullah masih sering mengunjunginya. Bahkan beliau sering memberi nasehat berkaitan dengan kehidupan rumah tangga.
Inilah beberapa diantara wasiat Rasulullah SAW buat Fatimah:
1. Ya Fatimah, wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya pasti Allah akan mengatur kebaikan baginya dari setiap biji tepung, melenyapkan keburukan dan meningkatkan derajat wanita itu.
2. Ya Fatimah, wanita yang berkeringat ketika menggiling tepung (memasak makanan) untuk suami dan anak-anaknya niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.
3. Ya Fatimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisir dan mencuci pakaiannya melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang telanjang.
4. Ya Fatimah, tiadalah wanita yang tidak memberikan bantuan kepada tetangganya, melainkan Allah akan menghalanginya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat kelak.
5. Ya Fatimah, yang lebih utama dari segala keutamaan adalah keridhaan suami terhadap istri. Andai suami tidak reda kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu, ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Ya Fatimah, ketika wanita mengandung maka malaikat memohonkan ampunan baginya dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta menghilangkan seribu keburukan. Ketika wanita merasa sakit untuk melahirkan Allah menetapklan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya maka bersihlah dosa-dosanya seperti saat dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Jika meninggal ketika melahirkan maka dia tidak membawa dosa sedikitpun. Baca juga artikel ini.
7. Ya Fatimah tidaklah wanita yang tersenyum di hadapam suaminya melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
8. Ya Fatimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur suaminya dengan rasa senang hati melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya dan Allah mengampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang.
9. Ya Fatimah tidaklah wanita yang melayani suaminya selama sehari semalam dengan senang hati dan ikhlas melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupaya pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah memberikan pahala kepadanya pahala seratus kali beribadah haii dan umrah.
10. Ya Fatimah, tidaklah wanita yang meminyakkan kepala suaminya dan menyikatkanya, meminyakkan jenggot serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah mempermudah sakaratul maut baginya serta kuburnya menjadi bagian taman-taman surga. Allah membebaskannya dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustakim dengan mudah.
Sumber: siti fatimah
Inilah beberapa diantara wasiat Rasulullah SAW buat Fatimah:
1. Ya Fatimah, wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya pasti Allah akan mengatur kebaikan baginya dari setiap biji tepung, melenyapkan keburukan dan meningkatkan derajat wanita itu.
2. Ya Fatimah, wanita yang berkeringat ketika menggiling tepung (memasak makanan) untuk suami dan anak-anaknya niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.
3. Ya Fatimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisir dan mencuci pakaiannya melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang telanjang.
4. Ya Fatimah, tiadalah wanita yang tidak memberikan bantuan kepada tetangganya, melainkan Allah akan menghalanginya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat kelak.
5. Ya Fatimah, yang lebih utama dari segala keutamaan adalah keridhaan suami terhadap istri. Andai suami tidak reda kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu, ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Ya Fatimah, ketika wanita mengandung maka malaikat memohonkan ampunan baginya dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta menghilangkan seribu keburukan. Ketika wanita merasa sakit untuk melahirkan Allah menetapklan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya maka bersihlah dosa-dosanya seperti saat dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Jika meninggal ketika melahirkan maka dia tidak membawa dosa sedikitpun. Baca juga artikel ini.
7. Ya Fatimah tidaklah wanita yang tersenyum di hadapam suaminya melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
8. Ya Fatimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur suaminya dengan rasa senang hati melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya dan Allah mengampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang.
9. Ya Fatimah tidaklah wanita yang melayani suaminya selama sehari semalam dengan senang hati dan ikhlas melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupaya pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah memberikan pahala kepadanya pahala seratus kali beribadah haii dan umrah.
10. Ya Fatimah, tidaklah wanita yang meminyakkan kepala suaminya dan menyikatkanya, meminyakkan jenggot serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah mempermudah sakaratul maut baginya serta kuburnya menjadi bagian taman-taman surga. Allah membebaskannya dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustakim dengan mudah.
Sumber: siti fatimah
Perhatikan ! , Wasiat Rasulullah SAW Untuk Kaum Muslimin di Akhir Zaman
Dari Ma’qil bin Yasar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Beribadahlah pada waktu terjadi al Haraj (pembunuhan) seperti hijrah ke saya.” (HR Muslim, Turmudzi, dan Ibnu Majah)
Dari Zubair bin Adly bahwa ia melaporkan kepada Anas setelah perdebatan, lalu Ia (Anas) berkata, “ Bersabarlah kalian !, Susungguhnya, tidak akan datang pada kalian suatu zaman kecuali yang lebih jelek daripadanya hingga kalian menjumpai Tuhan kalian. Ini saya dengar dari Nabi SAW.” (HR Bukhari dan Turmudzi)
Dari Tsauban ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Sesungguhnya yang paling aku takuti dari umatku adalah para pemimpin yang sesat. Jika meletakkan pedang pada umatku, ia tidak akan mengangkatnya sampai hari kiamat.” (HR Abu daud dan Ibnu Majah)
lanjut ...
Dari Zubair bin Adly bahwa ia melaporkan kepada Anas setelah perdebatan, lalu Ia (Anas) berkata, “ Bersabarlah kalian !, Susungguhnya, tidak akan datang pada kalian suatu zaman kecuali yang lebih jelek daripadanya hingga kalian menjumpai Tuhan kalian. Ini saya dengar dari Nabi SAW.” (HR Bukhari dan Turmudzi)
Dari Tsauban ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Sesungguhnya yang paling aku takuti dari umatku adalah para pemimpin yang sesat. Jika meletakkan pedang pada umatku, ia tidak akan mengangkatnya sampai hari kiamat.” (HR Abu daud dan Ibnu Majah)
lanjut ...
Saturday, July 6, 2013
Napoleon Bonaparte seorang Islam?

Napoleon Bonaparte seorang Islam?
Berita ini disambut gembira umat Islam namun dinafikan oleh mereka yang tidak senang dengan perkara yang mengembirakan umat Islam. Tambahan pula Napoleon Bonaparte itu dimusuhi Inggeris. Tokoh yang menjadi musuh Inggeris dianggap orang jahat…
Seorang penulis bernama Davis Musa Pidcock menulis sebuah buku bertajuk Satanic Voices-Ancient and modern terbit pada tahun 1992 mengatakan Napoleon Bonaparte memeluk Islam pada 02 July 1798 atau 23 tahun sebelum meninggal dunia.
Surat kabar Perancis ‘Le Moniteur’, turut melaporkan berita Napoleon Bonaparte memeluk Islam pada tahun 1798. C.Cherfils Penulis buku ‘Napoleon And Islam’ (ISBN: 967-61-0898-7) turut mengakui kebenaran tersebut.
Majalah Genuine Islam yang diterbitkan di Singapura edisi Oktober 1936 pernah menyiarkan kata-kata Napoleon Bonaparte seperti berikut.
“Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.”
(“Agama-agama itu selalu dikaitkan dengan hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sukar dipahami. Jesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat di dalam agama kita (Kristien); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa.” )
Kata Napoleon Bonaparte lagi:
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”
(Dengan penuh keyakinan saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda di setiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam.)
Akhirnya beliau berkata :
“In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner.”
(Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping. )
Selanjutkan Nepoleon Bonapart mengatakan “Aku telah belajar dari buku ini, dan aku merasa bahwa apabila kaum muslimin mengamalkan aturan-aturan komprehensif buku ini, maka niscaya mereka tidak akan pernah terhinakan.”
Akibatnya Napoleon Bonaparte telah dimusuhi oleh Inggeris dan sekutunya yang membawa kejatuhan Jeneral Perancis yang paling digeruni itu.
Sumber:abdullatip.blogspot.com
Monday, July 1, 2013
SEGO TEMPONG MBOK LEBOH
Mbok Eduk saiki orép dèwèkan (rondo) sakat mari ditinggal mati kang lanang sabené béwén sing, tanggal 12 Mulud 1434 H kepungkur. Ditinggali anak loro’ lanang siji wadon siji, anak lanangé kelas X SMA arané Buwang, wadoné arané Leboh hang magih kelas IX SMP. Mbok Eduk dalu tengah wengi sak wisé sholat hajat ambi wiridan sak bisané mandengi anaké kang turu ring sebelahé yané sholat lail, dadiyo sedilut yané tau mondok, suwi-suwi hing keroso motoné mberebes milei, ènget kang lanang hang wis moléh nyang alam kelanggengan madep Gusti Allah kang nggawè orép, ring njero atiné ngomong: “Wang lan anakisun wadon Leboh... saikei Bapakiro wis hing ono’ wis molèh nyang Gusti kang nggawé orép, hiro kabyèh dadiyo wong kang sholéh lan pintaer supoyo biso njunjung derajaté emak lan bapairo’, ojo dadi wong kang duroko” ; Mbok Eduk terus ndongo :“ Duh Gusti Kang Moho Kuwoso kulo nyuwun dumateng panjenengan Gusti duduhno dalan hang leres kulo lan anak-anak kulo supoyo selamet wonten ndonyo lan akherat, sokanono rejeki hang kathah barokah Gustii Allah Allah Allah ya Rasulullah” : “Washollallahu ‘alaa sayyidina Muhammad wa’alaa aalihi washohbihi, ajma’iin walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, aamiin ya robbal ‘aalamiin “ gedigu iku hang dilakoni Mbok Eduk saben benginék.
Kang Monèk lakiné Mbok Eduk mulo sing ninggali bondo warisan akèh, polaé pegawèani dagang serabudan, dagang paen baén poko’é ngasilaken. Ono usum durèn, manggis, rambutan, poko’é usum wo-wohan paen baén iku hang didagang. Dagangané hang mesti saben dinanék hang sing tau ono asaté gedang. Ring Pasar Songgon kang Monék nggelar dagangané. Tapi serto Kang Monék wis hing ono’ Mbok Eduk hang nggentèni dodolan gedang utowo wo-woan usuman liyané. Gusti Allah kadung arep ngangkat derajaté menungso hing langsung nemu dalan hang énak. Contoné hang dialami Mbok Eduk, bondo lan dodolan wo-woan hang ditinggali lakiné suwi-suwi hing tambyah akèh naming malah sod embuh paran sebabék, dagangan wo-woan biasané ramé hang tukau, saikei hing ramék koyo bengènék. Ujiané Allah nyang Mbok Eduk sakat ditinggal mati hang lanang aboté temenanan. Sangking aboté ngadepi orép soro hang hing biso dinalar. Yo paran dodolan wo-woan hang didasaraken hing pati payau, malah akeh hang podo bosok pungkasanék .... jobrod wéh.
Mbok Eduk wong dasaré tau nyantrei ring pondokan, suwiné yané mondok ambi Pak Kiai tau diwulang masalah agomo bab Aqidah Qodlo Qodar, Ikhtiyar lan Tawakkal. Pak Kiai Dawuh: “Poro santriku kabeh wong orép iku kudu nerimo ing pandum Gusti” ; “wong orép kudu nyambut gawé utowo ngamal”. Mulané dadiyo kendei baén dodolan nerusaken dodolan tinggalane hang lanang terus dilakoni, sholat bengi yo ugo terus dilakoni saben bengi sangking kepinginé biso minteraken anakék, ojo sampek uripe soro koyo yanék. Dalu tengah wengi pas malem Jemuah sak uwise dzikir lan ndongo mageh nganggo rukuk yané ngimpi ditemoni Iyek Anangé hang wis ninggal donyo ngomongi yanék : “ Byéng putunisun siro ojo béngung lan ojo kuwatir”; “ Iman lan sembayangiro hang jejeg lan temenanan” ; “ enggih Nang “ Anangé terus ngomong maning: “ Ojo dodolan wo-woan hiro byèng “ . “ napuwo heh Nang “ eduk takon setengahé heran kok anangé ngomong gedigau. “dodolono liyane baén “ terus Yèk anangé pamit “wis byèng hun nak moléh”. “ nggih Nang “ Mbok Eduk kaget magih nganggo rukuk, jenggirat tangi mlaku nyang ceding wudlu maning terus sholat shubuh.
Masak kanggo sarapan anak-anaké wis dadi kebiasaané mbok Eduk. Jam setengah limo’ Buwang lan Leboh digugai .... sholat sholat wis shubuh. “ Nggih Mak” laré loro mau jenggirat tangi, adus, sholat shubuh terus siap-siap nganggo kelambi seragam sekolah, ambi ngenteni sarapané belajar pelajarane hang arep dipelajari ring sekolahan. Lik byeng kei sarapané wis mateng, sarapono wéh. “ Enggih Mak “ keloronan sarapan sak ananék hang penting wetengé ono isinék. Iwak teri lan sambel terasei sarapan sederhana saben dinanék. Buwang lan Leboh yo hing tahu sambat nyang ema’ék, dasar laré hang taat lan bekti nyang wong tuwèkèk. Jam stengah enem anak-anaké pamit “mak kulo melampah sekolah, pendongané mak” ; “ yo lék byeng ati-ati ring ndalan ojo lali ndongo njaluk selamet“ . “ enggih mak amiin ambi salaman nyang emakék” Serto anaké wis melaku mbok Eduk nyiplang sepidah montoré, nyang pasar ambi nggowo daganganék. Lapak dibokak “Bismillahir Rohmanir Rohiim.... (laris X3) saking kersané Allah” dongané mbok Eduk supoyo dodolané payu. Al hamdulillah dadiyo hithik ono payunék naming yo hing koyo raméné koyo magéh diadepi lakiné bengwèn.
Wis seminggu kepungkur impèn ditemoni Iyèk Anangék hing tau dipikir ambi mbok Eduk. Naming seto mari tahajud, wiridan, yané keturon maning ngimpi ditekani Anangé. Lan isiné impèn hing bido ambi impene hang sabenék. Buru mbok Eduk mikir-mikir pa’en indané yooh artine impènhun ikai ??? Buwang diceluk Lék Wang miniyo tah solong. “ Nggih ènten nopo mak ?” . “ngkésuk Sabtu pelajarané ono hang ulangan tah? ... kadung hing ono’ hiro arep hun jak nang umyahé Pak Yai guruné emak, nggaweka’en surat ijin titipno kancaniro’ enkesuk” . “nggih mak kulo poron” mboten enten ulangan dinten niki mak.
Sabtu esuk adiké wadon wis mari sarapan terus pamitan “ pendongané mak kulo melampah sekolah” . “ yo melakuwo hang ati-atei ojo selaperan myakné selamet lakuniro ring dalan “. Leboh “ enggih mak As salaamu’alaikum Wr. Wb “ . “ Ayo wéh lék melakau myakné hing kawanen gadugé ring konok “ ; “ojo surat-suraté, jakèt lan helmiro myakné selamet “ . Buwang melebu kamar salén celono levi’s jakètan kolét tinggalané tinggalané Bap’ék. Serto Buang metu teko kamaré keroso semendal atiné mbok Eduk weruh anaké wis lancing tanggung hang sagahé hing mbuwang Bap’ék, hing keroso eluhé nètès mberebes milai. “Monggo mpun mak melampah “ . “ yo ayo wéh ... Bismillahi tawakkalnaa ‘alallah laahala walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyul ‘adhiim ... (selamet x3) sangking kersané Allah, laa ilaaha illallah Muhammadur Rosuulullah. Amiin x3 ya robbal ‘aalamiin.
Gadug ring umaé Pak Yai jam setengah songoan gedigau, mbok Eduk uluk salam. “Wa’alaikum salaam” ééé ènten dayoh “ monggo-monggo mbok Aby tasik dluha sampèan rantos kerin, kulo teng wingking kerin. Let sedilut putri Pak Yai ngetoka’en wédang kopi telung cingkir di sosol Pak Yai medal “ Yééé riko Duk ? wis lawas yoh? Hing tau merenék “ . “ nggih Yai .. sak umurané anak kulo nikai’’ ; “ Wis duwanak piro’ ? kok Bapa’é hing dijak ? “ . kerungu pak Yai nyebut Bapa’é hing dijak Eduk meneng motoné ngembung éluh maning nberèbès ring pipinék. Ndeleng Eduk ngéluh motonék Pak Yai meneng ngeningaken roso pikir lan dzikir ambi setengah kagèt : “ Astaghfirullah ... sepuranen hun Duk hang akèh, hunhing weruh”;” Yo talah Duk menungso orép kudu nerimo pandumé Allah, Iman Sabar lan Tawakkal. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun”; “ nggih Yai kulo ihlas “ Eduk terus ngaturaken kelepatan lan : “Sowan kulo ngerikai sepindah silaturrahmi, kaléh nyuwun nasehat , tigho nyuwun pendongo saking Yai” Menenga’en pikir lan dzikir ... “sampèk lalai ayo diombikselak adaem” . “ nggih Yai “ Buwang lan ema’ék terus ngombik bareng pak Yai ... “Al ham dulillah” bareng.
“Wong orép ring ndonyo iku Duk kudu nerimo pandum Gusti Allah, paen hang hiro alami hing hiro dèwèk”. “Kulo kudu kepundai Yai ?” Mbok eduk nyelani dawuhé Yai. “ yo gedigi Duk iki pumpung anakiro ono’ gdigi lék “ Hiro anak lanang hang tuwèk yo kudu bekti nyang mmairo’ ojo nggagal dadi laré’ sebab wong bekti nyang wong tuwèk apik pongkasane’, sebaliké wong hang duroko ambi wong tuwèk kedongsang-dongsang uripék. Hiro sekolah hang patheng myakné biso njunjung derajaté emmak lan bapiro’ hang wis moleh ring alam kelanggengan”. “Enggih Yai” meh byarengan Buang lan ema’ék nyauri Pak Yai. Lan kanggo hiro Duk paen hang hiro impèkaen “ omongé sembyahiro iku lakononok “. Mbok Eduk setengaé rodo kagèt njero atiné ngomong “ kok Pak Yai weruh hun ngimpai padahal hung hing cerito” . Pak Yai nerusaken wejangané nyang Mbok Eduk: “uliiro ngelakoni sholat, tahajud, dzikir lan ndongo saben bengei iku Duk ojo sampék pedhot, malah-malah tambaono dzikir Surat Al Ihlas, lan Surat Al Qodr terus ndongo paen baén in Sya Allah dikabuli lan dijogo gudo rencanané hang duwé sejo hang èlèk nyang hiro’ ”. “Enggih Yai kulo ngertos” èdèng Mbok Eduk nyauri. Serto wis rodo suwi lan akèh-akèh Pak Yai ngwani wejangan, Mbok Eduk terus pamitan moléh. “ Yo wis Duk hang atai-atai ring dalan mugo-mugo dodolaniro lancar”. “Amiin”
Malem Ahad Mbok Eduk sak anakék bareng-bareng ndeleng tipei ambi cekikikan. Hang dideleng OVJ yo pantes baén gemuyuné sampèk cekikikan. Serto wis mari buru podo meneng kabyeh. Byangeté meneng kabyeh Mbok Eduk ngomong nyang anak-anakék: “Wang ... Boh In Sya Allah dino Rebo’ embyèn hun hing dodol wo-woan maning” setengah rodo kagyèt anak-anakék “ Napuwo Mak ? ènten nopo’ ? terus ajeng medamel nopo’ ?” . emak terus nyaut : “ Dodolan sego’ ba’én”;” sego tempong “ ; “ yééh ... kulo ndarani ajeng medamel teng luar negerei ojo Mak ndiko tasik enèm kulo wedos Maak “. “ hiing hun hing kepingin nyang luar, dadiyo picis akèh naming hiro kelèlèran hun emoong” . “ yo enggih pun Maak .. diarani nopo Mak warungék ? “ Leboh takon nyang emaék . “ Kelendei kadung hun arani : “ SEGO TEMPONG MBOK LEBOH “ . Buwang ambi gemuyu cekikikan “saé niku Mak” Leboh protès “ kok aranhun hang diengguk kok hing arané kang Buwang baén?” . Mbok Eduk ngerti hang dikarepaken Leboh “ hiro ésén byèmg?” . “ Yo uwis kadung gedigu peseno tulisan utowo bèner tah lék aranék .. warung “ SEGO TEMPONG MBOK LEBOH “ Sakat dino Rebo’ iku mbok Edok mbokak warung Sego Tempong Mbok Leboh sampék saikei ramé langgananék hing tau sepei, sampék kesuwor nyang endi-endei.
Banyuwangi 13 Rejeb 1434 H / 22 Mei 2013
adulc assonggoni
Kang Monèk lakiné Mbok Eduk mulo sing ninggali bondo warisan akèh, polaé pegawèani dagang serabudan, dagang paen baén poko’é ngasilaken. Ono usum durèn, manggis, rambutan, poko’é usum wo-wohan paen baén iku hang didagang. Dagangané hang mesti saben dinanék hang sing tau ono asaté gedang. Ring Pasar Songgon kang Monék nggelar dagangané. Tapi serto Kang Monék wis hing ono’ Mbok Eduk hang nggentèni dodolan gedang utowo wo-woan usuman liyané. Gusti Allah kadung arep ngangkat derajaté menungso hing langsung nemu dalan hang énak. Contoné hang dialami Mbok Eduk, bondo lan dodolan wo-woan hang ditinggali lakiné suwi-suwi hing tambyah akèh naming malah sod embuh paran sebabék, dagangan wo-woan biasané ramé hang tukau, saikei hing ramék koyo bengènék. Ujiané Allah nyang Mbok Eduk sakat ditinggal mati hang lanang aboté temenanan. Sangking aboté ngadepi orép soro hang hing biso dinalar. Yo paran dodolan wo-woan hang didasaraken hing pati payau, malah akeh hang podo bosok pungkasanék .... jobrod wéh.
Mbok Eduk wong dasaré tau nyantrei ring pondokan, suwiné yané mondok ambi Pak Kiai tau diwulang masalah agomo bab Aqidah Qodlo Qodar, Ikhtiyar lan Tawakkal. Pak Kiai Dawuh: “Poro santriku kabeh wong orép iku kudu nerimo ing pandum Gusti” ; “wong orép kudu nyambut gawé utowo ngamal”. Mulané dadiyo kendei baén dodolan nerusaken dodolan tinggalane hang lanang terus dilakoni, sholat bengi yo ugo terus dilakoni saben bengi sangking kepinginé biso minteraken anakék, ojo sampek uripe soro koyo yanék. Dalu tengah wengi pas malem Jemuah sak uwise dzikir lan ndongo mageh nganggo rukuk yané ngimpi ditemoni Iyek Anangé hang wis ninggal donyo ngomongi yanék : “ Byéng putunisun siro ojo béngung lan ojo kuwatir”; “ Iman lan sembayangiro hang jejeg lan temenanan” ; “ enggih Nang “ Anangé terus ngomong maning: “ Ojo dodolan wo-woan hiro byèng “ . “ napuwo heh Nang “ eduk takon setengahé heran kok anangé ngomong gedigau. “dodolono liyane baén “ terus Yèk anangé pamit “wis byèng hun nak moléh”. “ nggih Nang “ Mbok Eduk kaget magih nganggo rukuk, jenggirat tangi mlaku nyang ceding wudlu maning terus sholat shubuh.
Masak kanggo sarapan anak-anaké wis dadi kebiasaané mbok Eduk. Jam setengah limo’ Buwang lan Leboh digugai .... sholat sholat wis shubuh. “ Nggih Mak” laré loro mau jenggirat tangi, adus, sholat shubuh terus siap-siap nganggo kelambi seragam sekolah, ambi ngenteni sarapané belajar pelajarane hang arep dipelajari ring sekolahan. Lik byeng kei sarapané wis mateng, sarapono wéh. “ Enggih Mak “ keloronan sarapan sak ananék hang penting wetengé ono isinék. Iwak teri lan sambel terasei sarapan sederhana saben dinanék. Buwang lan Leboh yo hing tahu sambat nyang ema’ék, dasar laré hang taat lan bekti nyang wong tuwèkèk. Jam stengah enem anak-anaké pamit “mak kulo melampah sekolah, pendongané mak” ; “ yo lék byeng ati-ati ring ndalan ojo lali ndongo njaluk selamet“ . “ enggih mak amiin ambi salaman nyang emakék” Serto anaké wis melaku mbok Eduk nyiplang sepidah montoré, nyang pasar ambi nggowo daganganék. Lapak dibokak “Bismillahir Rohmanir Rohiim.... (laris X3) saking kersané Allah” dongané mbok Eduk supoyo dodolané payu. Al hamdulillah dadiyo hithik ono payunék naming yo hing koyo raméné koyo magéh diadepi lakiné bengwèn.
Wis seminggu kepungkur impèn ditemoni Iyèk Anangék hing tau dipikir ambi mbok Eduk. Naming seto mari tahajud, wiridan, yané keturon maning ngimpi ditekani Anangé. Lan isiné impèn hing bido ambi impene hang sabenék. Buru mbok Eduk mikir-mikir pa’en indané yooh artine impènhun ikai ??? Buwang diceluk Lék Wang miniyo tah solong. “ Nggih ènten nopo mak ?” . “ngkésuk Sabtu pelajarané ono hang ulangan tah? ... kadung hing ono’ hiro arep hun jak nang umyahé Pak Yai guruné emak, nggaweka’en surat ijin titipno kancaniro’ enkesuk” . “nggih mak kulo poron” mboten enten ulangan dinten niki mak.
Sabtu esuk adiké wadon wis mari sarapan terus pamitan “ pendongané mak kulo melampah sekolah” . “ yo melakuwo hang ati-atei ojo selaperan myakné selamet lakuniro ring dalan “. Leboh “ enggih mak As salaamu’alaikum Wr. Wb “ . “ Ayo wéh lék melakau myakné hing kawanen gadugé ring konok “ ; “ojo surat-suraté, jakèt lan helmiro myakné selamet “ . Buwang melebu kamar salén celono levi’s jakètan kolét tinggalané tinggalané Bap’ék. Serto Buang metu teko kamaré keroso semendal atiné mbok Eduk weruh anaké wis lancing tanggung hang sagahé hing mbuwang Bap’ék, hing keroso eluhé nètès mberebes milai. “Monggo mpun mak melampah “ . “ yo ayo wéh ... Bismillahi tawakkalnaa ‘alallah laahala walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyul ‘adhiim ... (selamet x3) sangking kersané Allah, laa ilaaha illallah Muhammadur Rosuulullah. Amiin x3 ya robbal ‘aalamiin.
Gadug ring umaé Pak Yai jam setengah songoan gedigau, mbok Eduk uluk salam. “Wa’alaikum salaam” ééé ènten dayoh “ monggo-monggo mbok Aby tasik dluha sampèan rantos kerin, kulo teng wingking kerin. Let sedilut putri Pak Yai ngetoka’en wédang kopi telung cingkir di sosol Pak Yai medal “ Yééé riko Duk ? wis lawas yoh? Hing tau merenék “ . “ nggih Yai .. sak umurané anak kulo nikai’’ ; “ Wis duwanak piro’ ? kok Bapa’é hing dijak ? “ . kerungu pak Yai nyebut Bapa’é hing dijak Eduk meneng motoné ngembung éluh maning nberèbès ring pipinék. Ndeleng Eduk ngéluh motonék Pak Yai meneng ngeningaken roso pikir lan dzikir ambi setengah kagèt : “ Astaghfirullah ... sepuranen hun Duk hang akèh, hunhing weruh”;” Yo talah Duk menungso orép kudu nerimo pandumé Allah, Iman Sabar lan Tawakkal. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun”; “ nggih Yai kulo ihlas “ Eduk terus ngaturaken kelepatan lan : “Sowan kulo ngerikai sepindah silaturrahmi, kaléh nyuwun nasehat , tigho nyuwun pendongo saking Yai” Menenga’en pikir lan dzikir ... “sampèk lalai ayo diombikselak adaem” . “ nggih Yai “ Buwang lan ema’ék terus ngombik bareng pak Yai ... “Al ham dulillah” bareng.
“Wong orép ring ndonyo iku Duk kudu nerimo pandum Gusti Allah, paen hang hiro alami hing hiro dèwèk”. “Kulo kudu kepundai Yai ?” Mbok eduk nyelani dawuhé Yai. “ yo gedigi Duk iki pumpung anakiro ono’ gdigi lék “ Hiro anak lanang hang tuwèk yo kudu bekti nyang mmairo’ ojo nggagal dadi laré’ sebab wong bekti nyang wong tuwèk apik pongkasane’, sebaliké wong hang duroko ambi wong tuwèk kedongsang-dongsang uripék. Hiro sekolah hang patheng myakné biso njunjung derajaté emmak lan bapiro’ hang wis moleh ring alam kelanggengan”. “Enggih Yai” meh byarengan Buang lan ema’ék nyauri Pak Yai. Lan kanggo hiro Duk paen hang hiro impèkaen “ omongé sembyahiro iku lakononok “. Mbok Eduk setengaé rodo kagèt njero atiné ngomong “ kok Pak Yai weruh hun ngimpai padahal hung hing cerito” . Pak Yai nerusaken wejangané nyang Mbok Eduk: “uliiro ngelakoni sholat, tahajud, dzikir lan ndongo saben bengei iku Duk ojo sampék pedhot, malah-malah tambaono dzikir Surat Al Ihlas, lan Surat Al Qodr terus ndongo paen baén in Sya Allah dikabuli lan dijogo gudo rencanané hang duwé sejo hang èlèk nyang hiro’ ”. “Enggih Yai kulo ngertos” èdèng Mbok Eduk nyauri. Serto wis rodo suwi lan akèh-akèh Pak Yai ngwani wejangan, Mbok Eduk terus pamitan moléh. “ Yo wis Duk hang atai-atai ring dalan mugo-mugo dodolaniro lancar”. “Amiin”
Malem Ahad Mbok Eduk sak anakék bareng-bareng ndeleng tipei ambi cekikikan. Hang dideleng OVJ yo pantes baén gemuyuné sampèk cekikikan. Serto wis mari buru podo meneng kabyeh. Byangeté meneng kabyeh Mbok Eduk ngomong nyang anak-anakék: “Wang ... Boh In Sya Allah dino Rebo’ embyèn hun hing dodol wo-woan maning” setengah rodo kagyèt anak-anakék “ Napuwo Mak ? ènten nopo’ ? terus ajeng medamel nopo’ ?” . emak terus nyaut : “ Dodolan sego’ ba’én”;” sego tempong “ ; “ yééh ... kulo ndarani ajeng medamel teng luar negerei ojo Mak ndiko tasik enèm kulo wedos Maak “. “ hiing hun hing kepingin nyang luar, dadiyo picis akèh naming hiro kelèlèran hun emoong” . “ yo enggih pun Maak .. diarani nopo Mak warungék ? “ Leboh takon nyang emaék . “ Kelendei kadung hun arani : “ SEGO TEMPONG MBOK LEBOH “ . Buwang ambi gemuyu cekikikan “saé niku Mak” Leboh protès “ kok aranhun hang diengguk kok hing arané kang Buwang baén?” . Mbok Eduk ngerti hang dikarepaken Leboh “ hiro ésén byèmg?” . “ Yo uwis kadung gedigu peseno tulisan utowo bèner tah lék aranék .. warung “ SEGO TEMPONG MBOK LEBOH “ Sakat dino Rebo’ iku mbok Edok mbokak warung Sego Tempong Mbok Leboh sampék saikei ramé langgananék hing tau sepei, sampék kesuwor nyang endi-endei.
Banyuwangi 13 Rejeb 1434 H / 22 Mei 2013
adulc assonggoni
LOKONÉ WONG ORÉP
Udane wis rodo terang, sak mariné sembayang Isya’ kiro-kiro jam woluan hun déwékan mertamu “ Asslaamu’alaikum “ ; “Wa’alaikum salaam” Kang Bodos njawab salam isun. Ring kono ugo ono anake lanang penggarepé muridisun bengén magih sekolah ring SMA..... Adem rasane atai serto dilajoka’en, hun melebu ring kamar tamau, pikiran hang asalè nggerongsang rasané koyo wis nemu padang. Serto let rodo suwé anak penggarepé ngetoka’en widang kopai telung gelas. eLet sedilut maning ono suwarane spidah montor ngarepé umyah mandeg. “Assalaamu’alaikum”, salah sijiné muridé teko merono ; “ Wa ‘alaikum salaam” bareng hang ono ring njero ruangan tamu kompak podo njawab. Dilajoka’en tamu iku mau temokno yo salah siji muridé. “Monggo’ mlebaet .... kebeneran wedang kopiné pas tigo’ nikaei , monggo roh diénum kopinék mumpung tasik anget... kendelan mawon nikai mboten ènten kancanék” omongé Kang Bodos ngasoraken awaké . Hun lan Muridé emèh barengan ngomong : “mboten nopo-nopo’ Kang nikei empun cekap... Kulo saget ketemu sampéan ngèten nikai adeem rasané atei”.
Umyah hang adoh teko raméné kutho Banyuwangi. Adoh teko hang arané keméwahan lan gebyaré donyo, umah hang cilik saiki wis dikeramik bido ambi rongtahun kepungkur; Ukurané kiro-kiro enem lawan songo’. Ono kamar turau akehé loro’, kamar keluarga yo dienggo nonton tipai lan dienggo kamar mangan keluarga pisan; Kamar ngarep hang dienggo nerimo tamau. Umyah hang cilik hang lumayan apik. Tapi masio gedigau hang aran muridé teko merono gentenan baén jarè Kang Bodos. Hang teko merono macem-macem murid hang ditakokaken lan bido-bido keperluanék.
“Monggo’ roh diénum dadiyo mekotan, anu pak gendisé tasék teng ngandap” Kang Bodos mbalèni maning supoyo kopiné podo diombék. Hun ambi muréd iku mau bareng ngiling kopi ring lèpèkan terus let sedilut kopi hun ombék. “ Al hamdulillah “ kopi anget melebu gorokan tambyah padang pikiran lan moto’ adem rasané atèi.
Sak uwisé takon “ dugi nggriyo mawon tah?; mboten jawah tah teng ngriko’; kesehatané keluarga kepundai ; penggawean lan liyo liyanék; terus Kang Bodos mbukak omongé gedigei : “Wong orép néng alam ndonyo’ nikau tan keno kinoyo ngopo”. Kang Bodos mulai cerito’ nyang muridé. Anané Kang Bodos ngomong gedigau, polaé yané ikau asalé bengwèn sak durungé manggon ring kono’ yané lakoné uripé iku soro’. Soroné yané yo mulo kudu gedigau jarénék. Terus Kang Bodos nyeritakaen Lakone Uripé hang wis dilakonai.
Kang Bodos : “ Kulo nikai sengwen tasik anyar-anyaran kaléh tiang istri kulo soro’”
Murid takon : “Soro kepundei Kang”
Kang Bodos : “ Nggéh soro temenanan niko’ , saking soroné urip kulo’ dulur kulo dèwèk nikau mboten ènten hang ajeng teng kulo’, ojo maning nyokani tedanan teng kulo’ jaré basanané; “ tenong-ténongo érég kemureb, ngomong-ngomongo’ ngelirik hing arep”.
Muridé takon kambi rodo’ héran : “ Indané sampék kados mekoten Kang ?”
Kang Bodos : “ Masa-alaah ndiko nikau, kari mboten percados teng kulo’ ”; “ Sampéan tangledaken mpun teng rabin kulo’ “
Muridé : “ Moso mekoten Kang .... yo kari kebyangeten temenan dèrèk ndiko nikau padahal kan niku dèrèk ndiko dèwèk; mandanéyo kadung tiyang lintau yooh Kang? Aju kepundai”;”Sebab kepundiyo mawon hang aran dulur; èlè’o tanpo rupo ibaraté. Hang aran dulur yo tetep dulur, ojo sampék kulo sampéan medotaken seduluran. Jaré hang biso ngomong megotaken suduluran biso ngurangi rijekei.... mekoten tah Kang? “.
Kang Bodos nerusaken ceritanék : “ Yo leres nikau “ ; “ ..... Naming sedoyo niku wau asalé sumber kesalahan dugi kulo dèwèk nikai”.
Murid : “ Leh ndiko nikau .... salah ndiko dèwèk kepundi héh ceritanèk kulo kok dadi tambyah penasaran, padahal sampéan sak nikai saget kulo arani tiyang hang adem ayem mboten enten masalah hang mboten saget sampéan adepai. Sedoyo murid sampéyan dugi Indonesia pucuk wetan sampèk pucuk kulon. Dèrèng hang dugi luar negerei mung kari telpon masalah bèrès mekoten yoroh ? ”
Kang Bodos: “ Mekèten .... “ . kang Bodos ambi rokokan nerusaken ceritanék : “ Sak jané Bapak Emak kulo niku ninggali warisan teng kulo lan dérék kulo niku cukup; Umpomo dienggo urip sak beneré mawon, kulo lan rabin kulo’ nikau cukup, malah-malah saget lebih” ; “ tapi kulo saat nikau kurang nyukuri nopo hang dadi paringané Pengéran”(Gusti Allah).
Murid : “ Mboten nyukuri kepundei séh Kang ” ?
Kang Bodos : “ tasik anak kulo’ buru laér kulo’ niku demen maén “ ; yo kertau , geluthuk, èrèk-èrèk .... buntutan sampék entèk-entèkan warisané dugi Bapak lan Emak kulo’ malah sawahé embok kulo yo katut kulo sadék, yoro empun wéh ? hèh hèh hèh ” Kang Bodos ambi gemuyau; “ Mulai nikau lah kulo sadar éling dawuhé Gusti hang akaryo jagat “ sak temenè Gusti Allah iku hing bakal ngerubyah nasibe menungso kadung menungso iku mau hing gelem ngerubyah déwék” ; ” kadung gedigai terus kelendai tah anak lan rabinisun “ ; “ kulo mulai medamel sak benerék, ésuk sampék bedug kadang sampék sorèn nggolèt pangan turut pesésér ngukuri segoro’ (mancing) kadang angsal kadang mbotaen, nggih dugi angsal kulo mancing nikau hang kulo enggè nedo’ saben dino’ kaléh anak lan rabin kulo’ mekoten terus sampék anak kulo hang nomer tigo laér ” ; “ Embenginék kulo’ pados ilmu nggé sanguné tuwèk, kulo megurau teng Bapak Mertuwan kulo dèwèk, teng poro Kiai, teng sesepuh pundi mawon kulo cecep ilmunék. Naming kulo belajar teng alam yo sering kulo lampahi, alas lan guwo’ pundi mawon sampék teng alas Purwo yoro empun ? nggih kulo lampahi “
Murid : “ Sampéan meguru teng Kiai lan teng alam kepundi nikau Kang ?”
Kang Bodos disambi rokokan maléh nerusaken ceritanék ambi gemuyau meledèk katon untunék hang magéh wotoh dadiyo umuré wis lebéh sewidak loro tahun : “ mekètan yah tiyang gesang ring alam ndonyo nikau ibaraté mung mampir ngombék “ ; “ orép teng ndonyo nikau mboten dangau, mung sedilut mboten ènten umuré sampék sewu tahun, padahal orip hang sak beneré nikau nggih orip sak sampuné pejah nggih tah ? “ ; “ dados hang kulo suwun sagetho orip hang sampurno wonten ndonya lan akhérat menké “ ; “ nggih nikupun hang kulo padosei nopo ten pak Kiai nopo teng alam “
Murid : “ yo enggéh Kang “
Kang Bodos : “ Kulo nikei asliné yo kepéngén sogéh nikau, sinten séh tiyangé hang mboten kepéngén sogéh ? sedoyo tiyang akèh-akèhé yo kpéngén sogéh yoro enggéh ? , naming kulo nyalah dalan kulo’, yo nopo’ umyah sawah warisan mpun èntaen sangking kepinginé tambyah sogéh dienggo maén ( diudokka’en ) “ ; “ warisan mboten tambyah akèh malah tambyah entèk-entèkan héh héh héh” Kang Bodos ambi gemuyu maning.
Murid : “ Slaminé sampéan megurau teng pak Kiai, teng alam lan maksudé ungelé sampéan ... Wong orip ring ndonyo tan keno kinoyo ngopo nikau kepundai ? “
Kang Bodos : “ Mekètaen ... sogéh pangkat derajaté, sehat larané, rjekiné, orép lan matiné menungso nikau hang nggadah pakem mung Gusti Allah; Kulo lan sampéan nikei mung saget ngelampahi nopo kang dadi perintah lan nebihi larangané Gusti Allah” ; “ methenthengo kang kepundei mawon mpun sampéan medamel, sampéan nggolet tombo, nggolet pangkat derajat, tetep kulo sampean kudu tunduk patuh nopo kang dados pakem utowo takdire Gusti Allah” ; “ wajibé kulo sampéan ikhtiyar syaréat lan tawakkal”
Murid : “ sniki sampéan mpun saget istilahé niku murid sampéan hang nggadahi masalah saget maringi pencerahan pepadangé atei niku kepundai Kang ? “
Kang Bodos : “ Kulo nggadah Guru Kiai linuwéh hang maringi snépo teng kulo’ ... “Mbyah kadung sampéan melebu Swargo ojo kiyambekan Mbah, hing enak dèwèkan melebau suwargo nikau, dadiyo kulo yo Sampéan ejak mbyah melebu Suwargo’. Wénaak byareng-byareng melebu Suwargo nikau Mbyah “ Kang Bodos niroks’en omongané Gurunék ; “ Molai niku pun kulo nikei purun mbokak babagan ilmu tuwèk ngantos sak niki-bikai “
Murid : “ masalah nopo mawon “
Kang Bodos : “ Nggih macem-macem masalah contoné masalah ilmu tuwèk yoniku Iman Islam lan Ihlas hang sak beneré “ ; “( pengobatan, pengasihan, kepangkatan, lan kathah maceme masalah ) “ ; “ kirangan nggih sintaen hang nduduai padahal geriyan kulo nyelempit ngetaen nikei yah, tapi ènten mawon hang dugei ngerikei “ ; “ Sedoyo nikau Gusti Allah hang nggadah pakem lan ngersa’aken “ ; “ kulo nikei mung terimo ngelampai lan kulo mboten ènten pamrih nopo-nopok “ ; “ umpomo kulo poron tahun embèn Hajian tahun 1434 kulo dijak hajei, padahal mpun dibetakka’en artho sak tumpuk mbuktekka’en kiyambeké sukses warungé, niku tiyang Papua ngriko’ “ ; “ mung liwat HP kulo saranaken ngarepan warung supados ditanduri tebau cemeng... Alhamdulillah diparingi garus warungék “ : “ naming kulo mboten purun... Tiyang haji niku kan lamun kuwoso’ ngoten tah ? “ . Kiro-kiro pirang dino kepungkur ono penelpon teko Jakarta nuwun solusi, rabine niku meteng nopo penyakit ? kang Bodos namung nyuwun supados maos Surat An Nas ping sepoloh angger mari sembayang limang waktau, lan dikongkon ngombék banyu kelopo hang wis kéréng. Let pirang dino oléh kabyar teko Jakarta jaré ceritane penyakité hang nempel ring rahimé wis ilang waras mari sanking kersané Allah Swt. Malah-malah wong Jakarta nikau ambi keluargané arep dugei ngerikei mung kanggo silaturrahmi lan kesuwun saking syukure maring Allah Swt jaré Kang Bodos.
Murid : “ nggih mpun dangau Kang, mpun méh jam kaleh welas sak dèrèngé wangsul kulo nggih sampean paringi sangau ( ilmu )
Kang Bodos : “ Nggih nikai sampéan tolis ...” Kelimah nikau dilakoni dalu tengah wengai sak sampune sholat tahajud . terus dzikir lan kelimah hang sampean tolis niku wau diwoco terus meneng kaléh ngilangaken roso kepinginan kedonyan, tan keno kesusu ngumbar howo nafsu. Insya Allah Gusti hang moho Agung maringi pituduh hang biso dienggo ngelakoni orip hang sak beneré lan weruh dalané moléh madep Gusti Allah Swt.
Murid : “ Nggih mpun Kang sepuntené lan pendongané mawon “ ; “ Wassalaamu ‘ alaikum warohmatullohi wabarokaatuh “
Kang Bodos : “Wa’alaikum salaam Warohmatullahi Wabarokaatuh “
Serto murid iku mau moléh, hun magéh ring kono keloronan ambi Kang Bodos hang magéh nerusaken ceritoné. Uliyé ngangsu kaweruh merono-merono’ ; sakat uliyé urép soro keloroloro, endi Kiai hang linuwéh diparanei, endi alas lan guwo hang jaré angker yané paranei, dilungguwei ( kholwat ) ; Sangking kepinginé nduwé kaweruh hang luhur, sangking kepinginé weruh sejatiné orép hang sak benerék. Lan sangking kepinginé selamet ring ndonyo lan akherat. “Umpomo angsal rejekei yo rejeki hang berkah dienggo sangu ibadah, ojo sampék rejeki katah tapi mboten berkah. Artiné rejekei niku wau ojo sampék dados alangané kulo sampéan madep teng ngersané Gusti Allah Hang Moho Agung” gedigu ceritané ( Lakoné Wong Orép ) hang magéh dilakoni Kang Bodos.
Hing keroso wés jam hiji bengei, hun gesah ambi Kang Bodos, rasané koyo mung sedilut, paran kang hun rasakka’en orép kang hun lakonei koyo-koyo magéh adoh. Durung gadug kang aran orép sak beneré orép, magéh nggerongsang hing karuwan. Sedurungé pamitan hun njaluk nyang Kang Bodos supoyo mulang muruki isun supoyo weruh Lakoné Wong Orép kang sak beneré. Wurukané Kang Bodos antarané ring ngisor ikei:
1. “ Bejo bejané wong kang lali luwéh bejo wong kang éléng lan waspodho ( RM Ronggowarsito ) artosé kulo sampéan niku kudu ati-ati orép teng ndonyo, sebab kathah sanget alangan lan ma’siat kang saget ngalangi atiné kulo sampéan marek dumateng ngersané Gusti Allah kang Moho Kuwoso”
2. “ Sak empuné sampéan sholat tahajud dalu tengah wengei mantun maoco syahadat istighfar sholawat lan liyoliyané sampéan maos nikei ...... ( sepurané kang kathah mboten tolés teng cerito nikei kanggé ngindari khilafiah ) “ terus sampéan meneng pun lan kudu ihlas ngedohono howo napsau. Insya Allah kirangaen ngkapan ? Sampéan badé angsal hidayah saking Gusti Allah. Lakoné Orép sampéan niku mengké diduduwaken”
Wulangané Kang Bodos buru marei kiro-kiro jam setengah loro bengei hun terus pamitan “wassalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh” Kang Bodos nyalami isun ambi jawab salam “wa’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh” ; “ ngatos-athos pak lan kesuwun rawuh sampéan ” . nggih podho-podho Kang Bodos kulo nggih kesuwun.
Banyuwangi Ditolés : 7 Rejeb 1434 H / 17 Mei 2013 M
adul charli assonggoni
Umyah hang adoh teko raméné kutho Banyuwangi. Adoh teko hang arané keméwahan lan gebyaré donyo, umah hang cilik saiki wis dikeramik bido ambi rongtahun kepungkur; Ukurané kiro-kiro enem lawan songo’. Ono kamar turau akehé loro’, kamar keluarga yo dienggo nonton tipai lan dienggo kamar mangan keluarga pisan; Kamar ngarep hang dienggo nerimo tamau. Umyah hang cilik hang lumayan apik. Tapi masio gedigau hang aran muridé teko merono gentenan baén jarè Kang Bodos. Hang teko merono macem-macem murid hang ditakokaken lan bido-bido keperluanék.
“Monggo’ roh diénum dadiyo mekotan, anu pak gendisé tasék teng ngandap” Kang Bodos mbalèni maning supoyo kopiné podo diombék. Hun ambi muréd iku mau bareng ngiling kopi ring lèpèkan terus let sedilut kopi hun ombék. “ Al hamdulillah “ kopi anget melebu gorokan tambyah padang pikiran lan moto’ adem rasané atèi.
Sak uwisé takon “ dugi nggriyo mawon tah?; mboten jawah tah teng ngriko’; kesehatané keluarga kepundai ; penggawean lan liyo liyanék; terus Kang Bodos mbukak omongé gedigei : “Wong orép néng alam ndonyo’ nikau tan keno kinoyo ngopo”. Kang Bodos mulai cerito’ nyang muridé. Anané Kang Bodos ngomong gedigau, polaé yané ikau asalé bengwèn sak durungé manggon ring kono’ yané lakoné uripé iku soro’. Soroné yané yo mulo kudu gedigau jarénék. Terus Kang Bodos nyeritakaen Lakone Uripé hang wis dilakonai.
Kang Bodos : “ Kulo nikai sengwen tasik anyar-anyaran kaléh tiang istri kulo soro’”
Murid takon : “Soro kepundei Kang”
Kang Bodos : “ Nggéh soro temenanan niko’ , saking soroné urip kulo’ dulur kulo dèwèk nikau mboten ènten hang ajeng teng kulo’, ojo maning nyokani tedanan teng kulo’ jaré basanané; “ tenong-ténongo érég kemureb, ngomong-ngomongo’ ngelirik hing arep”.
Muridé takon kambi rodo’ héran : “ Indané sampék kados mekoten Kang ?”
Kang Bodos : “ Masa-alaah ndiko nikau, kari mboten percados teng kulo’ ”; “ Sampéan tangledaken mpun teng rabin kulo’ “
Muridé : “ Moso mekoten Kang .... yo kari kebyangeten temenan dèrèk ndiko nikau padahal kan niku dèrèk ndiko dèwèk; mandanéyo kadung tiyang lintau yooh Kang? Aju kepundai”;”Sebab kepundiyo mawon hang aran dulur; èlè’o tanpo rupo ibaraté. Hang aran dulur yo tetep dulur, ojo sampék kulo sampéan medotaken seduluran. Jaré hang biso ngomong megotaken suduluran biso ngurangi rijekei.... mekoten tah Kang? “.
Kang Bodos nerusaken ceritanék : “ Yo leres nikau “ ; “ ..... Naming sedoyo niku wau asalé sumber kesalahan dugi kulo dèwèk nikai”.
Murid : “ Leh ndiko nikau .... salah ndiko dèwèk kepundi héh ceritanèk kulo kok dadi tambyah penasaran, padahal sampéan sak nikai saget kulo arani tiyang hang adem ayem mboten enten masalah hang mboten saget sampéan adepai. Sedoyo murid sampéyan dugi Indonesia pucuk wetan sampèk pucuk kulon. Dèrèng hang dugi luar negerei mung kari telpon masalah bèrès mekoten yoroh ? ”
Kang Bodos: “ Mekèten .... “ . kang Bodos ambi rokokan nerusaken ceritanék : “ Sak jané Bapak Emak kulo niku ninggali warisan teng kulo lan dérék kulo niku cukup; Umpomo dienggo urip sak beneré mawon, kulo lan rabin kulo’ nikau cukup, malah-malah saget lebih” ; “ tapi kulo saat nikau kurang nyukuri nopo hang dadi paringané Pengéran”(Gusti Allah).
Murid : “ Mboten nyukuri kepundei séh Kang ” ?
Kang Bodos : “ tasik anak kulo’ buru laér kulo’ niku demen maén “ ; yo kertau , geluthuk, èrèk-èrèk .... buntutan sampék entèk-entèkan warisané dugi Bapak lan Emak kulo’ malah sawahé embok kulo yo katut kulo sadék, yoro empun wéh ? hèh hèh hèh ” Kang Bodos ambi gemuyau; “ Mulai nikau lah kulo sadar éling dawuhé Gusti hang akaryo jagat “ sak temenè Gusti Allah iku hing bakal ngerubyah nasibe menungso kadung menungso iku mau hing gelem ngerubyah déwék” ; ” kadung gedigai terus kelendai tah anak lan rabinisun “ ; “ kulo mulai medamel sak benerék, ésuk sampék bedug kadang sampék sorèn nggolèt pangan turut pesésér ngukuri segoro’ (mancing) kadang angsal kadang mbotaen, nggih dugi angsal kulo mancing nikau hang kulo enggè nedo’ saben dino’ kaléh anak lan rabin kulo’ mekoten terus sampék anak kulo hang nomer tigo laér ” ; “ Embenginék kulo’ pados ilmu nggé sanguné tuwèk, kulo megurau teng Bapak Mertuwan kulo dèwèk, teng poro Kiai, teng sesepuh pundi mawon kulo cecep ilmunék. Naming kulo belajar teng alam yo sering kulo lampahi, alas lan guwo’ pundi mawon sampék teng alas Purwo yoro empun ? nggih kulo lampahi “
Murid : “ Sampéan meguru teng Kiai lan teng alam kepundi nikau Kang ?”
Kang Bodos disambi rokokan maléh nerusaken ceritanék ambi gemuyau meledèk katon untunék hang magéh wotoh dadiyo umuré wis lebéh sewidak loro tahun : “ mekètan yah tiyang gesang ring alam ndonyo nikau ibaraté mung mampir ngombék “ ; “ orép teng ndonyo nikau mboten dangau, mung sedilut mboten ènten umuré sampék sewu tahun, padahal orip hang sak beneré nikau nggih orip sak sampuné pejah nggih tah ? “ ; “ dados hang kulo suwun sagetho orip hang sampurno wonten ndonya lan akhérat menké “ ; “ nggih nikupun hang kulo padosei nopo ten pak Kiai nopo teng alam “
Murid : “ yo enggéh Kang “
Kang Bodos : “ Kulo nikei asliné yo kepéngén sogéh nikau, sinten séh tiyangé hang mboten kepéngén sogéh ? sedoyo tiyang akèh-akèhé yo kpéngén sogéh yoro enggéh ? , naming kulo nyalah dalan kulo’, yo nopo’ umyah sawah warisan mpun èntaen sangking kepinginé tambyah sogéh dienggo maén ( diudokka’en ) “ ; “ warisan mboten tambyah akèh malah tambyah entèk-entèkan héh héh héh” Kang Bodos ambi gemuyu maning.
Murid : “ Slaminé sampéan megurau teng pak Kiai, teng alam lan maksudé ungelé sampéan ... Wong orip ring ndonyo tan keno kinoyo ngopo nikau kepundai ? “
Kang Bodos : “ Mekètaen ... sogéh pangkat derajaté, sehat larané, rjekiné, orép lan matiné menungso nikau hang nggadah pakem mung Gusti Allah; Kulo lan sampéan nikei mung saget ngelampahi nopo kang dadi perintah lan nebihi larangané Gusti Allah” ; “ methenthengo kang kepundei mawon mpun sampéan medamel, sampéan nggolet tombo, nggolet pangkat derajat, tetep kulo sampean kudu tunduk patuh nopo kang dados pakem utowo takdire Gusti Allah” ; “ wajibé kulo sampéan ikhtiyar syaréat lan tawakkal”
Murid : “ sniki sampéan mpun saget istilahé niku murid sampéan hang nggadahi masalah saget maringi pencerahan pepadangé atei niku kepundai Kang ? “
Kang Bodos : “ Kulo nggadah Guru Kiai linuwéh hang maringi snépo teng kulo’ ... “Mbyah kadung sampéan melebu Swargo ojo kiyambekan Mbah, hing enak dèwèkan melebau suwargo nikau, dadiyo kulo yo Sampéan ejak mbyah melebu Suwargo’. Wénaak byareng-byareng melebu Suwargo nikau Mbyah “ Kang Bodos niroks’en omongané Gurunék ; “ Molai niku pun kulo nikei purun mbokak babagan ilmu tuwèk ngantos sak niki-bikai “
Murid : “ masalah nopo mawon “
Kang Bodos : “ Nggih macem-macem masalah contoné masalah ilmu tuwèk yoniku Iman Islam lan Ihlas hang sak beneré “ ; “( pengobatan, pengasihan, kepangkatan, lan kathah maceme masalah ) “ ; “ kirangan nggih sintaen hang nduduai padahal geriyan kulo nyelempit ngetaen nikei yah, tapi ènten mawon hang dugei ngerikei “ ; “ Sedoyo nikau Gusti Allah hang nggadah pakem lan ngersa’aken “ ; “ kulo nikei mung terimo ngelampai lan kulo mboten ènten pamrih nopo-nopok “ ; “ umpomo kulo poron tahun embèn Hajian tahun 1434 kulo dijak hajei, padahal mpun dibetakka’en artho sak tumpuk mbuktekka’en kiyambeké sukses warungé, niku tiyang Papua ngriko’ “ ; “ mung liwat HP kulo saranaken ngarepan warung supados ditanduri tebau cemeng... Alhamdulillah diparingi garus warungék “ : “ naming kulo mboten purun... Tiyang haji niku kan lamun kuwoso’ ngoten tah ? “ . Kiro-kiro pirang dino kepungkur ono penelpon teko Jakarta nuwun solusi, rabine niku meteng nopo penyakit ? kang Bodos namung nyuwun supados maos Surat An Nas ping sepoloh angger mari sembayang limang waktau, lan dikongkon ngombék banyu kelopo hang wis kéréng. Let pirang dino oléh kabyar teko Jakarta jaré ceritane penyakité hang nempel ring rahimé wis ilang waras mari sanking kersané Allah Swt. Malah-malah wong Jakarta nikau ambi keluargané arep dugei ngerikei mung kanggo silaturrahmi lan kesuwun saking syukure maring Allah Swt jaré Kang Bodos.
Murid : “ nggih mpun dangau Kang, mpun méh jam kaleh welas sak dèrèngé wangsul kulo nggih sampean paringi sangau ( ilmu )
Kang Bodos : “ Nggih nikai sampéan tolis ...” Kelimah nikau dilakoni dalu tengah wengai sak sampune sholat tahajud . terus dzikir lan kelimah hang sampean tolis niku wau diwoco terus meneng kaléh ngilangaken roso kepinginan kedonyan, tan keno kesusu ngumbar howo nafsu. Insya Allah Gusti hang moho Agung maringi pituduh hang biso dienggo ngelakoni orip hang sak beneré lan weruh dalané moléh madep Gusti Allah Swt.
Murid : “ Nggih mpun Kang sepuntené lan pendongané mawon “ ; “ Wassalaamu ‘ alaikum warohmatullohi wabarokaatuh “
Kang Bodos : “Wa’alaikum salaam Warohmatullahi Wabarokaatuh “
Serto murid iku mau moléh, hun magéh ring kono keloronan ambi Kang Bodos hang magéh nerusaken ceritoné. Uliyé ngangsu kaweruh merono-merono’ ; sakat uliyé urép soro keloroloro, endi Kiai hang linuwéh diparanei, endi alas lan guwo hang jaré angker yané paranei, dilungguwei ( kholwat ) ; Sangking kepinginé nduwé kaweruh hang luhur, sangking kepinginé weruh sejatiné orép hang sak benerék. Lan sangking kepinginé selamet ring ndonyo lan akherat. “Umpomo angsal rejekei yo rejeki hang berkah dienggo sangu ibadah, ojo sampék rejeki katah tapi mboten berkah. Artiné rejekei niku wau ojo sampék dados alangané kulo sampéan madep teng ngersané Gusti Allah Hang Moho Agung” gedigu ceritané ( Lakoné Wong Orép ) hang magéh dilakoni Kang Bodos.
Hing keroso wés jam hiji bengei, hun gesah ambi Kang Bodos, rasané koyo mung sedilut, paran kang hun rasakka’en orép kang hun lakonei koyo-koyo magéh adoh. Durung gadug kang aran orép sak beneré orép, magéh nggerongsang hing karuwan. Sedurungé pamitan hun njaluk nyang Kang Bodos supoyo mulang muruki isun supoyo weruh Lakoné Wong Orép kang sak beneré. Wurukané Kang Bodos antarané ring ngisor ikei:
1. “ Bejo bejané wong kang lali luwéh bejo wong kang éléng lan waspodho ( RM Ronggowarsito ) artosé kulo sampéan niku kudu ati-ati orép teng ndonyo, sebab kathah sanget alangan lan ma’siat kang saget ngalangi atiné kulo sampéan marek dumateng ngersané Gusti Allah kang Moho Kuwoso”
2. “ Sak empuné sampéan sholat tahajud dalu tengah wengei mantun maoco syahadat istighfar sholawat lan liyoliyané sampéan maos nikei ...... ( sepurané kang kathah mboten tolés teng cerito nikei kanggé ngindari khilafiah ) “ terus sampéan meneng pun lan kudu ihlas ngedohono howo napsau. Insya Allah kirangaen ngkapan ? Sampéan badé angsal hidayah saking Gusti Allah. Lakoné Orép sampéan niku mengké diduduwaken”
Wulangané Kang Bodos buru marei kiro-kiro jam setengah loro bengei hun terus pamitan “wassalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh” Kang Bodos nyalami isun ambi jawab salam “wa’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh” ; “ ngatos-athos pak lan kesuwun rawuh sampéan ” . nggih podho-podho Kang Bodos kulo nggih kesuwun.
Banyuwangi Ditolés : 7 Rejeb 1434 H / 17 Mei 2013 M
adul charli assonggoni
Subscribe to:
Posts (Atom)